Iran Rayakan Idulfitri, Mojtaba Singgung Tiga Perang dalam 1 Tahun Terakhir
TEHERAN, investor.id – Umat Muslim di seluruh Iran merayakan Idulfitri 1447 Hijriah pada Sabtu (21/3/2026) waktu setempat, yang secara istimewa bertepatan dengan hari pertama Nowruz atau Tahun Baru Persia. Perayaan ganda ini dipusatkan di Grand Musallah Teheran melalui salat Id berjamaah yang dipimpin oleh Hojjat-ol-Islam Haj Ali Akbari.
Melansir Kantor Berita Tasnim, antusiasme warga terlihat sejak dini hari, di mana gerbang Grand Musallah telah dibuka pukul 04.00 waktu setempat. Rangkaian program perayaan dimulai pukul 06.30, disusul pelaksanaan salat dan khutbah Id tepat pukul 08.00 yang menyatukan ribuan jemaah dalam suasana ibadah bersama.
Idulfitri tahun ini di Iran menandai berakhirnya 30 hari puasa Ramadan berdasarkan ketetapan otoritas agama setelah pemantauan hilal Syawal. Selain doa berjamaah yang menekankan persatuan dan rasa syukur, warga juga diwajibkan menunaikan Zakat al-Fitr sebagai bentuk kepedulian sosial sebelum pelaksanaan salat.
Perayaan di Iran pada hari Sabtu ini berbeda dengan mayoritas negara Muslim lainnya yang telah merayakan Idulfitri pada hari Jumat, meskipun beberapa negara muslim lain juga merayakannya pada Sabtu. Perbedaan regional dalam penentuan waktu penampakan bulan sabit (rukyatul hilal) menjadi penyebab terjadinya perbedaan tanggal perayaan di seluruh dunia Islam.
Momentum Idulfitri kali ini dianggap sangat bermakna bagi warga Iran karena menggabungkan refleksi spiritual usai Ramadan dengan kegembiraan budaya Nowruz. Perpaduan ini menciptakan atmosfer pembaruan diri dan perayaan komunal yang kuat di seluruh negeri.
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pesan Tahun Baru Persia (Nowruz) yang bertepatan dengan Idulfitri, menegaskan pentingnya persatuan nasional sebagai kunci utama menggagalkan ambisi destruktif musuh terhadap kedaulatan Iran. Ia mengungkapkan bahwa rakyat Iran telah berhasil melewati tiga fase perang besar dalam setahun terakhir.
Mojtaba merinci "perang pertama" terjadi pada Juni 2025, saat agresi Israel dan AS menargetkan komandan serta ilmuwan Iran di tengah proses negosiasi. "Perang kedua" disebutnya sebagai "Kudeta Januari", yakni kerusuhan domestik yang didorong pihak asing dengan memanfaatkan tekanan ekonomi.
Sementara itu, "perang ketiga" adalah konflik terbuka yang memuncak pada pembunuhan pemimpin besar Ali Khamenei oleh serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026.
“Musuh beroperasi di bawah ilusi bahwa membunuh kepala pemerintahan akan menciptakan keputusasaan. Namun, mereka lupa bahwa lini pertahanan Iran jauh lebih luas dari sekadar perhitungan militer,” tegasnya.
Menanggapi tantangan tersebut, Mojtaba menetapkan tema strategis tahun baru: “Ekonomi Perlawanan dalam Bingkai Persatuan dan Keamanan Nasional.” Fokus utama kebijakan ini adalah penguatan infrastruktur kesejahteraan masyarakat guna membendung infiltrasi musuh yang mengeksploitasi celah ekonomi.
Dalam skala regional, Pemimpin Tertinggi Iran itu menyerukan harmonisasi hubungan dengan negara tetangga, khususnya mendesak perbaikan hubungan antara Afghanistan dan Pakistan. Ia juga menolak keras keterlibatan Iran dalam serangan di Oman dan Turki baru-baru ini, serta menyebut insiden tersebut sebagai operasi "bendera palsu" (false flag) oleh pihak Israel untuk memecah belah stabilitas kawasan.
“Persatuan kita saat ini, yang melampaui perbedaan asal-usul agama dan politik, adalah berkah yang menyebabkan runtuhnya kekuatan di kubu musuh,” pungkas Mojtaba dalam pidato yang disiarkan Press TV.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






