Jumat, 15 Mei 2026

Menlu Sugiono Tegaskan Indonesia Akui Prinsip Satu China

Penulis : Grace El Dora
23 Apr 2025 | 07:14 WIB
BAGIKAN
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono, Menlu China Wang Yi, Menteri Pertahanan China Dong Jun dalam konferensi pers di Wisma Negara Diaoyutai, Beijing, China pada Senin (21/4/2025). (Foto: ANTARA/ Desca Lidya Natalia)
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono, Menlu China Wang Yi, Menteri Pertahanan China Dong Jun dalam konferensi pers di Wisma Negara Diaoyutai, Beijing, China pada Senin (21/4/2025). (Foto: ANTARA/ Desca Lidya Natalia)

BEIJING, investor.id – Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menegaskan Indonesia mengakui prinsip "Satu China" dalam kebijakan luar negeri Indonesia.

"Indonesia menganut kebijakan luar negeri ‘Satu China’ (One China), sehingga persoalan mengenai Taiwan, Xinjiang maupun Hong Kong adalah masalah dalam negeri China dan Indonesia tidak ada keinginan untuk mencampurinya karena jelas hal-hal tersebut adalah urusan internal China," kata Menlu Sugiono di Wisma Negara Diaoyutai seperti dikutip pada Rabu (23/4/2025).

Menlu Sugiono menyampaikan hal tersebut dalam 2+2 Pertemuan Tingkat Menteri Pertama China-Indonesia pada Senin (21/4/2025) bersama dengan Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin, Menlu China Wang Yi, dan Menhan China Dong Jun.

ADVERTISEMENT

Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden China Xi Jinping pada 9 November 2024 yang mencapai kesepakatan kedua negara akan bekerja sama di lima pilar yaitu politik, ekonomi, pertukaran masyarakat, maritim dan keamanan.

"Kemi menegaskan bahwa masyarakat dan pemerintah Indonesia, termasuk pihak militer secara konsisten menghormati China dalam isu Taiwan sedangkan soal Laut China Selatan (LCS), seperti yang Anda sampaikan bahwa ada tensi di sana dan punya potensi terjadinya eskalasi, kami ingin agar dialog terus dilakukan dan akhirnya menciptakan stabilitas di kawasan," papar Menlu Sugiono.

Dalam pertemuan itu, Menlu Wang Yi mengatakan pilar keamanan dan pembangunan seperti dua roda sepeda yang harus seimbang dalam kebijakan pemerintahan.

"China mengapresiasi Indonesia yang mendukung prinsip ‘Satu China’ dan kami kami yakin Indonesia akan terus mendukung posisi China di termasuk soal Taiwan, Xinjiang, Xizang (Tibet) dan Hong Kong, karena ini adalah masalah internal China dan pada saat yang sama, China juga akan mendukung Indonesia dalam isu-isu internasional," kata Wang Yi.

Di bidang keamanan dan kedaulatan, Wang Yi mengatakan ada dua isu utama dari China yang diharapkan dapat didukung oleh Indonesia.

"Pertama soal Taiwan, Partai Progresif Demokratik (DPP) bersikeras untuk untuk isu kemerdekaan, padahal sesuai dengan Deklarasi Kairo dan Deklarasi Potsdam bahwa Taiwan dikembalikan dari Jepang," ungkap Wang Yi.

Menurut Wang Yi, Deklarasi Kairo pada 1943 secara tegas menuntut semua wilayah yang diambil Jepang dari China termasuk Taiwan di Pulau Formosa dikembalikan ke China. Selanjutnya, Deklarasi Potsdam 1945 menetapkan ketentuan Deklarasi Kairo harus dilaksanakan.

Masalah kedua adalah soal kelanjutan perundingan untuk membuat Kode Pedoman Perilaku Para Pihak (Code of Conduct/ CoC) dapat terus dilanjutkan.

"Dengan adanya CoC maka ada pendekatan kolaboratif di Laut China Selatan dan dapat diikuti oleh semua pihak. Kami berharap Indonesia dapat memainkan peran lebih besar dalam negosiasi sehingga dapat menjaga stabilitas di Laut China Selatan," tambah Wang Yi.

Wang Yi pun berharap agar China dan ASEAN jangan mau dipecah oleh pihak luar yang ingin membuat hubungan keduanya tegang.

"Bila China dan ASEAN damai maka tidak ada kesempatan bagi mereka untuk mencampuri urusan dalam negeri kita, tapi percayalah China tidak akan melakukan aksi unilateral dan membuat masalah di kawasan," ungkapnya.

Sementara itu, Menhan China Dong Jun mengatakan Amerika Serikat (AS) terus mendukung aksi separatisme di Taiwan dan China harus melakukan latihan militer untuk melakukan upaya penggentaran terhadap gerakan separatisme di Taiwan dan mencegah AS ikut campur di Taiwan.

"Tujuan kami adalah reunifikasi Taiwan dan kami akan selalu mendukung reunifikasi dengan cara apa pun," beber Dong Jun.

Masalahnya, ungkap Dong Jun, AS mengerahkan sistem rudal jarak menengah Angkatan Darat ke Filipina utara. Sistem rudal Typhon itu merupakan senjata berbasis darat yang bisa menembakkan Rudal Standar-6 dan Rudal Serang Darat Tomahawk sebagai bagian dari latihan tempur gabungan tentara AS dan Fipilina pada Oktober 2024.

"Hal ini tentu berbahaya untuk keamanan kawasan," pungkasnya.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 8 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 40 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 51 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 55 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia