Jumat, 15 Mei 2026

AS Sanksi Perusahaan yang Kirim Minyak Iran ke China

Penulis : Grace El Dora
14 Mei 2025 | 09:48 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi kapal minyak. (Foto: Bloomberg)
Ilustrasi kapal minyak. (Foto: Bloomberg)

WASHINGTON, investor.id – Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi kepada lebih dari 20 perusahaan dalam jaringan yang disebutnya telah lama mengirim minyak Iran ke China. Pukulan ini dilancarkan hanya beberapa hari setelah negosiator dari Iran dan AS mengakhiri putaran keempat perundingan nuklir.

Jaringan tersebut memfasilitasi pengiriman minyak senilai miliaran dolar ke China atas nama Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran dan perusahaan terdepannya, Sepehr Energy, kata Departemen Keuangan. Pemerintah AS menunjuk Sepehr untuk jabatan tersebut pada 2023.

Pemerintah AS menjatuhkan sanksi kepada perusahaan-perusahaan termasuk CCIC Singapore Pte Ltd, yang disebutnya membantu Sepehr dengan menyembunyikan asal minyak dari Iran dan melakukan inspeksi pra-pengiriman yang diperlukan sebelum minyak dikirim ke China. AS juga menjatuhkan sanksi kepada Huangdao Inspection and Certification Co Ltd karena telah membantu Sepehr dengan layanan inspeksi kargo minyak ke kapal-kapal yang telah dikenai sanksi.

ADVERTISEMENT

Departemen Keuangan negara itu juga memberikan sanksi kepada Qingdao Linkrich International Shipping Agency Co Ltd, yang katanya telah membantu kapal-kapal sewaan Sepehr Energy dengan kedatangan dan pembongkaran di Pelabuhan Qingdao sebagai agen pelabuhan yang ditunjuk.

Penjualan minyak tersebut membantu mendanai pengembangan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) Iran, proliferasi nuklir, dan serangan oleh kelompok militan Houthi terhadap pengiriman di Laut Merah, Angkatan Laut AS, dan Israel, kata pemerintahan Presiden Donald Trump.

"AS akan terus menargetkan sumber pendapatan utama ini, selama rezim tersebut terus mendukung terorisme dan proliferasi senjata mematikan," kata Menteri Keuangan Scott Bessent dalam sebuah pernyataan seperti dikutip Reuters, Rabu (14/5/2025).

Kedutaan Besar China di Washington dan misi Iran di New York belum memberi komentar.

Sanksi yang baru diterapkan ini adalah yang terbaru sejak Trump memberlakukan kembali kampanye "tekanan maksimum" terhadap Iran pada Februari 2025. Pemerintahan Trump sejak 2025 telah menjatuhkan sanksi pada kilang minyak "teko" independen China untuk memproses minyak Iran.

Sanksi tersebut memblokir aset AS milik mereka yang ditunjuk dan mencegah warga Amerika berbisnis dengan mereka.

Tekanan pada Bank-bank China

Langkah-langkah yang diberlakukan AS dalam beberapa bulan terakhir telah meningkatkan tekanan pada Iran dan China. Analis mengatakan untuk memberikan dampak yang lebih luas pada ekspor minyak, pemerintah AS harus mengenakan sanksi pada target yang lebih besar seperti bank-bank China.

Dalam apa yang bisa menjadi peningkatan tekanan, Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri (OFAC) Departemen Keuangan AS mengenakan sanksi pada Selasa (13/5/2025) pada jaringan tersebut di bawah otoritas antiterorisme.

Jeremy Paner selaku mitra di firma hukum Hughes Hubbard & Reed dan mantan penyelidik sanksi Departemen Keuangan AS mengatakan otoritas antiterorisme memberi OFAC fleksibilitas untuk mengenakan jenis sanksi yang paling mungkin digunakan terhadap bank-bank besar China.

"Saya percaya tindakan hari ini lebih tentang triangulasi dengan memberikan tekanan pada China untuk meyakinkan Iran agar menerima kesepakatan dalam perundingan nuklir," kata Paner.

"Bank-bank China memiliki pemahaman yang relatif canggih tentang cara kerja sanksi AS. Mereka tahu risiko yang mereka hadapi cukup tinggi jika mereka terus bertransaksi dengan perusahaan-perusahaan yang dikenai sanksi berdasarkan otoritas antiterorisme," lanjutnya.

Adapun pemerintah Iran dan AS sama-sama mengatakan, mereka lebih memilih diplomasi untuk menyelesaikan sengketa nuklir yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Tetapi mereka tetap terpecah belah dalam beberapa garis merah termasuk pengayaan uranium di Iran.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 5 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 9 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 47 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 51 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia