Cacar Api Berisiko Picu Stroke bagi Penderita Jantung
JAKARTA, investor.id – Setiap orang yang pernah menderita cacar air berisiko menderita cacar api. Namun bagi penderita penyakit jantung dan hipertensi, cacar api berisiko memicu stroke.
“Pencegahan cacar api sama pentingnya dengan menjaga kesehatan jantung. Pasien dengan penyakit jantung perlu mendapatkan edukasi agar terhindar dari risiko infeksi yang dapat memperburuk kondisi jantung, mengingat kondisi jantung yang sudah melemah dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, termasuk cacar api,” kata Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP PERKI) Dr Ade Meidian Ambari, Sp. JP(K), PhD dalam kampanye Kenali Cacar Api yang digelar GSK Indonesia bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, dan Yayasan Jantung Indonesia di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Dr Ade mengungkapkan, meskipun jarang terjadi, cacar api juga dapat berkaitan dengan komplikasi vaskular seperti stroke dan serangan jantung, namun risiko absolutnya tetap rendah dan hanya terjadi pada sebagian kecil pasien.
“Saat terserang cacar api, penderitanya akan merasakan sakit, pedih, dan panas luar biasa. “Pada penderita penyakit jantung, kondisi ini bisa menimbulkan hipertensi dan memicu stroke. Oleh karena itu, pencegahan dan edukasi sejak dini menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan jantung sekaligus meminimalkan risiko komplikasi,” ungkap dr Ade.
Menyerang Saat Imun Turun
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid. Menjelaskan, virus cacar api sama dengan virus cacar air. “Jadi, kalau dulu terserang cacar air, virusnya itu tidak benar-benar hilang, tapi sembunyi di saraf-saraf ganglion tubuh. Virus ini akan kembali menyerang menjadi cacar api bila imun tubuh turun,” kata dr Nadia.
Untuk mencegah terjadinya cacar api, vaksinasi dapat dilakukan oleh orang dewasa. “Kami menekankan bahwa pencegahan merupakan langkah krusial untuk melindungi kesehatan masyarakat sekaligus menjaga produktivitas nasional. Imunisasi dewasa bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan kesehatan masyarakat yang penting untuk mengurangi beban penyakit, angka rawat inap, serta dampak ekonomi,” ujar dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid.
Data survei global yang dilaksanakan oleh GSK menyoroti bahwa 42% orang yang pernah mengalami cacar api mengalami nyeri berat yang mengganggu aktivitas sehari-hari, dan 33% menyebut penyakit ini mengganggu aktivitas dan produktivitas harian. Studi klinis juga menunjukkan bahwa sejumlah penyakit kronis dapat meningkatkan risiko terkena cacar api, seperti penyakit jantung (CVD) sebesar 34%, penyakit ginjal kronis (PGK) 29%, diabetes 38%, serta PPOK atau asma hingga 41%.1,5,6,7,8,9
Namun demikian, lebih dari separuh (54%) responden mengaku belum pernah membicarakan cacar api dengan dokter mereka, yang mencerminkan bahwa pemahaman terhadap peningkatan risiko dan potensi keparahan penyakit ini masih perlu ditingkatkan. Hal ini menggarisbawahi pentingnya integrasi edukasi risiko cacar api dalam pengelolaan kondisi kesehatan kronis, serta peningkatan kesadaran masyarakat secara umum untuk mendorong diskusi yang lebih proaktif dengan tenaga kesehatan terkait pencegahan dan perlindungan diri.
Dampak nyata penyakit ini juga tercermin dari pengalaman pasien. Lionel (59), seorang profesional dari Singapura dengan riwayat penyakit kardiovaskular, yang sempat mengalami kesulitan dalam mendapatkan diagnosis dan menggambarkan nyeri cacar api sebagai salah satu yang paling hebat yang pernah dirasakannya. Bahkan setelah infeksi mereda, nyeri saraf masih terus berlangsung, memberikan dampak tidak hanya pada dirinya tetapi juga keluarganya.
Menjawab kebutuhan tersebut, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia dan GSK Indonesia akan meresmikan kolaborasi untuk menghadirkan inisiatif preventif bagi pasien kardiovaskular melalui HeartShield. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan mendorong langkah pencegahan, mengingat pasien dengan penyakit jantung memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap infeksi dan komplikasi.
Upaya ini dilakukan melalui sejumlah pendekatan, antara lain edukasi pasien melalui platform digital seperti website kenalicacarapi.com yang menyediakan informasi komprehensif, kisah pasien, serta fitur penilaian risiko mandiri cekrisikocacarapi.com; pemanfaatan chatbot KECAPI berbasis WhatsApp yang memberikan informasi tepercaya untuk membantu masyarakat memahami cacar api dan menghindari misinformasi; serta kampanye “Ayo Kita Vaksin” (@ayokitavaksin) di media sosial. Inisiatif ini juga didukung oleh penguatan kapasitas tenaga medis melalui pelatihan dan integrasi vaksinasi dalam praktik klinis sehari-hari.
Reswita Dery Gisriani, Director of Market Access, Communication and Government Affairs GSK Indonesia memaparkan, di Indonesia, risiko penyakit cacar api tertinggi ditemukan pada pasien HIV/AIDS (3,22 kali), diikuti kanker (2,17 kali) dan penyakit autoimun (1,3–2 kali).
Risiko juga meningkat pada penderita PPOK (1,41 kali), penyakit kardiovaskular (1,34 kali), dan diabetes (1,24 kali). Selain penyakit penyerta, faktor lain seperti usia lanjut (1,65 kali), riwayat keluarga dengan cacar api (2,48 kali), dan stres (1,23 kali) juga berperan dalam meningkatkan risiko terkena cacar api.
“Tidak hanya itu, cacar api juga berpotensi terjadi kembali pada individu yang sebelumnya pernah mengalaminya. Maka dari itu, perlindungan terhadap penyakit ini perlu menjadi perhatian, tidak hanya bagi kelompok berisiko, tetapi juga masyarakat secara luas,” kata Reswita.
Editor: Mardiana Makmun
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






