Jumat, 15 Mei 2026

Rakyat Kecil Tetap Kena Imbas, Kendati PPN 12% Sasar Barang Mewah

Penulis : Alfida Rizky Febrianna
8 Des 2024 | 23:23 WIB
BAGIKAN
Suasana super market premium di pusat perbelanjaan di Jakarta, Minggu (8/12/2024). (B-Univese Photo/Joanito De Saojoao)
Suasana super market premium di pusat perbelanjaan di Jakarta, Minggu (8/12/2024). (B-Univese Photo/Joanito De Saojoao)

JAKARTA, investor.id – Dampak kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12% dinilai akan tetap membebani masyarakat berpenghasilan menengah dan rendah, meskipun pemerintah memberlakukan PPN tersebut hanya pada barang-barang mewah.

Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat mengatakan, peningkatan tarif PPN untuk barang mewah, meski secara langsung menyasar kelompok ekonomi atas, juga akan memberikan dampak pada kelompok masyarakat menengah dan kecil.

Achmad menjelaskan, dampak kebijakan PPN 12 persen ini akan dirasakan oleh kelompok ekonomi kecil melalui mekanisme ekonomi “spill over effect”, yakni ketika harga barang-barang mewah mengalami kenaikan, biaya hidup secara keseluruhan juga meningkat

ADVERTISEMENT

"Misalnya, kenaikan tarif PPN pada kendaraan bermotor mewah dapat memengaruhi biaya logistik dan transportasi barang kebutuhan pokok. Akhirnya, konsumen dari semua lapisan ekonomi harus membayar harga yang lebih tinggi untuk barang kebutuhan sehari-hari," jelasnya dalam keterangan resmi, Minggu (8/12/2024).

Selain itu, Achmad menuturkan, kelompok kecil juga sering kali bekerja di sektor-sektor yang mendukung konsumsi barang mewah. Ketika permintaan barang mewah menurun akibat kenaikan pajak, pekerjaan mereka ikut terdampak. 

"Contohnya, pekerja di industri perhotelan, catering untuk acara-acara besar, atau bahkan pedagang kecil yang berjualan di sekitar kawasan mewah bisa kehilangan pendapatan jika konsumsi di sektor ini menurun," jelasnya.

Selanjutnya, tarif PPN yang tinggi untuk barang mewah ini juga menciptakan risiko bagi kelompok menengah yang sedang berusaha meningkatkan taraf hidupnya.

Menurut Achmad, kelompok menengah sering kali menjadi tulang punggung ekonomi nasional, tetapi mereka juga paling rentan terhadap kebijakan fiskal yang kurang memperhatikan dampak lanjutan. 

"Ketika harga barang yang dulunya terjangkau oleh mereka menjadi lebih mahal, daya beli kelompok ini akan melemah. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menghambat mobilitas sosial dan pertumbuhan ekonomi," ucapnya. 

Selain itu, kelompok menengah sering kali menggunakan jasa atau produk yang berhubungan dengan barang mewah, baik secara langsung maupun tidak langsung.

"Dengan kenaikan tarif pajak, pengeluaran mereka untuk kebutuhan ini akan meningkat, mengurangi kapasitas mereka untuk menabung atau berinvestasi," paparnya.

Editor: Maswin

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Macroeconomy 15 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 47 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 58 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia