Pengamat: Prabowo ke Rusia dan Prancis Mau Damaikan Blok Barat dan Non-Barat
JAKARTA, investor.id – Kunjungan maraton Presiden Prabowo Subianto ke dua kekuatan besar dunia, Rusia dan Prancis, mendapat sorotan tajam dari para ahli hubungan internasional. Langkah ini dinilai sebagai penegasan posisi Indonesia sebagai bridge builder atau "jembatan penghubung" di tengah polarisasi global yang kian tajam.
Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Airlangga Probo Darono Yakti menyebut, kunjungan ini merupakan bentuk diplomasi strategis untuk menjaga komunikasi antara blok Barat dan non-Barat.
"Indonesia mencoba menekankan perannya sebagai bridge builder. Kunjungan ke Rusia merepresentasikan kedekatan dengan aktor non-Barat, sementara Prancis adalah representasi kekuatan utama dalam orbit Barat, Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), dan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB)," ujar Probo seperti dikutip ANTARA, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, peran aktif ini sangat krusial untuk mengelola perbedaan kepentingan, mengurangi ketegangan, serta menciptakan ruang dialog bagi pihak-pihak yang berseberangan.
Langkah Presiden Prabowo ini disebut sebagai diplomasi "ulang-alik". Setelah menghabiskan waktu lima jam berdiskusi intensif dengan Presiden Vladimir Putin di Moskow, Prabowo langsung bertolak ke Paris untuk menemui Presiden Emmanuel Macron di Istana Élysée.
Langkah ini juga dipandang sebagai upaya penyeimbang setelah Indonesia resmi menjadi bagian dari Board of Peace (BoP). "Ini adalah upaya memediasi, memfasilitasi, dan mengorkestrasi interaksi antarpihak yang bersitegang," tambah Probo.
Penguatan Kerja Sama Strategis
Selain misi perdamaian, kunjungan ke Rusia membuahkan kesepakatan signifikan di sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta program hilirisasi. Sementara itu, di Paris, agenda utama Presiden Prabowo adalah pertemuan empat mata dengan Macron untuk memperluas kerja sama yang berdampak langsung pada pembangunan nasional.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, yang mendampingi presiden, mengonfirmasi pertemuan di kedua negara tersebut bertujuan untuk memperkuat fondasi kemitraan di berbagai bidang strategis demi kepentingan nasional.
Konsep bridge builder atau pembangun jembatan merupakan manifestasi modern dari prinsip politik luar negeri Indonesia yang "Bebas Aktif". Sejak era KAA 1955, Indonesia konsisten menolak memihak pada salah satu blok kekuatan besar, namun tetap aktif berkontribusi dalam mencari solusi atas konflik global.
Dalam konteks 2026, peran ini menjadi semakin vital mengingat dunia sedang menghadapi tantangan geopolitik yang kompleks, mulai dari ketegangan di Eropa Timur hingga dinamika di Timur Tengah.
Dengan posisi Indonesia sebagai anggota Board of Peace (BoP) dan kekuatan ekonomi baru, diplomasi "ulang-alik" yang dilakukan Presiden Prabowo berfungsi untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor kunci yang mampu menjembatani kepentingan Barat (Prancis/ NATO) dan non-Barat (Rusia/ BRICS) demi terciptanya stabilitas keamanan dan ekonomi dunia.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






