Proyek Ambisius AI Kuras Kas, Investor Pantau Pasar Obligasi
NEW YORK, investor.id – Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) memberikan alasan baru bagi para investor sektor teknologi untuk mulai memperhatikan kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed).
Selama bertahun-tahun, perusahaan teknologi raksasa (megacap) dengan neraca keuangan yang kuat selalu acuh terhadap kenaikan suku bunga. Kebijakan moneter ketat biasanya hanya memukul perusahaan rintisan kecil yang belum menghasilkan profit. Namun, peta permainan kini berubah.
Perusahaan yang dulunya menjadi "mesin pencetak uang" kini mulai menguras cadangan kas mereka dan beralih ke pasar utang demi mendanai pembangunan pusat data (data center) yang masif. Hal ini membuat mereka jauh lebih rentan terhadap lonjakan biaya pinjaman.
"Investor teknologi tidak terbiasa memantau suku bunga. Namun tiba-tiba saja, mereka kini harus mendengarkan pidato Ketua The Fed, memperhatikan statistik inflasi, dan melihat bagaimana pasar Obligasi Pemerintah AS (US Treasury) meresponsnya," ujar Chief Investment Officer di One Point BFG Wealth Partners Peter Boockvar seperti dikutip CNBC internasional, Sabtu (20/6/2026).
ADVERTISEMENT
Tekanan ini semakin nyata setelah Kevin Warsh, dalam konferensi pers pertamanya sebagai Ketua The Fed yang baru, mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga. Sinyal tersebut langsung memicu aksi jual di pasar saham dan mendorong imbal hasil (yield) obligasi tenor 10 tahun AS melonjak mendekati level 4,45%.
Perlombaan Infrastruktur AI Rp 13.000 Triliun
Dampak dari kenaikan suku bunga kini mulai merembet ke perusahaan kakap. Para raksasa teknologi (hyperscalers) seperti Amazon, Alphabet, Microsoft, dan Meta tengah terlibat dalam perlombaan kecepatan tinggi untuk membangun infrastruktur AI.
Keempat perusahaan tersebut diproyeksikan menggelontorkan dana gabungan hingga US$ 750 miliar (sekitar Rp 13.370 triliun) tahun ini, melonjak lebih dari 80% dibandingkan tahun lalu.
Sebagian besar dari ekspansi masif ini didanai melalui instrumen utang. Perusahaan raksasa seperti Nvidia, Oracle, Amazon, Alphabet, dan Meta berbondong-bondong masuk ke pasar obligasi dengan nilai mencapai puluhan miliar dolar.
Tren ini juga diadopsi oleh para pemain AI lainnya:
- OpenAI: CFO Sarah Friar mengisyaratkan kemampuan untuk memanfaatkan pasar utang menjadi salah satu motivasi kuat perusahaan untuk segera melantai di bursa saham (go public).
- SpaceX: Setelah sukses melakukan debut di bursa Nasdaq minggu lalu, para bankir SpaceX dilaporkan tengah bersiap menemui investor untuk penawaran obligasi jumbo senilai minimal US$ 20 miliar (sekitar Rp 356,5 triliun).
"Para pemimpin sektor teknologi kini merangkul utang. Ini adalah formula yang sempurna bagi para pelaku industri AI yang merasa percaya diri dengan apa yang ingin mereka pinjam dan belanjakan," ungkap CEO KKM Financial Jeff Kilburg.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





