Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Eric Yuan, founder & CEO Zoom. (Foto: electrodealpro.com)

Eric Yuan, founder & CEO Zoom. (Foto: electrodealpro.com)

Karena Korona, Kekayaan Bos Zoom Bertambah Rp 64 T

Abdul Muslim, Sabtu, 4 April 2020 | 10:07 WIB

JAKARTA, investor.id - Bagi sebagian besar orang, virus korona (Covid-19) menjadikan bisnisnya anjlok, bahkan ada yang terancam bangkrut. Namun, bagi pendiri dan CEO aplikasi video konferensi Zoom, Eric Yuan, wabah ini justru telah membuat kekayaannya bertambah US$ 4 miliar (Rp 64 triliun) menjadi US$ 7,57 miliar (Rp 121,12 triliun) dalam tiga bulan terakhir. 

Krisis Covid-19 telah menghilangkan jutaan sumber pendapatan bagi orang Amerika Serikat, tetapi tidak bagi Eric Yuan. Sebagai COE, dia adalah pendiri Zoom, aplikasi video konferensi yang berbasis di Silicon Valley, California, Amerika Serikat (AS).

Bahkan, sebelum pecahnya pandemi virus korona di dunia,  harga saham Zoom yang berawal dari perusahaan rintisan berbasis teknologi (start-up) telah tumbuh secara eksponensial. Dalam sembilan tahun membangun Zoom, Yuan pun telah mengumpulkan kekayaan sekitar US$ 7,5 miliar, menurut Bloomberg Billionaires Index.

Namun, sejauh ini, seperti dikutip dari Business Insider, Jumat (3/4), Yuan masih menolak mengomentari kekayaan bersih, karier, atau kehidupan pribadinya. Perwakilannya hanya menyampaikan bahwa dia sedang sibuk bekerja 18 jam sehari di Zoom.

Kenaikan kekayaan pria kelahiran Provinsi Shandong, Tiongkok, itu didapatkan dari peningkatan harga saham Zoom yang didaftarkan dan diperdagangkan di bursa saham Nasdaq, AS. Harga saham Zoom sudah naik dari sekitar US$ 70 menjadi US$ 150 per saham.

Saat ini, Yuan (49 tahun) memiliki 19% saham Zoom. Total valuasi saham Zoom saat ini mencapai sekitar US$ 35 miliar seiring peningkatan poluparitasnya dan banyak digunakan untuk telekonferensi dan meeting jarak jauh karena kebijakan bekerja dari rumah (working from home/WFH) di berbagai belahan dunia.

Karena itu, dalam tiga bulan terakhir, kekayaan Yuan pun terkerek naik sekitar U$ 4 miliar (112%) menjadi US$ 7,57 miliar (Rp 121,12 triliun) dengan asumsi kurs US$ 1 setara dengan Rp 16.000.

Virus korona yang kini telah mejadi pandemi di lebih 204 negara di dunia telah meningkatkan popularitas aplikasi Zoom. Bila pada Desember 2019, penggunanya hanya 10 juta,  pada akhir Maret lalu, penggunanya naik sangat signifikan menyentuh 200 juta per hari.

Kisah Sukses

India Today, pada Rabu (1/4), melansir perjalanan Eric Yuan sebelum membuat Zoom. Hal itu diawali dari ketertarikannya terhadap internet ketika mendengarkan pidato pendiri Microsoft, Bill Gates, pada 1990, saat usianya baru 20 tahun. Yuan memiliki gelar sarjana dalam matematika terapan dan gelar master dalam bidang teknik.

Karena itu, ia berfikir bahwa dengan pindah ke Amerika Serikat (AS), tepatnya bekerja di Sillicon Valley, kawasan teknologi dunia, akan mampu merubah kehidupan dan lebih menjanjikan untuknya berkarier.

Mimpi besarnya itu sempat terhambat ketika visanya ditolak oleh pemerintah AS sebanyak delapan kali. Meskipun begitu, ia tetap berusaha selama dua tahun, sehingga upayanya yang kesembilan kali berhasil dan bisa pindah ke AS.

Saat tiba di Negara Paman Sam tahun 1997, kemampuan bahasa Inggris Yuan masih kurang. Namun, dia punya kemampuan dalam menulis kode komputer. Ia akhirnya mendapatkan pekerjaan pertamanya di WebEx. Pada 2007, ketika WebEx diakuisisi oleh Cisco sebesar US$ 3,2 miliar, Yuan diangkat menjadi VP Korporat Teknik.

Walau telah naik jabatan, dia merasa tidak bahagia. Karena, ketika harus bertemu dengan banyak pelanggan, dia semakin menyadari bahwa ada yang kurang dengan layanan konferensi video milik Cisco. Hal itu juga sudah disampaikan ke manajemen Cisco, tapi tidak ada respons. Dia sempat mengajukan aplikasi video konferensi yang ramah smartphone.

Pada 2011, Yuan pun keluar dari Cisco dan memutuskan untuk mendirikan perusahaan sendiri yang dikenal sekarang dengan nama Zoom Technologies Inc, atau Zoom Video Communications. Lebih dari 40 insinyur dari Cisco diboyong ke perusahaannya tersebut. Selanjutnya, tahun 2012, dia meluncurkan Zoom sebagai aplikasi video konferensi hingga sekarang sangat populer.

Masalah Keamanan

Sementara itu, di tengah populeritasnya, kini, Zoom juga mulai disorot, terutama dengan celah keamanan (bug) bagi penggunanya. Mungkin, itu yang menjadikan sahamnya turun. Mantan peretas NSA dan sekarang peneliti keamanan utama Patrick Wardle menemukan dua kelemahan baru pada aplikasi Zoom, seperti dilansir Tech Crunch.

Penemuan Wardle mengungkapkan bahwa bug yang diluncurkan oleh penyerang lokal dapat dengan mudah mengambil kendali atas perangkat seseorang. Satu bug memungkinkan penyerang untuk menyuntikkan kode berbahaya ke dalam instal Zoom dan memungkinkan mereka untuk mengakses perangkat orang tersebut. Bug lainnya dapat mengontrol webcam dan mikrofon pengguna.

Selain itu, Zoom diduga mengirim data penggunanya ke Facebook, terlepas dari pengguna yang tak memiliki akun di Facebook. Kemudian, ditemukan juga bahwa panggilan yang dilakukan melalui aplikasi tidak dienkripsi ujung-ke-ujung (end-to-end).

Manajemen Zoom pun menjawab kekhawatiran publik soal keamanan platform konferensi video mereka yang saat ini sedang banyak digunakan untuk menunjang kerja dan belajar dari jarak jauh. Zoom mengklaim platformnya aman.

"Zoom memastikan privasi dan keamanan pengguna kami, termasuk data, merupakan prioritas utama. Kami ingin menanggapi beberapa kekhawatiran terhadap kebijakan privasi Zoom," ungkap pernyataan dari Zoom, atas nama Chief Legal Office, Aparna Bawa, tertanggal 29 Maret 2020.

Zoom menyatakan tidak pernah menjual data pengguna dan tidak berniat menjual data pengguna. Platform tersebut mengaku hanya mengambil data yang diperlukan untuk menggunakan layanan konferensi video, antara lain alamat IP pengguna, rincian perangkat, dan sistem operasi yang digunakan.

Sementara itu, mengutip Intercept, layanan Zoom diakuinya tidak mendukung enkripsi end-to-end konten video dan audio. Namun, Zoom menawarkan enkripsi transport yang disebut daftar ‘kemampuan keamanan prapertemuan’ yang tersedia untuk host rapat yang dimulai dengan "aktifkan pertemuan terenkripsi end-to-end (E2E)’.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN