Blokade Selat Hormuz Bayangi Neraca Dagang RI
JAKARTA, investor.id – Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai balasan atas serangan gabungan AS-Israel pada Sabtu (28/2/2026) mulai menebar ancaman bagi ekonomi nasional. Langkah ekstrem tersebut berpotensi memutus rantai pasok energi dunia, melonjakkan harga minyak, hingga memperlebar defisit neraca perdagangan migas Indonesia.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memperingatkan bahwa gangguan pada titik rawan perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) ini akan memicu efek domino pada biaya logistik global. Peningkatan risiko keamanan di kawasan tersebut dipastikan mendongkrak biaya asuransi dan ongkos pengapalan.
“Bahkan gangguan sebagian saja sudah cukup memicu pengalihan rute, pengetatan kapasitas kapal, dan kenaikan ongkos logistik yang pada akhirnya merembet ke harga impor bahan baku maupun barang konsumsi,” ujarnya saat dihubungi pada Minggu (1/3/2026).
Menurut Josua, sebagai negara importir bersih (net importer) minyak, risiko terbesar bagi Indonesia adalah lonjakan tagihan impor energi. Kenaikan harga minyak yang persisten dikhawatirkan akan menggerus surplus perdagangan nonmigas yang selama ini menjadi penopang ekonomi.
“Ketidakpastian juga bisa melemahkan permintaan global, sehingga volume ekspor manufaktur dapat tertahan, sementara impor bahan baku tetap mahal karena ongkos energi dan pengapalan naik,” terangnya.
Selain tekanan pada neraca dagang, ketidakpastian geopolitik ini memicu fenomena flight to safety. Investor cenderung memindahkan portofolio dari aset berisiko ke instrumen aman, yang berujung pada pelemahan arus modal ke negara berkembang.
“Dampaknya bagi Indonesia umumnya muncul sebagai tekanan arus modal keluar (capital outflow), pelemahan rupiah, dan kenaikan imbal hasil (yield) surat berharga negara,” pungkas Josua.
Situasi ini kian pelik karena jalur pipa alternatif untuk menghindari Selat Hormuz sangat terbatas. Jika eskalasi terus meningkat dan menyentuh infrastruktur energi, pasar diprediksi akan terus memasang premi risiko tinggi pada harga minyak mentah dunia.
Senada, Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyebut bahwa sekitar 20% perdagangan minyak global melewati Selat Hormuz. Penutupan jalur ini akan langsung menghantam Indonesia dari sisi impor energi, mengingat status RI sebagai importir bersih (net importer) minyak.
“Jika harga energi melonjak dalam periode yang cukup panjang, surplus neraca perdagangan bisa semakin tertekan, bahkan membuka risiko defisit transaksi berjalan,” jelas Yusuf.
Risiko terbesar bagi Indonesia bukan hanya penurunan volume ekspor, melainkan pembengkakan tagihan impor energi. Kondisi ini kian pelik dengan munculnya fenomena risk-off, di mana investor global memindahkan dana dari emerging markets ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS.
“Dampaknya bagi Indonesia muncul sebagai tekanan arus modal keluar (capital outflow), pelemahan rupiah, dan kenaikan imbal hasil (yield) surat berharga negara,” tambah Josua.
Pelemahan rupiah ini diprediksi akan memperberat beban impor dan memicu inflasi domestik melalui kenaikan harga energi dan barang impor. Namun, Yusuf menilai ekonomi Indonesia masih memiliki resiliensi berkat diversifikasi komoditas ekspor dan cadangan devisa yang memadai.
Pemerintah kini didorong untuk melakukan langkah mitigasi pre-emptive dengan mendiversifikasi sumber impor energi dan memperluas mitra dagang. Koordinasi antara Pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas keuangan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta mempertahankan kepercayaan investor di tengah guncangan eksternal.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Astronot Artemis II Bingkai Keindahan Bumi yang Menakjubkan
Astronot Artemis II bagikan foto Bumi yang menakjubkan dari angkasa. Perjalanan manusia pertama menuju Bulan setelah lebih dari 50 tahun.Banjir Setinggi 30-80 cm Rendam Sejumlah Wilayah di Tangerang Selatan
Hujan deras yang mengguyur sejak pagi membuat sejumlah wilayah di Tangerang Selatan terendam banjir dengan ketinggian 30-80 cm.Kejutkan Dunia, Pemimpin Militer Burkina Faso Lontarkan Pernyataan Kontroversial
Pemimpin militer Burkina Faso Ibrahim Traore lontarkan pernyataan kontroversial, sebut demokrasi membunuh dan minta rakyat lupakan pemilu.KLH dan Pemprov Sulsel Bangun PSEL dengan Investasi Rp 3 Triliun
Kementerian LH bersama Pemprov Sulsel memulai pembangunan Pengolah Sampah Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi Rp 3 triliun.Strategi Trisula (TRIS) Genjot Kinerja 2026
PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perusahaan pada tahun 2026.Perkuat Kapasitas Serapan, Bulog akan Bangun 100 Gudang Penyimpanan Baru
Perum Bulog akan menambah 100 gudang penyimpanan untuk memperkuat infrastruktur pascapanen dan meningkatkan kapasitas serapan petani.Tag Terpopuler
Terpopuler






