Tensi Memanas, Trump Sebut Pergantian Kekuasaan di Iran Jadi Opsi Terbaik
WASHINGTON, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa pergantian kekuasaan di Iran akan menjadi "hal terbaik yang bisa terjadi." Pernyataan ini muncul di tengah pertimbangan serius pemerintah AS untuk mengambil tindakan militer terhadap Teheran.
Trump menyampaikan hal tersebut usai mengunjungi pasukan di Ft. Bragg, North Carolina, Jumat (13/2/2026) waktu setempat, seperti dikutip Associated Press, Sabtu (14/2/2026). Pada hari yang sama, ia mengonfirmasi pengerahan gugus tempur kapal induk kedua ke Timur Tengah sebagai sinyal peringatan keras bagi Republik Islam tersebut.
Misi Lebih dari Sekadar Nuklir
Meskipun Trump sebelumnya memprioritaskan pengurangan program nuklir Iran, ia kini mensyaratkan konsesi yang lebih luas. Langkah ini sejalan dengan desakan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, yang menginginkan kesepakatan apa pun mencakup penghentian program rudal balistik Iran serta penghentian pendanaan bagi kelompok proksi seperti Hamas dan Hizbullah.
"Jika kita melakukannya (serangan), target program nuklir hanyalah bagian kecil dari misi tersebut," tegas Trump. Saat ini, Iran dilaporkan telah memperkaya uranium hingga kemurnian 60%, hanya selangkah teknis menuju level senjata nuklir.
Dua Kapal Induk Mengepung Teheran
AS kini mengerahkan USS Gerald R. Ford, kapal perang induk terbesar di dunia, untuk bergabung dengan USS Abraham Lincoln yang sudah berada di kawasan tersebut. Kehadiran dua kapal induk ini akan melipatgandakan jumlah pesawat jet tempur dan amunisi yang siap sedia di lepas pantai Iran.
"Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan membutuhkannya (kekuatan militer)," ujar Trump. Meski begitu, ia masih menyisakan ruang diplomasi kecil.
"Berikan kami kesepakatan yang seharusnya mereka berikan sejak awal. Jika kesepakatannya tepat, kami tidak akan melakukan serangan," kata dia.
Tekanan Internal di Teheran
Situasi di dalam negeri Iran sendiri sedang bergejolak. Rakyat Iran mulai mengadakan upacara peringatan 40 hari bagi ribuan korban yang tewas dalam tindakan keras pemerintah terhadap protes nasional bulan lalu. Hal ini menambah beban bagi rezim Ayatollah Ali Khamenei yang sudah terhimpit sanksi ekonomi.
Namun, pengerahan kapal induk dalam jangka panjang ini juga menimbulkan kekhawatiran di internal militer AS. Pejabat tinggi Angkatan Laut AS mencatat penugasan yang terlalu lama akan mengganggu jadwal pemeliharaan kapal dan kesejahteraan awak kapal yang sudah bertugas selama hampir delapan bulan.
Sejarah Perseteruan dan Doktrin Maximum Pressure
Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran telah terputus sejak Revolusi Islam 1979 dan krisis sandera di Iran. Sejak saat itu, Iran dianggap oleh AS sebagai aktor destabilisasi utama di Timur Tengah melalui dukungan terhadap kelompok militan dan pengembangan teknologi nuklir.
Pemerintahan Trump, baik pada periode pertama maupun saat ini, konsisten menerapkan doktrin Tekanan Maksimal (Maximum Pressure). Doktrin ini bertujuan melumpuhkan ekonomi Iran melalui sanksi berat agar pihak Iran 55bersedia merundingkan kesepakatan baru yang jauh lebih ketat dari JCPOA 2015.
Eskalasi militer yang terjadi saat ini merupakan kelanjutan dari serangan udara AS terhadap situs nuklir Iran tahun lalu, yang hingga kini belum membuahkan solusi diplomatik permanen. Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah pada ambang konflik terbuka yang dapat berdampak langsung pada stabilitas harga energi global.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






