Serangan Israel Tewaskan 16 di Lebanon, Dialog AS-Iran di Ujung Tanduk
ZURICH, investor.id – Hanya berselang beberapa jam setelah kesepakatan gencatan senjata dinyatakan berlaku, Lebanon kembali membara. Serangan udara Israel pada Sabtu (20/6/2026) menewaskan sedikitnya 16 orang.
Menurut laporan Reuters, pihak Israel berdalih serangan tersebut merupakan respons atas aksi Hizbullah, sementara kelompok yang didukung Iran itu menegaskan tidak akan membiarkan militer Israel bergerak bebas di wilayah Lebanon.
Moratorium pertempuran di Lebanon sebenarnya menjadi syarat utama untuk memulai dialog selama 60 hari antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Perundingan ini bertujuan menyelesaikan sengketa program nuklir Iran serta membuka kembali Selat Hormuz demi menstabilkan pasokan minyak global. Namun, dengan situasi yang kembali memanas, belum ada kejelasan kapan dialog tingkat tinggi tersebut dapat dimulai.
Saling Tuduh di Tengah Kesepakatan Gencatan Senjata
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan jet tempur dan pesawat tanpa awak (drone) Israel membombardir sejumlah titik di Lebanon selatan dan Lembah Bekaa yang menjadi basis pertahanan Hizbullah. Layanan Pertahanan Sipil Lebanon mengonfirmasi 16 warga sipil tewas dalam serangan tersebut.
Salah satu serangan paling mematikan menghantam gedung permukiman tiga lantai di kota Barish, menewaskan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak mereka. Militer Lebanon juga menyatakan seorang tentaranya tewas akibat serangan Israel di jalur Kfarrumman-Nabatieh.
Di sisi lain, juru bicara militer Israel mengklaim Hizbullah telah menembakkan lebih dari 50 proyektil ke arah pasukan mereka di Lebanon selatan sepanjang malam. Israel menegaskan tetap berkomitmen pada gencatan senjata, namun akan terus bertindak tegas terhadap segala bentuk ancaman.
Menanggapi hal itu, Hizbullah menyatakan pasukannya hanya menghadang tentara Israel yang mencoba menyusup ke wilayah bukit Ali al-Taher.
"Kami tetap berkomitmen pada gencatan senjata, tetapi kami tidak akan membiarkan pasukan Israel bebas bergerak atau memperluas pendudukan di tanah Lebanon," tegas seorang pejabat senior Hizbullah, lapor Reuters.
Di tengah eskalasi yang terus meningkat, nasib pakta interim 14 poin yang diinisiasi AS dan Iran pada minggu ini menjadi tidak pasti. Padahal, perjanjian tersebut diharapkan bisa menjadi jembatan menuju perdamaian permanen untuk mengakhiri perang yang meletus sejak 28 Februari 2026.
Pemerintah Swiss menyatakan siap menyediakan tempat yang aman dan rahasia di resor Buergenstock untuk memfasilitasi dialog. Namun, karena tensi yang meninggi, Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan membatalkan rencana perjalanannya ke Swiss untuk menemui perwakilan Iran.
Sebagai langkah alternatif, otoritas Swiss telah menggelar pertemuan dengan pejabat Qatar yang bertindak sebagai penyokong negosiasi. Selain itu, Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi selaku mediator juga telah tiba di Teheran untuk melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi.
Perang ini telah menelan sedikitnya 8.000 korban jiwa yang mayoritas berada di Iran dan Lebanon, serta memicu lonjakan harga energi dan inflasi global.
Berdasarkan kesepakatan interim, Iran dijanjikan pelonggaran sanksi, pencairan aset senilai puluhan miliar dolar, serta dana rekonstruksi sebesar US$ 300 miliar. Meski menuai kritik dari sekutu Republik di Kongres AS menjelang pemilu paruh waktu November 2026, Donald Trump tetap membela keputusannya.
"Perang ini telah melemahkan Iran! Kami tidak bertemu karena putus asa, Iran-lah yang putus asa. Kita akan jalani masa 60 hari ini. Mereka tidak akan mendapatkan uang sepeser pun sebelum itu!" tulis Trump melalui media sosialnya.
Konflik yang terjadi di Lebanon saat ini tidak lepas dari eskalasi regional yang meletus pada 28 Februari 2025, ketika AS dan Israel memulai operasi militer massal terhadap Iran.
Lebanon terseret ke dalam pusaran perang setelah kelompok Hizbullah, yang merupakan sekutu strategis Iran, meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel sebagai bentuk solidaritas. Respons tersebut memicu invasi darat dan serangan udara masif dari Israel ke wilayah Lebanon selatan sejak awal Maret 2025.
Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat setidaknya 3.912 orang tewas akibat gempuran Israel, termasuk di antaranya petugas medis, wanita, dan anak-anak. Di pihak Israel, setidaknya 32 tentara dan empat warga sipil dilaporkan tewas.
Konflik ini tidak hanya menghancurkan infrastruktur di Timur Tengah, tetapi juga mencekik ekonomi dunia melalui lonjakan harga minyak global akibat ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi internasional. Rekonsiliasi lewat koridor diplomasi Swiss dan Qatar kini menjadi satu-satunya harapan yang tersisa untuk mencegah kehancuran ekonomi dan kemanusiaan yang lebih dalam.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






