Jumat, 15 Mei 2026

Pejabat The Fed Pertimbangkan Suku Bunga Setelah Lonjakan Inflasi Konsumen

Penulis : Grace El Dora
11 Mei 2024 | 14:00 WIB
BAGIKAN
Gedung Federal Reserve berdiri di Washington, Amerika Serikat pada 3 April 2012. (Foto: REUTERS/Joshua Roberts/File Foto)
Gedung Federal Reserve berdiri di Washington, Amerika Serikat pada 3 April 2012. (Foto: REUTERS/Joshua Roberts/File Foto)

WASHINGTON, investor.id – Para pejabat The Federal Reserve (The Fed) kembali mempertimbangkan apakah suku bunga Amerika Serikat (AS) sudah cukup tinggi. Perdebatan semakin mendalam di kalangan pejabat minggu ini, mungkin dipicu lebih lanjut setelah survei penting menunjukkan adanya lonjakan ekspektasi inflasi konsumen.

"Ada... risiko kenaikan penting terhadap inflasi yang ada dalam pikiran saya, dan saya pikir ada juga ketidakpastian mengenai seberapa ketat kebijakan tersebut dan apakah kebijakan tersebut cukup membatasi (untuk mengembalikan inflasi ke target 2%)," ungkap Presiden Fed Dallas Lorie Logan dalam konferensi Asosiasi Bankir Louisiana di New Orleans, AS pada Jumat (10/5/2024).

"Saya rasa masih terlalu dini untuk berpikir mengenai penurunan suku bunga... Saya rasa saya perlu melihat beberapa ketidakpastian ini diselesaikan mengenai jalur yang kita jalani, dan kita harus tetap sangat fleksibel," tambahnya.

ADVERTISEMENT

Logan juga tidak secara langsung membahas apakah ia merasa The Fed mungkin perlu kembali menaikkan suku bunga acuannya dari kisaran 5,25%-5,50% yang telah dipertahankan sejak Juli 2024.

Banyak pejabat bank sentral AS, termasuk Gubernur The Fed Jerome Powell, mengatakan mereka masih menganggap kenaikan suku bunga lebih lanjut tidak diperlukan.

Mengutip laporan Reuters, Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic membenarkan dirinya masih merasa inflasi kemungkinan baru akan melambat berdasarkan kebijakan moneter saat ini.

Pernyataannya menyiratkan kemungkinan bank sentral untuk mulai menurunkan suku bunga kebijakannya pada 2024, meskipun mungkin hanya seperempat poin persentase atau 25 basis poin (bps) dan baru dilakukan menjelang akhir tahun.

“Saya masih mempunyai keyakinan (meskipun) hal ini akan memakan waktu (untuk memastikan inflasi turun),” tutur Bostic pada Kamis (9/5/2024).

Data survei yang dirilis Jumat memberikan kejutan yang tidak diharapkan ke arah yang salah terhadap metrik yang diawasi dengan cermat oleh para regulator The Fed.

Ekspektasi inflasi tahun depan dalam survei sentimen konsumen Universitas Michigan naik dari 3,2% menjadi 3,5% pada Mei 2024, level tertinggi sejak November 2023.

Pembalikan arah kebijakan The Fed dalam satu bulan mungkin tidak signifikan. Namun, jika hal ini terus berlanjut, maka hal akan menantang penilaian The Fed yang menyatakan ekspektasi inflasi “tertahan”. Jelas, ini juga akan menambah argumen yang dibuat oleh Logan dan beberapa pihak lainnya yang mengatakan suku bunga masih rendah untuk menyelesaikan perlawanan terhadap inflasi.

Ukuran inflasi pilihan The Fed, yaitu indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), naik pada tingkat tahunan sebesar 2,7% pada Maret 2024. Hanya sedikit kemajuan yang terlihat dalam tiga bulan pertama tahun ini.

Data Universitas Michigan dirilis setelah Logan memulai pidato dan dia tidak membahas data itu.

Ekspektasi yang kuat dianggap oleh para pejabat The Fed sebagai tanda penting kredibilitas mereka, merupakan bantuan dalam mengembalikan inflasi ke angka 2%.

Dalam sebuah esai yang diterbitkan awal pekan ini, Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari juga mengemukakan kemungkinan suku bunga mungkin tidak cukup membatasi, mengingat berlanjutnya kekuatan ekonomi AS, khususnya pasar perumahan.

“Sulit bagi saya untuk menjelaskan kuatnya aktivitas ekonomi yang terus berlanjut. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang seberapa ketatnya kebijakan yang membatasi,” ujar Kashkari.

Sebaliknya, Presiden Fed San Francisco Mary Daly mengatakan ada kemungkinan suku bunga "netral" AS telah naik sedikit. Ia menyiratkan tingkat suku bunga kebijakan acuan mana pun tidak akan terlalu bergantung pada aktivitas perekonomian dibandingkan sebaliknya.

Namun dia mengatakan solusi bagi The Fed dalam hal ini adalah mempertahankan suku bunga kebijakannya pada tingkat saat ini untuk jangka waktu yang lebih lama.

“(Bahkan jika tingkat netralnya lebih tinggi) kami masih memiliki kebijakan yang membatasi, dan itulah yang kami inginkan. Tetapi mungkin diperlukan lebih banyak waktu untuk... menurunkan inflasi,” pungkas Daly.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 39 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 43 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 3 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 3 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia