Trump Tunda Tarif Baru untuk Meksiko Selama Satu Bulan
WASHINGTON, investor.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda penerapan tarif baru terhadap Meksiko selama satu bulan. Setelah pemerintah Meksiko setuju untuk memperketat pengawasan perbatasan utara dengan menambah 10 ribu anggota Garda Nasional.
Kesepakatan ini diumumkan pada Senin (3/2/2025) atau Selasa dini hari waktu Indonesia dan bertujuan untuk menekan arus perdagangan narkotika ilegal.
Selain itu, AS juga berkomitmen untuk mencegah penyelundupan senjata berkaliber tinggi ke Meksiko, sebagaimana disampaikan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum melalui platform X.
Keduanya berbicara melalui telepon, hanya sejam sebelum tarif terhadap Meksiko, China, dan Kanada dijadwalkan berlaku, yang diperkirakan akan memberikan dampak ekonomi besar, termasuk kenaikan harga bagi pelaku usaha dan konsumen di AS.
Trump mengumumkan AS dan Meksiko akan memanfaatkan jeda satu bulan ini untuk melakukan negosiasi lebih lanjut. "Saya menantikan perundingan ini bersama Presiden Sheinbaum guna mencapai kesepakatan terbaik bagi kedua negara," tulis Trump di media sosial Truth.
Sementara Sheinbaum menambahkan, pihaknya memiliki waktu satu bulan untuk bekerja dan meyakinkan satu sama lain bahwa ini adalah langkah terbaik ke depan.
Meski Meksiko mendapat penangguhan tarif, Trump tetap bersikap keras terhadap Kanada dan China. Tarif untuk kedua negara ini tetap dijadwalkan berlaku mulai Selasa (4/2/2025) pukul 12:01 pagi waktu setempat.
Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau telah berbicara dengan Trump dan akan mengadakan diskusi lanjutan. Namun, pejabat Kanada pesimistis mengenai kemungkinan adanya penundaan tarif seperti yang diterima Meksiko.
Dampak dari ketegangan perdagangan ini menyebabkan pasar keuangan global mengalami penurunan. Indeks S&P 500 sempat turun 0,6% sebelum kembali mengurangi kerugiannya setelah pengumuman jeda tarif untuk Meksiko. Mata uang peso Meksiko juga mendapat sedikit pemulihan setelah pengumuman tersebut.
Eropa Jadi Target
Trump mengisyaratkan bahwa Uni Eropa (UE) bisa menjadi target tarif berikutnya, mengklaim bahwa blok tersebut kurang adil dalam perdagangan dengan AS. "Mereka tidak menerima mobil atau produk pertanian kami, sementara kami menerima hampir semua produk mereka," ujar Trump.
Namun, para pemimpin UE, yang bertemu di Brussel, menyatakan kesiapan untuk melawan jika AS benar-benar menerapkan tarif. Kanselir Jerman Olaf Scholz menegaskan bahwa UE bisa saja membalas dengan tarifnya sendiri, tetapi menekankan pentingnya mencapai kesepakatan perdagangan yang adil.
Ekonom memperingatkan bahwa tarif baru Trump dapat memperlambat pertumbuhan global dan menyebabkan lonjakan harga bagi konsumen AS. Kamar Dagang Internasional memperkirakan ekspor Meksiko bisa turun 10%, mengakibatkan penurunan 4% pada PDB negara tersebut dalam satu tahun. Kanada juga diperkirakan mengalami penurunan 2,6% dalam PDB akibat kebijakan ini.
Di tengah ketidakpastian ini, harga minyak AS naik 0,5%, sementara harga bensin melonjak lebih dari 2%. Analis ING menyatakan bahwa penerapan tarif pada hampir setengah dari seluruh impor AS akan menuntut peningkatan produksi manufaktur domestik dalam jumlah besar—sesuatu yang sulit dilakukan dalam jangka pendek.
China dan Kanada sama-sama berencana menggugat kebijakan tarif Trump melalui badan perdagangan internasional. Sementara itu, Gedung Putih belum menjelaskan langkah-langkah spesifik yang harus diambil Kanada dan China untuk menghindari tarif tersebut.
Trump menegaskan bahwa sanksi ini akan tetap berlaku sampai berakhirnya status darurat nasional terkait fentanyl dan imigrasi ilegal. China menyebut krisis fentanyl sebagai "masalah Amerika" dan memperingatkan bahwa kebijakan ini bisa semakin memperburuk hubungan perdagangan global.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






