Epidemiolog Prediksi Kasus Demam Dengue Meningkat pada 2027
JAKARTA, investor.id – Epidemiolog memprediksi kasus demam berdarah akan meningkat pada 2027. Kondisi ini dipicu oleh cuaca ekstrem dan El Nino.
“Kondisi cucaca yang unik, ekstrem, dan juga fenomena El Nino menjadi warning system kami di 2027, nanti sepertinya ada peningkatan kasus DBD atau demam berdarah dengue,” ungkap epidemiolog yang juga Kepala Seksi (Kasi) Surveilans, Epidemiologi, Dinas Kesehatan Provinsi DKI dr Budi Setiawan M.Epid dalam acara Aktivasi ABCD Land – Ayo Bersama Cegah DBD yang digelar Takeda dalam rangka Hari Dengue ASEAN, Jumat (19/6/2026).
Hingga 15 Juni 2026, tercatat 5.700 kasus infeksi dengue di DKI Jakarta. Mengantisipasi potensi peningkatan kasus DBD itu, Budi mengatakan Pemerintah akan semakin menggalakkan upaya pencegahan. “Kami selalu galakkan edukasi pencegahan DBD. Jakarta sudah memiliki kalender 10 tahunan. Jadi, mulut kami akan lebih berbusa di banding 2026 untuk meminta masyarakat meningkatkan pencegahan DBD,” ujar Budi.
Menurut Budi, Kementerian Kesehatan sudah mengeluarkan strategi meningkatkan penanggulangan DBD, mulai dari penguatan pemberantasan sarang nyamuk, dan lain-laib.
“Tapi sampai sekarang Jakarta itu unik. Di satu sisi mobilitasnya tinggi banget, orangnya banyak bergerak sehingga memiliki potensi menularkan penyakit DB dengan cepat. Di sisi lain di Jakarta orangnya menumpuk di satu tempat. Jadi tantangannya itu bergabung di Jakarta. (Orang) yang banyak bergerak bisa menularkan orang yang jauh dari tempat tinggalnya, dan yang menumpuk itu mempercepat penularannya, sehingga tantangan itu membuat kami merangkul banyak pihak, mulai masyarakat hingga pihak swasta, untuk bersama-sama menanggulangi DBD,” papar Budi.
Karena itu, lanjut Budi, menjelang 2027, Pemerintah DKI Jakarta telah melakukan beberapa gerakan. “Diantaranya gerakan kepedulian sampah terutama, dan kebersihan lingkungan serta inovasi teknologi bakteri Wolbachia untuk melumpuhkan virus DB yang terdapat di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti,” papar Budi.
Seperti diketahui, demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Urgensi pencegahan DBD semakin meningkat seiring dampak perubahan iklim yang kian nyata. Peluang terbentuknya El Niño mencapai 80% pada periode Juni hingga Agustus 2026, dan berpotensi berlanjut dengan probabilitas di atas 90% hingga akhir tahun. Sebagian besar model prakiraan iklim memperkirakan El Niño kali ini akan mencapai intensitas sedang hingga kuat.
“Kondisi ini diperkirakan memengaruhi suhu udara dan pola curah hujan di berbagai wilayah Indonesia berpotensi memperluas habitat dan mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti, sehingga meningkatkan risiko penyebaran DBD secara lebih luas dan potensi wabah yang berkepanjangan,” papar Budi Setiawan.
Beban Ekonomi Capai Rp9 Triliun
Di Indonesia, DBD menjadi beban kesehatan dan ekonomi yang semakin signifikan. Sebuah studi ilmiah terbaru dari Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkirakan total beban ekonomi DBD mencapai hampir Rp9 triliun pada tahun 2024, dengan lebih dari 2 juta kasus rawat inap.
Studi ini juga menunjukkan bahwa BPJS Kesehatan menanggung sekitar Rp3 triliun untuk pembiayaan layanan kesehatan terkait DBD, sementara pasien peserta BPJS dan keluarganya masih harus menanggung tambahan biaya sekitar Rp3,5 triliun untuk pengeluaran langsung maupun kehilangan pendapatan selama masa sakit, dan pasien non-BPJS beserta keluarganya menanggung beban sekitar Rp2,2 triliun.
Direktur Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr Prima Yosephine, MKM, menegaskan bahwa beban DBD masih tinggi dan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan peningkatan. “Perubahan iklim dan pola cuaca yang semakin tidak menentu berpotensi meningkatkan risiko penyebaran DBD. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah pencegahan sejak dini,” kata dr Prima.
Pemerintah, kata dr Prima, telah merumuskan Strategi Nasional (Stranas) Penanggulangan Dengue 2021-2025 yang menjadi pedoman dalam memerangi DBD di Indonesia. Upaya ini akan semakin diperkuat melalui Rencana Aksi Nasional (RAN) yang saat ini sedang dikembangkan, dengan pendekatan komprehensif dan kolaboratif yang mencakup edukasi masyarakat, pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus, hingga pemanfaatan berbagai inovasi pencegahan yang tersedia, termasuk vaksinasi. Tentunya hal ini tidak bisa dilakukan hanya oleh Pemerintah saja.
“Kami juga mendorong keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga sektor swasta,” lanjut dr Prima.
DBD Mengancam Semua Kelompok Usia
Data Kementerian Kesehatan per Januari 2026 menunjukkan bahwa dalam tujuh tahun terakhir, kematian akibat DBD paling banyak terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun, menyumbang 41% dari total kematian akibat DBD pada 2025. Menegaskan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak fatal DBD.
Namun ancaman ini tidak berhenti di sana. Dalam lima tahun terakhir, kasus DBD paling banyak ditemukan pada kelompok usia 15–44 tahun, mencapai 42% dari total kasus pada 2025. Data ini mempertegas bahwa DBD adalah ancaman nyata bagi seluruh kelompok usia, bukan sekadar penyakit anak.
Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr dr Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, menjelaskan, “DBD sering kali identik dengan penyakit pada anak, padahal orang dewasa juga dapat terinfeksi dan mengalami komplikasi serius,” kata dr Sukamto.
Risiko ini semakin besar pada individu dengan kondisi penyerta, seperti: hipertensi, berisiko komplikasi 2-3 kali lebih tinggi; diabetes melitus, 3-5 kali lebih tinggi; penyakit ginjal, hingga 7 kali lebih tinggi; dan mereka yang memiliki asma atau penyakit paru kronik, bahkan 2-12 kali lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa komorbiditas.
Selain berdampak pada kesehatan, DBD juga dapat memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup pasien dan keluarganya. Pencegahan yang komprehensif perlu menjadi perhatian seluruh kelompok usia. “PAPDI telah merekomendasikan vaksinasi DBD bagi orang dewasa usia 18-60 tahun sebagai bagian dari upaya perlindungan yang komprehensif.”
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung upaya pencegahan DBD di Indonesia. “DBD masih menjadi penyakit serius yang mengancam jiwa di seluruh Indonesia, dan bebannya terus bertumbuh. Rata-rata kasus dalam lima tahun terakhir hampir tiga kali lipat dibandingkan dua dekade sebelumnya, angka yang menunjukkan bahwa kita belum bisa berpuas diri dan tidak boleh lengah," kata Andreas.
Andreas menegaskan, Takeda berkomitmen untuk terus mendukung upaya pencegahan DBD melalui edukasi yang menjangkau masyarakat luas, perluasan akses terhadap perlindungan yang inovatif, serta kemitraan yang erat dengan pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, dan seluruh pemangku kepentingan.
"Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, kita dapat membantu lebih banyak keluarga Indonesia mengambil langkah perlindungan yang tepat sebelum terlambat,” tandas Andreas.
Editor: Mardiana Makmun
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now



