Iran Lempar Propaganda ke Warga AS
JAKARTA, investor.id – Iran melancarkan narasi propaganda di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Teheran secara terbuka mengejek operasi militer Amerika Serikat (AS) dengan sebutan "Operation Epic Mistake"—sebuah sindiran terhadap sandi militer "Operation Epic Fury" milik Washington—sembari mengklaim bahwa serangan tersebut hanya merugikan rakyat AS sendiri.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi dalam unggahan di media sosial X, menyatakan bahwa ambisi militer Gedung Putih merupakan penyebab utama di balik lonjakan biaya hidup, mulai dari kenaikan harga bahan bakar hingga cicilan rumah (mortgage) yang kian mahal di Amerika.
“Sembilan hari setelah Operation Epic Mistake dimulai, harga minyak telah berlipat ganda sementara semua komoditas meroket,” ungkap Araghchi dalam unggahannya, dikutip Selasa (10/3/2026) pagi.
Dalam narasinya, Araghchi mencoba memisahkan antara kebijakan pemerintah AS dengan keinginan rakyatnya. Ia mengklaim bahwa Iran sebenarnya tidak ingin merugikan warga Amerika yang menurutnya sudah jenuh dengan perang luar negeri yang menguras anggaran negara.
“Kesalahan atas melonjaknya harga gas, hipotek yang lebih mahal, dan penurunan nilai tabungan pensiun sepenuhnya terletak pada Israel dan para anteknya di Washington,” tegas Araghchi.
Melansir The Hill, mayoritas warga Amerika Serikat menyatakan penolakan terhadap aksi militer AS yang tengah berlangsung di Iran. Berdasarkan jajak pendapat terbaru NPR/PBS News/Marist, sebanyak 56% responden menentang atau sangat menentang operasi tersebut, sementara 44% menyatakan dukungannya.
Jajak pendapat juga menunjukkan pembelahan politik yang ekstrem. Kelompok Demokrat mencatatkan penentangan sebesar 54%, berbanding terbalik dengan Republikan yang hanya 7%. Sementara itu, 31% pemilih independen menyatakan penentangan yang kuat terhadap aksi militer ini.
Data ini selaras dengan survei NBC News yang menunjukkan 54% pemilih tidak setuju dengan cara Trump menangani konflik Iran, dibandingkan dengan 41% yang setuju.
Meskipun popularitas operasi militer ini menurun, Presiden Trump telah menegaskan tidak akan menghentikan serangan sampai rezim Iran menyerah. “Saya tidak peduli dengan jajak pendapat,” ujar Trump dalam wawancaranya dengan New York Post, Senin pekan lalu.
Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak sempat melambung ke level US$ 120 per barel pada perdagangan Senin (9/3/2026), posisi tertinggi sejak 2022. Meski kemudian terkoreksi ke kisaran US$ 83 per barel untuk minyak WTI dan US$ 87 per barel untuk minyak Brent.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





