Akankah Rezim Iran Runtuh Pasca-Kematian Khamenei?
TEHERAN, investor.id – Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara gabungan AS-Israel menjadi guncangan terbesar bagi Republik Islam sejak Revolusi 1979. Meski Presiden Donald Trump memprediksi keruntuhan cepat pemerintahan Teheran, sejumlah pakar dan data di lapangan menunjukkan skenario yang jauh lebih kompleks: Iran justru berpotensi berubah menjadi "negara garnisun" yang lebih radikal.
Menukil Al Jazeera pada Minggu (1/3/2026), hanya berselang sehari setelah serangan, Teheran segera mengaktifkan "protokol bertahan hidup". Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Ali Larijani, mengumumkan pembentukan dewan kepemimpinan sementara yang terdiri dari presiden, kepala yudikatif, dan dewan pengawal.
“Sistem ini dirancang untuk menjadi institusional, bukan personal... mampu beroperasi secara otomatis bahkan saat kepemimpinan politik terputus,” ujar pengamat politik Hossein Royvaran. Hal ini mematahkan asumsi bahwa dekapitasi pemimpin puncak akan langsung melumpuhkan struktur negara.
Analis militer Michael Mulroy memperingatkan bahwa serangan udara saja tidak cukup untuk memicu perubahan rezim. Kekuatan Iran bersandar pada struktur militer ganda: tentara reguler (Artesh) dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Selain itu, milisi Basij yang tersebar di seluruh lingkungan berfungsi sebagai instrumen penindas perlawanan internal sekaligus penggerak massa loyalis.
Menariknya, rezim yang tersisa kini disebut berpotensi menggeser narasi legitimasi dari agama ke nasionalisme. Ali Larijani memperingatkan masyarakat bahwa tujuan akhir Israel adalah memecah wilayah Iran. Dengan mengangkat isu integritas teritorial, pemerintah berupaya menggalang dukungan bahkan dari kelompok sekuler untuk melawan musuh eksternal.
Strategi berkabung selama 40 hari juga diprediksi akan menyulitkan gerakan oposisi untuk melakukan demonstrasi anti-pemerintah, karena ruang publik akan didominasi oleh jutaan pelayat.
Dunia kini menghadapi risiko Iran yang lebih agresif. Selama ini, Khamenei dikenal dengan doktrin "kesabaran strategis" untuk menghindari perang total. Namun, Profesor Universitas Teheran, Hassan Ahmadian, menilai era tersebut telah berakhir.
“Perhitungan baru di Teheran kemungkinan adalah kebijakan 'bumi hangus'. Jika diserang, Iran akan membakar segalanya,” tegas Ahmadian. Tanpa kendali politik dari ulama senior, komandan lapangan IRGC diprediksi akan merespons serangan dengan kekuatan rudal yang lebih masif dan tidak terukur.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Banjir Setinggi 30-80 cm Rendam Sejumlah Wilayah di Tangerang Selatan
Hujan deras yang mengguyur sejak pagi membuat sejumlah wilayah di Tangerang Selatan terendam banjir dengan ketinggian 30-80 cm.Kejutkan Dunia, Pemimpin Militer Burkina Faso Lontarkan Pernyataan Kontroversial
Pemimpin militer Burkina Faso Ibrahim Traore lontarkan pernyataan kontroversial, sebut demokrasi membunuh dan minta rakyat lupakan pemilu.KLH dan Pemprov Sulsel Bangun PSEL dengan Investasi Rp 3 Triliun
Kementerian LH bersama Pemprov Sulsel memulai pembangunan Pengolah Sampah Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi Rp 3 triliun.Strategi Trisula (TRIS) Genjot Kinerja 2026
PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perusahaan pada tahun 2026.Perkuat Kapasitas Serapan, Bulog akan Bangun 100 Gudang Penyimpanan Baru
Perum Bulog akan menambah 100 gudang penyimpanan untuk memperkuat infrastruktur pascapanen dan meningkatkan kapasitas serapan petani.Presiden Prabowo akan Sambut Kedatangan 3 Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon
Presiden Prabowo dijadwalkan menyambut kedatangan tiga jenazah prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon.Tag Terpopuler
Terpopuler






