Industri Kesehatan Diterpa “Perfect Storm”, Biaya Produksi hingga Kurs Jadi Tekanan
JAKARTA, investor.id – Industri kesehatan nasional tengah menghadapi badai tekanan secara bersamaan atau juga dikenal sebagai “perfect storm”. Gangguan rantai pasok global, lonjakan biaya energi dan bahan baku, pelemahan rupiah, hingga ketatnya regulasi menjadi tantangan berat bagi industri farmasi dan alat kesehatan.
Ketua Bidang Kesehatan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Irawati Setiady, mengatakan bahwa tekanan yang datang serentak tersebut membuat industri kesehatan berada dalam situasi yang tidak mudah. “Industri saat ini berada dalam perfect storm,” ungkap Irawati kepada Investor Daily, Rabu (13/5/2026).
Istilah “perfect storm” merujuk pada kondisi ketika sejumlah krisis atau faktor negatif terjadi secara bersamaan dan saling berkaitan, sehingga memicu dampak yang lebih besar terhadap suatu industri.
Menurut Irawati, tekanan mulai meningkat sejak pecahnya konflik di Timur Tengah di akhir Februari lalu. Perang tersebut memicu kenaikan biaya energi serta mengganggu jalur transportasi dan logistik global. Dampaknya, rantai pasok internasional terganggu dan biaya bahan baku, bahan kemasan, hingga distribusi ikut melonjak.
“Dampak kenaikan biaya energi yang terus naik mempengaruhi biaya transportasi dan distribusi, yang berimbas pada kenaikan biaya operasional perusahaan,” kata Irawati.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah turut memperburuk tekanan terhadap industri kesehatan. Merujuk data kurs JISDOR, nilai tukar rupiah telah melemah 4,64% secara tahun berjalan (year to date/ytd) menjadi Rp 17.496 per dolar AS hingga 13 Mei 2026.
Pasalnya, sektor farmasi dan alat kesehatan masih bergantung pada impor bahan baku, sehingga depresiasi rupiah membuat biaya produksi semakin tinggi. “Bahan baku dan bahan kemasan berkontribusi sekitar 60-65% terhadap beban pokok penjualan, sehingga pelemahan nilai tukar rupiah sangat berdampak terhadap biaya produksi,” beber Irawati.
Meski menghadapi tekanan besar, Irawati menegaskan kenaikan harga obat dan alat kesehatan belum tentu dilakukan secara langsung. Industri saat ini masih berupaya menekan biaya melalui efisiensi operasional dan transformasi bisnis agar lonjakan biaya tidak sepenuhnya dibebankan kepada masyarakat.
“Jika (kenaikan harga obat dan alat kesehatan harus) dilakukan, maka kenaikan harga obat perlu dilakukan secara hati-hati dan selektif,” imbuh dia.
Oleh karena itu, industri didorong untuk memperkuat efisiensi, memperbaiki strategi rantai pasok, melakukan mitigasi risiko nilai tukar, meningkatkan ekspor, serta memperbesar tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). “Strategi menghadapinya bukan hanya efisiensi, tapi juga resilience (supply chain), kemandirian (lokalisasi), dan inovasi (produk & teknologi),” tandas Irawati.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum
Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.Dharma Pongrekun Ajukan Uji Materi UU Kesehatan ke MK
Mantan Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Dharma Pongrekun resmi mendaftarkan permohonan uji materi Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan ke Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (13/5/2026).Jasa Marga: Volume Lalin Keluar Jabotabek Naik 25,12%
Total volume lalu lintas yang meninggalkan wilayah Jabotabek di H-1 (13/5) Hari Kenaikan Yesus Kristus meningkat 25,12%.Wamen Nezar: Permainan Tradisional Jadi “Tombol Jeda” Anak dari Dominasi Ruang Digital
Wamen Komdigi Nezar Patria sebut permainan tradisional jadi "tombol jeda" efektif bagi anak untuk imbangi hidup di ruang digital.Prediksi Harga Emas Antam (ANTM) Jumat 15 Mei 2026
Harga emas Antam (ANTM) diperkirakan bergerak menguat pada Jumat,15 Mei 2026. Harga emas Antam diprediksi naik ke level iniKenaikan Pangkat Kapolda Metro Jaya Dinilai sebagai Langkah Strategis
Pengamat sosial Dr. Serian Wijatno menilai kenaikan pangkat Irjen Pol Asep Edi Suheri menjadi Komisaris Jenderal (Komjen) sebagai Kapolda Metro Jaya merupakan langkah strategis di tengah kompleksitas tantangan keamanan di Jakarta.Tag Terpopuler
Terpopuler






