Negara-Negara di Asean Bisa Saling Bersaing, Namun Tetap Adil
JAKARTA, investor.id – Secretary General, International Economic Association Lead Advisor (Southeast Asia Region), Lili Yan Ing mengatakan, tak ada yang salah dengan persaingan dagang antara negara-negara anggota Asean, tetapi blok tersebut harus memastikan bahwa semua negara memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil.
Sepuluh negara di Asean mengekspor komoditas yang sama. Misalnya, Indonesia dan Malaysia adalah produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Kedua negara tetangga dekat ini menghasilkan lebih dari 80% dari total produksi minyak kelapa sawit global. Indonesia dan Thailand juga merupakan negara penghasil karet terkemuka. Di tengah persaingan ini, penting untuk mendorong persaingan yang adil antara semua negara anggota.
Baca Juga:
Meredam Tekanan Perekonomian di Asean“Persaingan mendorong kita untuk berinovasi dan menghasilkan produk yang lebih baik dengan harga yang lebih rendah. Persaingan itu baik asalkan ada kesetaraan,” kata Lili dalam sebuah diskusi di BNI Investor Daily Summit 2024, di JCC Senayan, Jakarta, pada Rabu (9/10/2024).
Asean telah mengupayakan integrasi ekonomi regional dengan mengamankan perjanjian perdagangan bebas (free trade agreements/FTA). Ini termasuk Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), sebuah pakta perdagangan terbesar di dunia berdasarkan produk domestik bruto (PDB) negara-negara anggota, yang diikuti oleh ke-10 negara anggota Asean.
Lima negara anggota RCEP lainnya merupakan mitra dagang eksternal Asean, yaitu China, Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru. Menurut Ing, integrasi ekonomi yang dibawa oleh FTA dapat membuka jalan bagi kesempatan yang sama bagi para pelaku bisnis Asean.
“FTA, perjanjian investasi, dan kerja sama ekonomi lainnya adalah kunci untuk memastikan kita bisa memiliki persaingan yang setara (dalam kompetisi ini). Jadi semua bisnis berada dalam persaingan yang adil, bisa memiliki akses pasar yang baik, dan biaya modal yang lebih rendah. Itulah esensi Asean,” kata Lili.
Ekonom senior itu juga mendorong Asean untuk menjadi pusat produksi regional yang memberikan pergerakan bebas barang dan tenaga kerja terampil di antara negara-negara anggota.
Asean membukukan perdagangan barang senilai US$ 3,8 triliun sepanjang tahun 2022, sekitar 22,3% di antaranya terjadi di dalam kawasan. Sisanya, 77,7%perdagangan barang merupakan interaksi Asean dengan mitra eksternalnya.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






