Utang Luar Negeri Naik Jadi US$ 431,7 Miliar pada Triwulan IV-2025
JAKARTA,investor.id – Bank Indonesia (BI) melaporkan utang luar negeri (ULN) Indonesia naik menjadi US$ 431,7 miliar pada triwulan IV-2025. ULN lebih tinggi US$ 4,1 miliar dari posisi triwulan III-2025 yang sebesar US$ 427,6 miliar.
“Perkembangan posisi ULN triwulan IV-2025 terutama dipengaruhi oleh ULN sektor publik,” ucap Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi yang diterima pada Rabu(18/2/2026).
Ramdan menjelaskan bahwa kondisi struktur ULN Indonesia tetap sehat karena pengelolaan ULN dilakukan dengan menerapkan prinsip kehati-hatian. Hal ini tecermin dari rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 29,9% pada triwulan IV 2025, serta dominasi ULN jangka panjang dengan pangsa 85,7% dari total ULN. Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN.
“Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” jelas Ramdan.
Posisi ULN pemerintah pada triwulan IV-2025 tercatat sebesar US$ 214,3 miliar, lebih tinggi dibandingkan posisi triwulan III-2025 sebesar US$210,1 miliar. Perkembangan ULN tersebut dipengaruhi oleh aliran masuk modal asing pada surat berharga negara (SBN) internasional seiring tetap baiknya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Sebagai salah satu instrumen dalam pembiayaan APBN, ULN pemerintah dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel dengan pemanfaatan yang terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan program-program prioritas guna menjaga keberlanjutan fiskal serta memperkuat perekonomian nasional.
Penggunaan ULN pemerintah difokuskan untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,1% dari total ULN pemerintah), administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (19,8%), jasa pendidikan (16,2%), konstruksi (11,7%), serta transportasi dan pergudangan (8,6%).
“Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99% dari total ULN pemerintah,” terang Ramdan.
Posisi ULN swasta tercatat sebesar US$192,8 miliar pada triwulan IV-2025, menurun dibandingkan dengan posisi triwulan III-2025 sebesar US$194,5 miliar. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh penurunan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations). Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan; jasa keuangan dan asuransi; pengadaan listrik dan gas; serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 79,9% terhadap total ULN swasta.
“ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,3% terhadap total ULN swasta,” tutur Ramdan.
Editor: Arnoldus Kristianus
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






