Vladimir Putin Turun Tangan Mediasi Konflik AS-Israel dan Iran
MOSKOW, investor.id – Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan tengah melakukan upaya diplomatik intensif untuk meredakan krisis yang kian membara di kawasan Teluk. Langkah ini diambil setelah Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran terhadap fasilitas dan infrastruktur Amerika Serikat (AS) di berbagai negara Arab.
Pihak Kremlin pada Selasa (3/3/2026) menyatakan Putin terus menjalin komunikasi erat dengan para pemimpin regional guna mencegah situasi semakin tidak terkendali, seperti dikutip Economic Times.
Ketegangan memuncak pasca serangan gabungan AS dan Israel pada Sabtu lalu yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (86), beserta anggota keluarganya. Sebagai respons, Iran mulai membombardir pangkalan-pangkalan AS yang tersebar di negara-negara sekitar Teluk.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa Putin berkomitmen penuh untuk memfasilitasi penurunan ketegangan. "Menggunakan jalur dialog yang kami miliki dengan kepemimpinan Iran, Presiden Putin akan menyampaikan keprihatinan mendalam terkait serangan terhadap infrastruktur mereka," ujar Peskov, Selasa.
Sepanjang Senin (2/3/2026) dan Selasa, Putin telah melakukan pembicaraan telepon dengan sejumlah pemimpin kunci, di antaranya:
- Pangeran Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS).
- Raja Bahrain, Hamad bin Isa Al Khalifa (Ketua Dewan Kerja Sama Teluk).
- Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani.
- Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Mohammed bin Zayed Al Nahyan.
Ancaman Perang Skala Penuh
Dalam percakapan dengan Pangeran MBS, kedua pemimpin menyatakan kekhawatiran serius atas risiko nyata eskalasi konflik yang kini telah berdampak pada beberapa negara Arab. Putin menekankan urgensi penyelesaian situasi berbahaya ini melalui jalur politik dan diplomatik sebelum berujung pada konsekuensi katastrofik.
Rusia menilai agresi militer yang terjadi saat ini telah membawa seluruh kawasan ke ambang perang skala penuh dengan konsekuensi yang tidak terprediksi. "Perlu adanya penghentian permusuhan secara cepat untuk mencegah situasi keluar dari kendali," tulis pernyataan resmi Kremlin.
Sebagai negara yang menjaga hubungan persahabatan dengan banyak negara Arab, Rusia menyatakan kesiapannya untuk menggunakan segala cara yang tersedia demi menstabilkan keamanan di Timur Tengah.
Posisi Strategis Rusia di Tengah Krisis Teluk
Keterlibatan aktif Rusia sebagai mediator dalam krisis ini mencerminkan posisi unik Moskow yang memiliki hubungan diplomatik fungsional baik dengan Iran maupun negara-negara kunci di semenanjung Arab.
Sejak dimulainya operasi militer gabungan AS-Israel yang menargetkan kepemimpinan tertinggi Iran, Rusia secara konsisten menyuarakan kekhawatiran bahwa kekosongan kekuasaan di Teheran dan serangan balasan yang tidak terukur akan menghancurkan stabilitas pasar energi global.
Bagi Rusia, stabilitas di kawasan Teluk sangat krusial karena menyangkut keamanan negara-negara mitra strategisnya dalam aliansi energi (seperti OPEC+). Selain itu, Rusia memandang perluasan konflik ke negara-negara seperti Arab Saudi, UEA, dan Qatar akan memicu krisis kemanusiaan dan pengungsian besar-besaran yang dapat merembet hingga ke perbatasan Rusia dan Eropa.
Melalui upaya de-eskalasi ini, Putin berusaha memposisikan Rusia sebagai penyeimbang kekuatan di tengah kegagalan diplomasi Barat di Timur Tengah.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






