Top Berita Ekonomi Hari Ini, Selasa 3 Maret 2026
JAKARTA, investor.id - Sebagai media online yang kredibel di bidang ekonomi, investor.id menyajikan berita-berita ekonomi penting sepanjang hari ini, Selasa (3/3/2026), mulai dari mulai dari perang di Timteng meluas, anggaran subsidi energi dikalibrasi, hingga imbauan terbaru OJK untuk memitigasi dampak perang.
Berikut top 5 berita ekonomi hari ini yang patut untuk disimak:
1. Perang Meluas
Eskalasi militer antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran memasuki babak baru yang mengkhawatirkan pada Selasa (3/3/2026). Perang udara yang awalnya terfokus di tanah Iran kini meluas ke Lebanon, memicu kekacauan transportasi global, hingga menyebabkan insiden "salah tembak" yang melibatkan jet tempur AS.
Front pertempuran baru resmi terbuka setelah kelompok milisi Hizbullah, sekutu utama Iran, meluncurkan rentetan rudal dan pesawat tanpa awak (drone) ke wilayah Israel. Menanggapi hal tersebut, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke pinggiran selatan Beirut yang dikuasai Hezbollah.
Kantor berita Lebanon, NNA, melaporkan sedikitnya 31 orang tewas dan 149 lainnya luka-luka akibat serangan tersebut.
2. Imbas Perang, Anggaran Subsidi Energi Dikalibrasi
Pemerintah mulai melakukan kalkulasi cermat terhadap beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Langkah ini diambil menyusul lonjakan harga minyak mentah dunia ke kisaran US$ 78–80 per barel, melampaui asumsi dasar APBN yang mematok Indonesian Crude Price (ICP) sebesar US$70 per barel.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa deviasi harga ini tidak bisa diabaikan karena berdampak langsung pada ketahanan fiskal negara.
“Harga ICP (APBN 2026) itu US$ 70 dolar per barel. Dan sekarang sudah naik menjadi US$ 78 sampai US$ 80 dolar per barel. Ini berdampak pada kenaikan subsidi yang akan ditanggung oleh negara,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (3/3/2026).
3. Formula BHR 2026 untuk Ojol-Kurir: 25% dari Pendapatan Bersih
Pemerintah memastikan seluruh pengemudi ojek online (ojol) dan kurir berbasis aplikasi akan menerima Bonus Hari Raya (BHR) pada momentum Idulfitri 2026. Besaran bonus tersebut akan dihitung berdasarkan performa pendapatan bersih mitra dalam satu tahun terakhir.
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, resmi menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor M/4/HK.04.00/3/2026 sebagai payung hukum pemberian bonus bagi pekerja kemitraan ini. Dalam aturan tersebut, pemerintah menetapkan standar minimum nilai BHR yang harus dibayarkan oleh perusahaan aplikasi.
“BHR Keagamaan diberikan dalam bentuk uang tunai paling sedikit 25% dari rata-rata pendapatan bersih selama 12 bulan terakhir,” ucap Yassierli dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa (3/3/2026).
4. THR Tidak Boleh Dicicil, Wajib Cair H-7 Lebaran
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan 2026 paling lambat disalurkan pada tujuh hari sebelum(H-7) hari raya Idulfitri. Pemberian THR kepada karyawan juga harus disalurkan secara penuh dan tidak dicicil.
“Kami menekankan bahwa THR Keagamaan wajib dibayarkan oleh perusahaan secara penuh dan tidak boleh dicicil,” ucap Yassierli dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan pada Rabu (3/3/2026).
5. OJK: Waspadai Lonjakan Inflasi dan Larinya Modal Asing
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan peringatan serius terkait eskalasi konflik antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS). Peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah ini dinilai berpotensi besar memicu dampak rambatan terhadap stabilitas pasar keuangan global hingga domestik.
Pejabat Sementara (Pjs) Ketua sekaligus Wakil Ketua OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyoroti risiko penutupan Selat Hormuz sebagai urat nadi energi dunia. Mengingat sekitar 20-30% pasokan minyak bumi dan gas alam cair (LNG) global melewati jalur tersebut, gangguan distribusi dipastikan akan mengerek harga energi dan menekan inflasi.
Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu kembalinya periode kebijakan suku bunga tinggi yang lebih lama "higher for longer" oleh bank sentral dunia, sehingga memperketat likuiditas global.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






