Minggu, 21 Juni 2026

Trump Bakal Pidato Nasional Terkait Perang Iran, Singgung Rencana Kuasai Minyak

Penulis : Grace El Dora
2 Apr 2026 | 08:02 WIB
BAGIKAN
Pelangi terbentuk di atas Gedung Putih pada Rabu (1/3/2026) di Washington, AS. (Foto: AP/ Alex Brandon)
Pelangi terbentuk di atas Gedung Putih pada Rabu (1/3/2026) di Washington, AS. (Foto: AP/ Alex Brandon)

WASHINGTON, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan menyampaikan pidato nasional pada Rabu malam waktu setempat (Kamis pagi WIB). Ini merupakan pidato prime-time pertamanya sejak AS dan Israel meluncurkan serangan udara ke Iran lebih dari sebulan lalu.

Pidato ini menjadi momen krusial bagi Trump untuk menjelaskan tujuan akhir perang yang dinilai publik masih simpang siur. Selama beberapa pekan terakhir, pesan dari Gedung Putih dianggap kontradiktif. Antara keinginan mengakhiri konflik atau justru memperluas operasi militer di tengah gempuran udara ke Teheran yang masih berlangsung.

"Kuasai Saja Minyaknya"

Dalam acara makan siang Paskah di Gedung Putih, Trump sempat melontarkan pernyataan kontroversial terkait cadangan minyak Iran.

ADVERTISEMENT

"Kita bisa saja mengambil minyak mereka. Namun, saya tidak yakin rakyat kita memiliki kesabaran untuk itu, yang sebenarnya sangat disayangkan," ujar Trump seperti dikutip Associated Press, Kamis. Trump menambahkan, meski ia lebih suka menguasai minyak tersebut, ia memahami keinginan publik agar AS segera menang dan pulang.

Ketegangan di Selat Hormuz

Trump juga memberikan peringatan keras melalui media sosial, mendesak Iran untuk berhenti memblokir Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital pasokan minyak dunia. Ia mengancam akan membom Iran "kembali ke Zaman Batu" jika pemblokiran terus berlanjut.

Menariknya, Trump juga menyentil sekutu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan negara-negara Asia seperti Korea Selatan, Jepang, dan China. Ia meminta mereka turun tangan mengamankan jalur laut tersebut.

"Biarkan Jepang yang melakukannya. Mereka mendapatkan 90% minyak dari sana. Biarkan China yang melakukannya," tegas Trump.

Respons Iran: "Jangan Gunakan Bahasa Ancaman"

Di sisi lain, Iran menunjukkan perlawanan yang gigih. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, negaranya tidak akan tunduk pada tenggat waktu atau ancaman.

"Anda tidak bisa berbicara dengan rakyat Iran menggunakan bahasa ancaman. Kami tidak menetapkan tenggat waktu dalam mempertahankan diri," ujar Araghchi kepada Al Jazeera. Ia juga menyebut tingkat kepercayaan terhadap negosiasi dengan AS saat ini berada di angka nol.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, juga merilis surat terbuka dalam bahasa Inggris yang mempertanyakan kepentingan rakyat Amerika dalam perang ini, mengingat harga minyak dunia telah melonjak hingga 40% sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu.

Ketidakpastian Diplomatik

Meskipun AS telah mengajukan 15 poin rencana gencatan senjata, termasuk syarat pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian program nuklir, kesepakatan masih jauh dari kata sepakat. Saat ini, ribuan tentara tambahan AS dilaporkan terus bergerak menuju Timur Tengah, memicu spekulasi mengenai kemungkinan serangan darat dalam waktu dekat.

Ketegangan bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran ini mencapai titik didih pada 28 Februari 2026, ketika AS bersama Israel meluncurkan serangan udara terkoordinasi ke wilayah Iran. Operasi ini diklaim sebagai respons atas ancaman keamanan regional dan aktivitas nuklir Iran yang dianggap melampaui batas perjanjian internasional.

Konflik ini telah menyebabkan disrupsi ekonomi global yang signifikan. Pemblokiran Selat Hormuz oleh militer Iran telah mencekik jalur distribusi energi, menyebabkan harga minyak mentah Brent melonjak drastis.

Di dalam negeri AS, kepemimpinan Trump menghadapi tekanan ganda yakni tuntutan untuk mengamankan kepentingan energi nasional sekaligus desakan dari publik yang mulai jenuh dengan keterlibatan militer AS yang berkepanjangan di luar negeri.

Hingga saat ini, komunitas internasional masih terus mengupayakan jalur diplomasi guna mencegah terjadinya perang terbuka secara total di kawasan Teluk.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 13 menit yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 41 menit yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 6 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 7 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 7 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia