Balas AS, China Luncurkan Dua Investigasi Perdagangan Global
BEIJING, investor.id – Kementerian Perdagangan China resmi meluncurkan dua investigasi balasan terhadap praktik perdagangan Amerika Serikat (AS) yang dinilai menghambat aliran produk China ke pasar Amerika. Langkah ini diumumkan pada Jumat (27/3/2026) sebagai respons atas kebijakan serupa yang dirilis Washington awal bulan ini.
Meski meluncurkan investigasi, pemerintah China memilih untuk menahan diri dari tindakan pembalasan langsung. Saat ini, gencatan senjata perdagangan antara kedua negara masih terjaga sejak pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump pada Oktober 2025.
Bahkan, Presiden Trump dijadwalkan akan mengunjungi Beijing pada pertengahan Mei 2026 sebagai bagian dari upaya pengaturan ulang (reset) hubungan di kawasan Asia Pasifik.
Kementerian Perdagangan China menyatakan dua penyelidikan ini dijadwalkan selesai dalam waktu enam bulan, meski ada kemungkinan untuk diperpanjang. Langkah ini disebut sebagai tindakan timbal balik atas investigasi "Section 301" yang sebelumnya diluncurkan AS terhadap China.
Investigasi China akan menyoroti praktik perdagangan AS yang dianggap mengganggu rantai pasokan global serta menghambat perdagangan produk ramah lingkungan (green products).
Baca Juga:
Pola Investasi China DisorotPihak China menuding kebijakan AS telah membatasi masuknya produk China ke Amerika sekaligus melarang ekspor produk teknologi tinggi dari AS ke China.
Selain itu, AS juga dinilai menerapkan aturan yang memperlambat proyek energi baru, yang berpotensi merugikan kepentingan perusahaan-perusahaan China. "Berdasarkan temuan investigasi nanti, China akan mengambil langkah yang diperlukan untuk membela hak dan kepentingan nasional," tulis pernyataan resmi Kementerian Perdagangan China.
Sebelumnya, pada awal Maret 2026, AS meluncurkan investigasi perdagangan terhadap 16 mitra dagang termasuk China terkait isu kelebihan kapasitas industri dan kerja paksa.
Dalam pertemuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di Kamerun pada Kamis (26/3/2026), Menteri Perdagangan China Wang Wentao telah menyampaikan kekhawatiran tersebut langsung kepada Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer. Meski demikian, Wang menegaskan China tetap bersedia memperkuat kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan Amerika Serikat.
Hubungan dagang antara AS dan China pada 2026 terus berada dalam fase transisi yang kompleks. Setelah periode ketegangan tarif yang panjang, kedua negara mencoba menyeimbangkan antara persaingan teknologi yang sengit dan kebutuhan untuk menjaga stabilitas ekonomi global.
Isu mengenai "kelebihan kapasitas industri" (excess capacity) dan dominasi China dalam sektor teknologi hijau seperti panel surya dan kendaraan listrik (EV) menjadi titik gesekan utama.
Investigasi terbaru ini menunjukkan China kini lebih proaktif dalam menggunakan mekanisme hukum perdagangan internasional untuk memberikan tekanan balik secara diplomatis. Meskipun kedua pemimpin negara telah menunjukkan itikad baik melalui rencana kunjungan kenegaraan, kebijakan domestik yang bersifat proteksionis di kedua belah pihak tetap menjadi tantangan besar.
Langkah pemerintah China ini menandakan meski dialog tetap dibuka, China tidak akan membiarkan hambatan perdagangan terhadap produk teknologinya berlalu tanpa tinjauan hukum yang serius.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






