Trump: Iran Akan Hadapi ’Neraka’ Jika Selat Hormuz Tak Dibuka Besok
WASHINGTON, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran. Melalui unggahan di media sosialnya Truth Social yang dikutip Senin (6/4/2026), Trump bersumpah akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan-jembatan di Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka untuk lalu lintas maritim paling lambat besok, Selasa (7/4/2026).
Ancaman ini muncul hanya beberapa jam setelah Trump mengumumkan keberhasilan operasi penyelamatan perwira angkatan udara AS terakhir yang jatuh di wilayah Iran pekan lalu, sebagaimana dikutip CNBC internasional, Senin.
Dengan gaya bahasanya yang khas dan keras, Trump menetapkan tenggat waktu yang sangat ketat bagi Teheran.
"Selasa akan menjadi 'Hari Pembangkit Listrik' dan 'Hari Jembatan' yang digabung menjadi satu di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu sebelumnya!!!" tulis Trump.
ADVERTISEMENT
Gedung Putih mengonfirmasi, Selasa pukul 20.00 ET (Rabu 07.00 WIB) adalah batas akhir bagi Iran untuk mencapai kesepakatan dengan AS. Trump bertekad mengirim Iran kembali ke "Zaman Batu" jika tuntutan pembukaan jalur minyak dunia tersebut tidak dipenuhi.
Operasi Penyelamatan "Heroik" di Pegunungan Iran
Di tengah ancaman serangan besar-besaran, Trump mengonfirmasi seorang Kolonel Angkatan Udara AS yang sempat hilang setelah jet F-15E Strike Eagle miliknya ditembak jatuh pada 2 April 2026 telah berhasil dievakuasi.
"Kami berhasil menyelamatkan anggota kru F-15 yang terluka parah dan sangat berani dari jauh di dalam pegunungan Iran," ujar Trump. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) tersebut adalah salah satu yang paling berani dalam sejarah militer AS.
Balasan Iran dan Krisis Energi Global
Iran menunjukkan tanda-tanda tidak akan mundur. Stasiun televisi pemerintah Iran mengklaim telah menghancurkan empat pesawat AS selama operasi penyelamatan tersebut dan mengancam akan meningkatkan serangan balasan terhadap infrastruktur sipil dan minyak di kawasan Teluk.
Konflik ini telah menyebabkan dampak ekonomi yang masif:
- Sektor Petrokimia Terbakar: Fasilitas petrokimia di Uni Emirat Arab (Borouge), Kuwait, dan Bahrain melaporkan kerusakan serius akibat serangan pesawat nirawak (drone) Iran.
- Harga Minyak Melambung: Harga minyak mentah Brent melonjak hingga US$ 141,36, level tertinggi sejak krisis keuangan 2008, akibat penutupan Selat Hormuz.
Meskipun Pakistan dan Oman berupaya menjadi mediator untuk gencatan senjata, ketegangan di lapangan tetap tinggi. Israel pun dilaporkan terus melancarkan gelombang serangan udara ke Teheran dan fasilitas strategis lainnya.
Selat Hormuz adalah jalur urat nadi ekonomi dunia yang menghubungkan produsen minyak di Timur Tengah dengan pasar global. Sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia melewati jalur sempit ini setiap harinya. Penutupan selat ini oleh Iran merupakan senjata geopolitik yang paling ditakuti karena dapat melumpuhkan pasokan energi global secara instan.
Perang antara AS-Israel melawan Iran yang kini memasuki bulan kedua (dimulai pada 28 Februari 2026) telah bergeser dari sekadar kontak senjata militer menjadi perang infrastruktur ekonomi.
Strategi tekanan maksimum Trump kali ini menghadapi tantangan besar karena serangan terhadap infrastruktur sipil, seperti pembangkit listrik, berisiko dianggap sebagai kejahatan perang menurut hukum humaniter internasional. Hal ini juga akan memicu krisis kemanusiaan yang lebih dalam di kawasan tersebut.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






