Jumat, 15 Mei 2026

Membangun Perusahaan Laksana Merakit Lego

Penulis : Muawwan Daelami
16 Mar 2026 | 14:30 WIB
BAGIKAN
Pendiri dan CEO PrivyID Marshall Pribadi. Dok/Investor Daily
Pendiri dan CEO PrivyID Marshall Pribadi. Dok/Investor Daily

Seni bertindak secara terukur tidak lahir dari proses instan. Ia muncul dari hasil perjalanan reflektif yang mencerminkan kehati-hatian, kedisiplinan, dan olah keseimbangan antara ego dan kemampuan. Bukan soal sampai dengan cepat, lebih penting dari itu adalah tiba di puncak dengan selamat. Laksana Lego yang dirakit pelan-pelan, Marshall Pribadi selaku pendiri sekaligus chief executive officer (CEO) PT Privy Identitas Digital (Privy) juga membangun perusahaannya penuh dengan perhitungan.

Bekal itu menjadi modal bagi Marshall untuk membuktikan, tidak ada hal yang mustahil atau tidak mungkin. Potongan balok susun plastik lego yang tampak berserakan dan tak saling terkait, saat ditekuni terus-menerus, akhirnya bisa menemukan konstruksinya. Karena itu, menyusun Lego tak ubahnya adalah medan pelatihan membentuk mental setangguh baja. Mental itu pula yang kemudian mengantarkan pria jebolan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) ini menjadikan Privy tumbuh sebagai pemain identitas digital dan sertifikat elektronik besar di Tanah Air.

Membangun Perusahaan Laksana Merakit Lego
Pendiri dan CEO PrivyID Marshall Pribadi. Dok/Investor Daily

Tidak mudah. Apalagi, dunia digital yang serba cepat dan perkembangan teknologi yang makin canggih sudah barang tentu memberikan tantangan tersendiri. Dan, Marshall yang sejak dini sudah dilibatkan keluarganya dalam berbagai pertemuan bisnis menyadari betul tantangan tersebut. Karena itu, bertindak sesuai dengan kemampuan menjadi hal yang krusial. Tidak memaksakan kehendak, namun tetap mendarat dengan selamat.

“Kayak kita bikin Lego, langsung-langsung kan nggak bisa. Karena kemampuan kita baru segini, proses yang kita lalui pun segini. Yang penting aman tapi sampai. Nggak selalu yang tercepat itu jadi yang terbaik,” ucap Marshall saat jurnalis Investor Daily Muawwan Daelami dan pewarta foto Joanito De Saojoao bertandang ke kantor Privy di Jakarta, baru-baru ini.

ADVERTISEMENT
Membangun Perusahaan Laksana Merakit Lego
Pendiri dan CEO PrivyID Marshall Pribadi. Dok/Investor Daily

Maka dari itu, mentalitas pemimpin harus teruji, plus mempunyai visi yang jelas ke mana arah perusahaan menuju. Seperti Privy, yang didirikan dengan misi untuk mengasuransi orang agar tidak jatuh menjadi korban penipuan, baik itu korban invoice palsu, purchase order palsu, surat kuasa, maupun transaksi digital lainnya. Lantas, bagaimana pria yang pernah masuk daftar Forbes Asia under 30 pada 2017 ini menavigasi Privy? Apa saja rencana strategis yang disiapkan? Simak petikan lengkapnya dalam wawancara berikut:

Bagaimana Anda menavigasi perusahaan seperti Privy ini?

Pada dasarnya sama seperti memimpin perusahaan pada umumnya. Karena yang dipimpin itu sama-sama manusia. Hanya saja, yang membedakan Privy yang bergerak di sektor digital dengan perusahaan yang berkecimpung di sektor lain adalah perubahannya yang begitu cepat. Bayangkan saja, makin hari, teknologi baru dengan fitur canggih makin bermunculan, sehingga hal ini menuntut perusahaan rintisan (startup) seperti Privy untuk adaptif dengan perubahan pasar dan itu sudah menjadi bagian dari proses bisnis Privy.

Jadi, buat saya, memimpin perusahaan seperti Privy harus cukup kuat terutama dalam hal membangun tim yang harus siap mengerjakan pekerjaan yang berubah-ubah. Bukan karena keinginan pemimpinnya yang berubah, tetapi lebih kepada pasarnya yang berubah. Produk digital yang lima tahun lalu menjadi unggulan, sekarang boleh jadi tidak lagi relevan. Perubahan-perubahan semacam itulah yang harus kami antisipasi.

Terus, bagaimana Anda meyakinkan tim di Privy agar mereka bisa memahami perubahan yang sedemikian cepat itu?

Tentu saja, saya mengajak mereka berdialog dan melibatkan mereka di setiap kesempatan rapat bersama pelanggan. Tujuannya, supaya mereka mendengar langsung kemauan pelanggan dan turut merasa memiliki (owning) atas produk yang sedang dikembangkan. Bukan sekadar tim yang menerima perintah atasan. Ketika tim dilibatkan dalam sebuah pengambilan keputusan, mereka akan convinced dan pastinya akan lebih bertanggung jawab. Kalaupun misalnya tim itu masih bandel, artinya mereka sudah tidak cocok dengan kultur di Privy yang agile, tumbuh, dan terus berinovasi.

Lalu, solusinya bagaimana kalau terjadi problem?

Ya, pertama harus berani mengakui kesalahan. Sebab bagaimanapun, perbaikan itu tidak akan pernah bisa kita mulai sebelum kita mengakui adanya kesalahan. Melelahkan memang. Tapi, kesalahan itu harus diakui dan diterima dulu baru perbaikan bisa dilakukan.

Bagaimana kalau kesalahan itu berada di sisi CEO?

Kesalahan itu sebenarnya bukan perkara CEO atau bukan CEO. Ini soal kualitas manusia. Sama seperti halnya di rumah tangga, kalau antara suami dan istri satu sama lain tidak ada yang mengakui kesalahan saat terjadi masalah juga bisa repot. Karena itu, sebagai manusia, baik CEO maupun bukan pasti bisa salah. Makanya, kita harus senantiasa berusaha menjadi lebih baik. Yang tidak baik itu justru ketika bersikap defensif.

Misalnya, programmer yang merasa bisa membuat flow user centric, tapi ternyata tidak. Bahkan, programmer itu malah menganggap pelanggannya yang tidak kompeten. Artinya, sikap defensif itu bisa saja terjadi bukan hanya pada CEO yang melekat padanya jabatan tinggi. Melainkan juga kepada karyawan.

Jadi, pelajaran apa yang bisa dipetik dari ini?

Sebenarnya, pembelajaran yang lebih sulit adalah bagaimana kita bisa menyeimbangkan kapan saatnya CEO itu mengambil keputusan dan kapan saatnya harus lebih banyak mendengarkan. Tapi, sebaik-baiknya pemimpin adalah yang mengambil keputusan dan konsekuen atas keputusan tersebut. Bukan cuma itu, pemimpin juga harus mampu menyiapkan langkah progresif agar tidak terus-menerus terpuruk saat terjadi masalah. Ibarat main catur, kita salah langkah, ya, sudah selesai. Toh percuma, kesalahan itu juga tidak bisa di-undo. Tugas pemimpin yang terpenting justru membuat langkah baru. Jangan lari dari masalah dan jangan defensif, tapi harus move on.

Anda bisa semudah itu move-on, kok bisa?

Di bisnis ini, saya punya motto. Namanya juga berusaha, kita pasti ingin perusahaan kita menang atau unggul di pasar. Tapi, rezeki itu sudah ada yang mengatur. Sementara untuk menjadi bahagia itu pilihan. Jadi, mau bisnis kita lagi susah atau bagus, menjadi bahagia itu pilihan. Karena tidak sedikit orang yang mungkin bisa kita bilang, kurang beruntung dibanding kita justru lebih bahagia. Sebaliknya, banyak orang yang kita anggap lebih beruntung daripada kita, mereka malah tidak lebih bahagia daripada kita. Jadi, menjadi bahagia itu pilihan.

Apa atau siapa yang menginspirasi Anda sehingga mempunyai pandangan semacam itu?

Saya itu pernah membaca sebuah buku berjudul ‘Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya’. Bukunya tidak tebal dan hanya berisi cerita-cerita pendek. Tapi dari buku itu, saya mendapat pelajaran penting bahwa reaksi kita seperti marah, kesal, dan khawatir terhadap sesuatu itu sejatinya tidak berpengaruh apa-apa terhadap hasil akhir atau terhadap masalah yang kita hadapi.

Contoh, saya sudah melakukan yang terbaik dengan memberikan masukan ke pemerintah mengenai sebuah peraturan. Atau contoh lain, kita sudah submit semua dokumen untuk mengikuti tender tertentu dengan nilai besar. Submit ini mestinya dimaknai bahwa kita sudah selesai berusaha. Setelah itu tinggal menunggu hasil pengumuman. Tapi, di tengah penantian pengumuman itu, kita misalnya gelisah. Padahal, kegelisahan itu tidak berdampak apa pun terhadap hasil. Sebab, menang atau kalahnya tender itu berada di luar kontrol kita. Jadi, mending lepaskan pikiran kita dari sesuatu yang tidak berpengaruh apa-apa.

Kalau peran orang tua Anda seperti apa?

Peran orang tua luar biasa. Sejak saya umur 11 tahun, orang tua saya yang berbisnis di sektor trucking dan logistik sudah mengajak saya untuk ikut pada meeting-meeting bisnis bersama pelanggan. Dari situ, saya belajar bagaimana misalnya bernegosiasi dengan klien. Saya juga diberi ruang oleh orang tua untuk mengambil keputusan dan terlibat penuh dalam diskusi-diskusi baik yang membahas permasalahan keluarga, bisnis, maupun lainnya. Jadi, sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya sudah ikut memikirkan senang-sedihnya urusan keluarga. Masa-masa itu merupakan latihan-latihan dini yang akhirnya berkontribusi membentuk kapabilitas saya hari ini.

Tadi, Anda menyebut memberikan masukan ke pemerintah, input seperti apa?

Jadi, begini. Industri Privy itu berada di sektor digital trust atau kepercayaan di semua transaksi digital. Saya selalu sedih setiap kali mendapati adanya korban akibat penipuan transaksi digital. Sayangnya, pemerintah hanya memberikan imbauan berupa hati-hati yang sebenarnya hal itu tidak berdampak apa-apa. Padahal, di saat bersamaan, ada perusahaan seperti Privy dan sembilan provider sejenis lainnya yang bisa membantu untuk memastikan otentisitas sebuah identitas dan memverifikasi keaslian sebuah dokumen agar tidak ada lagi korban penipuan. Pemerintah semestinya bisa mengampanyekan hal itu ke masyarakat alih-alih sekadar mengimbau untuk berhati-hati.

Jika pemerintah tidak mengampanyekan (endorse), lalu buat apa pemerintah memberikan izin ke sembilan provider seperti Privy untuk menyelenggarakan tanda tangan digital dan sertifikat elektronik? Masukan itu sudah kami sampaikan ke Kementerian Komunikasi dan Digital termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK lewat Indonesia Scam Anti Center (IASC) juga hanya fokus pada dua hal. Pertama, pelaporan dengan recovery rate yang masih rendah. Kedua, mengedukasi masyarakat agar berhati-hati. Tidak konkret.

Lantas, apa rencana Privy ke depan?

Ke depan, Privy akan menyasar ceruk-ceruk pasar yang berada di ranah sehari-hari. Tidak melulu, transaksi bernilai besar seperti tanda tangan kredit mobil, asuransi, dan pembukaan rekening yang relatif jarang terjadi. Sebaliknya, transaksi seperti pembelian raket padel di Instagram, atau aplikasi kencan (dating apps) akan menjadi ranah-ranah yang diharapkan dapat diintegrasikan login-nya dengan PrivyID. Untuk itu, kami akan tetap fokus pada layanan identitas digital dan layanan pengiriman elektronik tercatat yang seharusnya semua itu diintegrasikan ke banyak platform.

Dengan begitu, Privy akan bisa menjamin masyarakat atau pengguna untuk berinteraksi dengan orang yang tepat sesuai sertifikat elektronik. Di luar itu, apabila masyarakat atau pengguna bertransaksi, akan ada tanda tangan elektronik digital berbasis sertifikat elektronik dari masing-masing pihak sehingga tidak akan menimbulkan perdebatan di kemudian hari.

Berapa jumlah pengguna Privy saat ini?

Kurang lebih 60 juta. Tapi, belum semuanya aktif menggunakan Privy untuk kebutuhan transaksi atau interaksi sehari-hari. Walau begitu, kalau kami flashback sejak Privy berdiri pertama kali pada 2016 silam, kita patut berbangga karena Indonesia menjadi sebuah negara di mana pemimpin pasar (market leader) industri tanda tangan digital dan sertifikat elektroniknya berasal dari pemain lokal. Beda cerita dengan Australia dan Singapura yang pasarnya dipimpin oleh penyedia tanda tangan digital asal Amerika Serikat, Docusign.

Berapa omzet Privy dan apakah berpotensi menggelar IPO dalam waktu dekat?

Kalau dilihat dari omzet, tahun ini Privy berpotensi mencetak omzet Rp600 miliar. Bukan angka yang fantastis jika dibanding startup lain yang pendapatannya sudah bisa menembus triliunan. Sementara menyangkut IPO, kami belum melihat opsi tersebut. Mengingat, saat ini pasar belum optimal. Jadi, mungkin 1-2 tahun ke depan kami belum memikirkan opsi tersebut. Kami masih fokus pada inovasi karena bagaimanapun, cara manusia bekerja sekarang ini sudah berbeda. Apalagi, dengan adanya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang sudah turut mengubah cara orang menggunakan aplikasi Privy.

Pecinta Kuliner

Editor: Muawwan Daelami

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 18 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 29 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 33 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia