Sabtu, 4 April 2026

AS Diprediksi Alami Ledakan Investasi Nuklir untuk Penuhi Kebutuhan AI

Penulis : Grace El Dora
30 Sep 2025 | 23:26 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi pengolahan energi nuklir.
Ilustrasi pengolahan energi nuklir.

WASHINGTON, investor.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan mengalami lonjakan investasi energi nuklir untuk memenuhi meningkatnya kebutuhan permintaan listrik akibat pusat data (data center) yang menjalankan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI). Nilai investasinya diperkirakan mencapai US$ 350 miliar hingga 2050.

Menurut laporan Bloomberg Intelligence (BI) yang dikutip Selasas (30/9/2025), lonjakan investasi itu akan meningkatkan kapasitas pembangkit nuklir AS sebesar 63% menjadi 159 gigawatt (GW) pada 2050. Tambahan kapasitas tersebut setara dengan pembangunan 53 GW reaktor baru.

BI menilai energi nuklir akan menjadi sumber daya penting karena ramah karbon, meski pengembangannya masih menghadapi kendala. Hambatan utama mencakup biaya tinggi, minimnya tenaga kerja terampil, pasokan bahan bakar domestik, serta regulasi yang ketat. Sejak tahun 2000, hanya tiga reaktor konvensional yang berhasil diselesaikan di AS, dan saat ini tidak ada proyek reaktor besar yang tengah dibangun.

Advertisement

Meski begitu, BI menegaskan tenaga nuklir di AS siap untuk bangkit kembali.

Pemerintahan presiden as sebelumnya Joe Biden menargetkan kapasitas nuklir AS bisa meningkat tiga kali lipat pada 2050. Sementara Presiden Donald Trump, melalui perintah eksekutif pada Mei 2025, mendorong agar kapasitas reaktor bahkan bisa naik hingga empat kali lipat.

AS Diprediksi Alami Ledakan Investasi Nuklir untuk Penuhi Kebutuhan AI
AS akan menghabiskan lebih dari US$ 350 miliar untuk tenaga nuklir hingga 2050. (Sumber: Bloomberg Intelligence)

Gelombang baru investasi nuklir diproyeksikan akan lebih banyak mengandalkan teknologi small modular reactors (SMR), yang digadang-gadang sebagai generasi baru pembangkit nuklir berbiaya lebih rendah dan lebih cepat dipasang. Namun, hingga kini belum ada satupun SMR yang dibangun di AS, meskipun puluhan perusahaan tengah mengembangkan desainnya.

BI memperkirakan pertumbuhan kapasitas akan berlangsung bertahap. Dalam satu dekade mendatang, hanya sekitar 9 GW kapasitas baru yang akan ditambahkan. Penerapan luas SMR diperkirakan baru akan terjadi setelah 2035.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Lifestyle 4 menit yang lalu

Jadi Destinasi Favorit Libur Paskah, 30 Ribu Pengunjung Padati Kawasan Ancol

Kawasan Ancol jadi destinasi favorit masyarakat untuk mengisi libur panjang akhir pekan. Diperkirakan ada 30 ribu pengunjung datang hari ini
Market 20 menit yang lalu

WOM Finance (WOMF) Tebar Dividen 30% dari Laba, Ini Jadwalnya

PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk atau WOM Finance (WOMF) berencana menebar dividen tunai 30% dari laba tahun 2025.
Lifestyle 28 menit yang lalu

Cara Daikin Dongkrak Kepercayaan Konsumen 

Saat ini AC tidak hanya sekadar pemberi kesejukan, melainkan juga menjadi pendukung bagi produktivitas.
International 1 jam yang lalu

Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang

Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.
Market 1 jam yang lalu

Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.
Business 2 jam yang lalu

Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data 

Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah Putih

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia