Trump Bakal Pidato Nasional Terkait Perang Iran, Singgung Rencana Kuasai Minyak
WASHINGTON, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan menyampaikan pidato nasional pada Rabu malam waktu setempat (Kamis pagi WIB). Ini merupakan pidato prime-time pertamanya sejak AS dan Israel meluncurkan serangan udara ke Iran lebih dari sebulan lalu.
Pidato ini menjadi momen krusial bagi Trump untuk menjelaskan tujuan akhir perang yang dinilai publik masih simpang siur. Selama beberapa pekan terakhir, pesan dari Gedung Putih dianggap kontradiktif. Antara keinginan mengakhiri konflik atau justru memperluas operasi militer di tengah gempuran udara ke Teheran yang masih berlangsung.
"Kuasai Saja Minyaknya"
Dalam acara makan siang Paskah di Gedung Putih, Trump sempat melontarkan pernyataan kontroversial terkait cadangan minyak Iran.
"Kita bisa saja mengambil minyak mereka. Namun, saya tidak yakin rakyat kita memiliki kesabaran untuk itu, yang sebenarnya sangat disayangkan," ujar Trump seperti dikutip Associated Press, Kamis. Trump menambahkan, meski ia lebih suka menguasai minyak tersebut, ia memahami keinginan publik agar AS segera menang dan pulang.
Ketegangan di Selat Hormuz
Trump juga memberikan peringatan keras melalui media sosial, mendesak Iran untuk berhenti memblokir Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital pasokan minyak dunia. Ia mengancam akan membom Iran "kembali ke Zaman Batu" jika pemblokiran terus berlanjut.
Menariknya, Trump juga menyentil sekutu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan negara-negara Asia seperti Korea Selatan, Jepang, dan China. Ia meminta mereka turun tangan mengamankan jalur laut tersebut.
"Biarkan Jepang yang melakukannya. Mereka mendapatkan 90% minyak dari sana. Biarkan China yang melakukannya," tegas Trump.
Respons Iran: "Jangan Gunakan Bahasa Ancaman"
Di sisi lain, Iran menunjukkan perlawanan yang gigih. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, negaranya tidak akan tunduk pada tenggat waktu atau ancaman.
"Anda tidak bisa berbicara dengan rakyat Iran menggunakan bahasa ancaman. Kami tidak menetapkan tenggat waktu dalam mempertahankan diri," ujar Araghchi kepada Al Jazeera. Ia juga menyebut tingkat kepercayaan terhadap negosiasi dengan AS saat ini berada di angka nol.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, juga merilis surat terbuka dalam bahasa Inggris yang mempertanyakan kepentingan rakyat Amerika dalam perang ini, mengingat harga minyak dunia telah melonjak hingga 40% sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu.
Ketidakpastian Diplomatik
Meskipun AS telah mengajukan 15 poin rencana gencatan senjata, termasuk syarat pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian program nuklir, kesepakatan masih jauh dari kata sepakat. Saat ini, ribuan tentara tambahan AS dilaporkan terus bergerak menuju Timur Tengah, memicu spekulasi mengenai kemungkinan serangan darat dalam waktu dekat.
Ketegangan bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran ini mencapai titik didih pada 28 Februari 2026, ketika AS bersama Israel meluncurkan serangan udara terkoordinasi ke wilayah Iran. Operasi ini diklaim sebagai respons atas ancaman keamanan regional dan aktivitas nuklir Iran yang dianggap melampaui batas perjanjian internasional.
Konflik ini telah menyebabkan disrupsi ekonomi global yang signifikan. Pemblokiran Selat Hormuz oleh militer Iran telah mencekik jalur distribusi energi, menyebabkan harga minyak mentah Brent melonjak drastis.
Di dalam negeri AS, kepemimpinan Trump menghadapi tekanan ganda yakni tuntutan untuk mengamankan kepentingan energi nasional sekaligus desakan dari publik yang mulai jenuh dengan keterlibatan militer AS yang berkepanjangan di luar negeri.
Hingga saat ini, komunitas internasional masih terus mengupayakan jalur diplomasi guna mencegah terjadinya perang terbuka secara total di kawasan Teluk.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





