Sabtu, 4 April 2026

Pneumonia Anak dan Orang Dewasa Mengintai, Begini Penanganan dan Pencegahannya

Penulis : Maria Fatima Bona
14 Nov 2022 | 09:16 WIB
BAGIKAN
Dalam rangka Hari Pneumonia Sedunia 2022, Pfizer dan Lippo General Insurance didukung Siloam Hospitals menyelenggarakan sebuah diskusi bertajuk "Risiko Pneumonia di Era New Normal: Siapa Saja, Dimana Saja, Bisa Kena", yang menyampaikan tentang pencegahan dan proteksi diri dari bahaya pneumonia, atau juga dikenal dengan istilah radang paru, dari sisi kesehatan maupun dari sisi finansial di Hotel Aryaduta Karawaci, Tangerang Selatan, Banten, pada 11-12 November 2022.
Dalam rangka Hari Pneumonia Sedunia 2022, Pfizer dan Lippo General Insurance didukung Siloam Hospitals menyelenggarakan sebuah diskusi bertajuk "Risiko Pneumonia di Era New Normal: Siapa Saja, Dimana Saja, Bisa Kena", yang menyampaikan tentang pencegahan dan proteksi diri dari bahaya pneumonia, atau juga dikenal dengan istilah radang paru, dari sisi kesehatan maupun dari sisi finansial di Hotel Aryaduta Karawaci, Tangerang Selatan, Banten, pada 11-12 November 2022.

JAKARTA, Investor.id -  Pneumonia merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan yang dapat menyerang orang dewasa dan anak-anak. Untuk mencegah agar tidak terkena pneumonia, maka sebaiknya kenali penyebab, faktor risiko, gejala dan pencegahannya agar semua bisa terlindungi dari risiko fatal akibat pneumonia.

Presiden Direktur Pfizer Indonesia, Nora T. Siagian menyampaikan, semua orang bisa terjangkit pneumonia, dan risiko pneumonia semakin meningkat bagi anak di bawah 2 tahun dan lansia di atas 65 tahun.  

“Oleh sebab itu, sangatlah penting bagi masyarakat untuk meningkatkan pemahaman lebih jauh tentang penyakit ini serta faktor risiko dan pencegahannya agar terhindar dari penyakit mematikan tersebut,” ujar Nora.

Sebagaimana diketahui, dalam rangka Hari Pneumonia Sedunia 2022, Pfizer dan Lippo General Insurance didukung Siloam Hospitals menyelenggarakan sebuah diskusi bertajuk “Risiko Pneumonia di Era New Normal: Siapa Saja, Dimana Saja, Bisa Kena”, yang menyampaikan tentang pencegahan dan proteksi diri dari bahaya pneumonia, atau juga dikenal dengan istilah radang paru, dari sisi kesehatan maupun dari sisi finansial.

Advertisement

Nora menyebutkan, di seluruh dunia, pneumonia adalah satu-satunya pembunuh menular terbesar pada orang dewasa dan anak-anak. Pneumonia telah merenggut nyawa 2,5 juta jiwa, termasuk 672.000 anak-anak, pada tahun 2019. Hal ini menandakan pentingnya pencegahan dini dari penyakit tersebut. Pneumonia menyerang sekitar 450 juta orang setiap tahunnya.

Di Indonesia, berdasarkan data RISKESDAS Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2018, prevalensi pneumonia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan, yaitu sekitar 2%. Sedangkan tahun 2013 adalah 1,6%. Sebagai perbandingan, bagi orang dewasa di Amerika Serikat (AS), pneumonia merupakan salah satu penyebab teratas orang dewasa memerlukan perawatan ke rumah sakit setelah bersalin.

Sekitar 1 juta orang dewasa di Amerika Serikat ke rumah sakit karena pneumonia dan 50,000 jiwa meninggal karena pneumonia. Oleh karena itu, pneumonia dikenal sebagai salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas tertinggi di seluruh dunia.

Spesialis Paru dari Rumah Sakit Siloam, dr. Allen Widysanto menjelaskan, pneumonia adalah infeksi atau peradangan akut di jaringan paru yang umumnya disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, seperti bakteri, virus, parasit, jamur paparan terhadap bahan kimia, bisa juga akibat kerusakan fisik paru.  

“Radang paru dapat menyerang siapa aja, namun risiko tertinggi lebih besar bagi anak di bawah usia dua tahun, dan dewasa di usia 65 tahun,” ucapnya.

Ia menyampaikan bahwa gejala pneumonia dapat berupa nyeri dada saat bernafas atau batuk-batuk yang dapat menghasilkan dahak, kelelahan, demam, berkeringat dan menggigil kedinginan, mual, muntah dan sesak nafas.

Adapun faktor risiko penyebab pneumonia komunitas pada dewasa dapat disebabkan oleh kondisi seperti orang dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun karena kehamilan, HIV, penggunaan steroid atau obat-obatan kanker, atau orang dengan penyakit penyerta termasuk asma, diabetes, gagal jantung, penyakit liver, ginjal, stroke, luka di kepala, demensia, orang yang secara terus-menerus terpapar oleh polusi udara maupun asap beracun di tempat bekerja orang yang tinggal di tempat padat, perokok,dan peminum alkohol.

“Faktor risiko tersebut menunjukkan pentingnya vaksinasi pneumonia untuk pasien dengan penyakit penyerta dan untuk melindungi paru-paru pekerja yang memiliki pekerjaan khusus yang rentan terhadap penyebab pneumonia,” ungkap Allen Widysanto.

Oleh karena itu, sangatlah penting bagi masyarakat untuk mengetahui bagaimana cara mencegah pneumonia yang efektif.  Berikut beberapa informasi penting mengenai pneumonia pada orang dewasa dan anak-anak yang perlu diketahui, serta cara pencegahannya.

Pneumonia pada anak

Berdasarkan data statistik UNICEF Indonesia tahun 2021, penyakit pneumonia merupakan salah satu penyebab kematian terbesar pada balita dan anak di dunia dibandingkan dengan penyakit lainnya. Laporan WHO di tahun 2021 juga menyatakan pneumonia menyumbang sekitar 14% dari kematian semua anak-anak di bawah usia 5 tahun.

Anak-anak memiliki risiko besar terkena pneumonia. Hal ini dikarenakan sistem kekebalan tubuh anak dan balita yang belum sempurna dan sepenuhnya berkembang. Maka dari itu, pneumonia cenderung lebih cepat menunjukkan gejala pada anak-anak.

Pada dasarnya, pneumonia pada anak tidak hanya disebabkan oleh satu faktor. Pneumonia bisa diakibatkan oleh gabungan dari beberapa faktor seperti kekebalan tubuh, lingkungan  seperti eksposur terhadap asap rokok dan polusi, dan bawaan penyakit paru sejak lahir.

Perlu digaris bawahi pula bahwa pneumonia dapat menyerang anak yang sehat maupun anak-anak yang sudah memiliki penyakit bawaan. Akan tetapi, risiko pneumonia pada anak juga akan meningkat jika anak memiliki kondisi kesehatan seperti:

·         Dibawah usia dua tahun

·         Memiliki penyakit kronis pada jantung, paru-paru dan ginjal

·         Diabetes

·         Terinfeksi HIV, pernah melakukan transplantasi organ atau memiliki kondisi masalah pada sistem kekebalan tubuh

·         Menggunakan implan pada koklea

·         Sindrom nefrotik

·         Penyakit sickle cell

·         Limpa rusak atau tidak ada limpa

·         Kebocoran cairan serebrospinal (CSF)

·         Umumnya, gejala pneumonia pada anak cukup bervariasi. Namun, pneumonia pada anak biasanya ditandai dengan:

·         Batuk berdahak

·         Demam

·         Sesak napas

·         Radang tenggorokan

·         Nyeri pada dada ketika batuk atau bernapas

·         Tampak tarikan atau cekungan di dada bagian bawah saat bernapas

·         Mual

·         Tubuh yang menjadi mudah Lelah

·         Infeksi telinga

Pencegahan pneumonia pada anak

Pneumonia merupakan salah satu penyakit yang membunuh ratusan ribu anak-anak setiap tahun di seluruh dunia. Meskipun begitu, pneumonia pada anak sebenarnya mudah untuk dicegah.

Pertama, menerapkan gaya hidup bersih merupakan salah satu kunci utama dalam mencegah penularan pneumonia pada anak. Praktikkan kebiasaan anak untuk rajin mencuci tangan dengan sabun dan menerapkan etika batuk dan bersin saat berada di tempat umum. Selain menjaga kebersihan, penting juga untuk memastikan anak menjaga pola hidup sehat dengan rutin berolahraga dan konsumsi makanan sehat dan bergizi.

Kedua, yang juga dapat dilakukan untuk mencegah penularan pneumonia pada anak adalah dengan melakukan imunisasi pneumonia atau PCV (Pneumonococcal Conjugate Vaccines).  Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin pneumonia lengkap pada anak wajib diberikan secara berkala pada usia 2, 4, 6 dan 12-15 bulan. Dengan pemberian imunisasi pneumonia, diharapkan anak dapat terhindar dari risiko penyakit pneumonia.

Pneumonia pada orang dewasa

Selain menyerang anak-anak, pneumonia juga menyerang orang dewasa. Meski orang dewasa memiliki kekebalan tubuh yang baik, namun  seiring dengan bertambahnya usia, tingkat kekebalan tubuh juga akan semakin menurun.

Berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) 2015 menunjukkan bahwa orang dewasa berusia 35-85 tahun juga memiliki risiko tinggi terpapar pneumonia jika dibandingkan dengan anak-anak

Adapun penyebab, faktor risiko, dan gejala pneumonia pada orang dewasa sama halnya dengan pneumonia pada anak-anak. Dalam hal ini, pneumonia pada orang dewasa juga disebabkan oleh beberapa faktor seperti usia, lingkungan dan gaya hidup.

Semua orang dewasa dengan berbagai kondisi kesehatan juga memiliki risiko untuk terjangkit pneumonia. Akan tetapi, risiko pneumonia pada orang dewasa juga akan semakin tinggi jika mereka memiliki kondisi kesehatan dan penyakit bawaan seperti;

·         Umur di atas 50 tahun

·         Terinfeksi HIV atau memiliki masalah pada sistem kekebalan tubuh

·         Penyakit jantung, paru-paru, ginjal atau hati kronis

·         Tekanan darah tinggi

·         Perokok

·         Konsumsi alkohol

·         Asma

·         Diabetes

·         Implan koklea

·         Kanker

·         Kebocoran cairan serebrospinal (CSF)

·         Sindrom nefrotik

Dalam konteks gejala, pneumonia pada orang dewasa cenderung memiliki gejala sedikit berbeda dengan yang dialami anak-anak. Gejala pneumonia bisa muncul secara tiba-tiba atau berlangsung selama berminggu-minggu. Gejala pneumonia pada orang dewasa meliputi demam tinggi, menggigil, sulit bernapas, nyeri dada, batuk berdahak disertai darah, sakit kepala, kelelahan, nyeri otot serta mual dan muntah.

Dalam kasus yang lebih parah, penderita pneumonia dewasa harus dirawat dalam perawatan intensif (ICU) dengan menggunakan alat bantu napas seperti ventilator.

Pencegahan pneumonia pada orang dewasa

Risiko infeksi pneumonia pada orang dewasa dapat dikurangi dengan dua cara, yaitu dengan menerapkan gaya hidup sehat dan pemberian vaksin pneumonia. Menerapkan gaya hidup sehat adalah salah satu solusi utama dalam mencegah infeksi pneumonia pada orang dewasa.

Berikut adalah cara-cara yang bisa dilakukan untuk mencegah pneumonia:

·         Rajin mencuci tangan secara teratur

·         Menerapkan etika batuk dan bersin saat berada di tempat umum

·         Makan, olahraga dan istirahat teratur

·         Berhenti merokok

Selain menerapkan gaya hidup sehat, CDC juga merekomendasikan pemberian vaksin pneumonia untuk orang dewasa.  Pemberian vaksin pneumonia sangat disarankan untuk orang dewasa dengan imunitas lemah atau memiliki penyakit komorbid.

Menurut rekomendasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), pemberian vaksinasi pneumonia dilakukan sebanyak satu kali seumur hidup guna untuk merangsang sistem imun terhadap pneumonia. Selain itu,  vaksin membuktikan bahwa vaksin pneumonia memiliki efikasi yang tinggi untuk melindungi dari pneumonia pada populasi sehat maupun populasi dengan risiko kesehatan.

Manfaat vaksinasi pneumonia

Allen Widysanto mengatakan vaksinasi pneumonia dapat mencegah infeksi dari bakteri dan virus yang dapat menyebabkan pneumonia. Hal ini berlaku baik bagi anak maupun dewasa. Pemberian vaksin pada anak diprioritaskan dalam dua tahun pertama usia anak, karena sistem imun yang lebih rendah dan menyebabkan anak lebih rentan terhadap penyakit menular, terutama yang disebabkan oleh bakteri pneumokokus seperti pneumonia.

“Vaksinasi pneumonia bagi anak dilakukan sebanyak tiga kali plus satu kali sebagai boosting atau vaksin penguat. “Sedangkan untuk dewasa, vaksinasi pneumonia hanya perlu dilakukan sebanyak satu kali,” jelas dr. Allen Widysanto.

Allen Widysanto menuturkan, dengan adanya vaksin pneumonia untuk anak dan dewasa, diharapkan dapat mengurangi beban pneumonia pada sistem kesehatan di Indonesia.

Proteksi diri

Menimbang risiko pneumonia yang dapat berdampak terhadap siapa saja dan dimana saja, Presiden Direktur Lippo General Insurance, Agus Benjamin, menegaskan tentang pentingnya proteksi diri dari risiko pneumonia dari segi kesehatan dan finansial.

“Perencanaan keuangan dalam kesehatan keluarga dapat mengurangi stress pada kehidupan, menjadikan keluarga lebih tenang, dan lebih sejahtera,” ucapnya.

Agus Benjamin menguraikan bahwa dengan membuat anggaran untuk jaminan kesehatan akan sangat membantu ketika ada kebutuhan tak terduga muncul.

Literasi keuangan dalam kesehatan keluarga akan membantu seseorang memutuskan program proteksi yang dibutuhkan untuk mengantisipasi ketidakpastian dimasa depan,” ucapnya. 

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 33 menit yang lalu

Strategi Trisula (TRIS) Genjot Kinerja 2026

PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perusahaan pada tahun 2026.
Business 34 menit yang lalu

Perkuat Kapasitas Serapan, Bulog akan Bangun 100 Gudang Penyimpanan Baru

Perum Bulog akan menambah 100 gudang penyimpanan untuk memperkuat infrastruktur pascapanen dan meningkatkan kapasitas serapan petani.
National 55 menit yang lalu

Presiden Prabowo akan Sambut Kedatangan 3 Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon

Presiden Prabowo dijadwalkan menyambut kedatangan tiga jenazah prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon.
International 57 menit yang lalu

Enam Minggu Perang, Ribuan Nyawa Melayang dan 3 TNI Gugur

Update korban perang Timur Tengah: 3.500 tewas di Iran, 13 tentara AS gugur, dan 3 prajurit TNI Indonesia tewas saat tugas PBB di Lebanon.
Business 1 jam yang lalu

Perum Bulog Catat Stok Beras  4,4 Juta Ton, Lampaui Target 2026

Perum Bulog mencatat stok beras nasional 4,4 juta ton melebihi target serapan sebesar 4 juta ton. Swasembada pangan optimistis tercapai.
International 2 jam yang lalu

Trump Usulkan ’Golden Dome’ dan Anggaran Perang Rp 25,5 Kuadriliun

Presiden Trump usulkan anggaran militer AS 2027 US$ 1,5 triliun. Fokus pada sistem pertahanan Golden Dome dan pangkas dana domestik.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia