Minggu, 21 Juni 2026

Celios: Reformulasi Insentif Pajak ke Sektor Padat Karya Langkah Tepat

Penulis : Prisma Ardianto
24 Apr 2026 | 17:18 WIB
BAGIKAN
Sejumlah pekerja membuat tembok pembatas dalam pembangunan salah satu industri di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)
Sejumlah pekerja membuat tembok pembatas dalam pembangunan salah satu industri di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)

JAKARTA, investor.id – Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai langkah pemerintah yang mengalihkan fokus insentif pajak dari sektor padat modal ke padat karya merupakan langkah strategis yang tepat. Kebijakan ini dianggap sebagai solusi atas tidak optimalnya belanja perpajakan dalam menciptakan lapangan kerja selama ini.

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, mengungkapkan bahwa pemerintah mengalokasikan sekitar Rp 130 triliun setiap tahun untuk belanja pajak, terutama di sektor manufaktur. Namun, insentif tersebut dinilai belum berkorelasi positif dengan penyerapan tenaga kerja secara signifikan.

“Banyak insentif seperti tax holiday dan tax allowance tidak efektif. Misalnya di sektor smelter, ada perusahaan yang justru mencatat kerugian setelah mendapat insentif, sehingga kontribusinya terhadap penerimaan negara tidak optimal,” ujar Bhima, ditukil dari Antara pada Jumat (24/4/2026).

ADVERTISEMENT

Bhima menekankan pentingnya perencanaan industri yang jelas untuk menentukan sektor prioritas. Selain itu, pengawasan ketat pasca-pemberian insentif wajib dilakukan guna memastikan perusahaan memenuhi komitmen, termasuk penyerapan tenaga kerja lokal dan kepatuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

“Pengawasan insentif fiskal ini krusial untuk melihat performa perusahaan. Ini harus dimonitor terus oleh Kementerian Keuangan dan kementerian teknis,” tegasnya.

Celios: Reformulasi Insentif Pajak ke Sektor Padat Karya Langkah Tepat
Capaian realisasi investasi triwulan I-2026. (Ilustrasi: Investor Daily/Datasatu).

Lebih lanjut, Bhima mengingatkan agar kebijakan ini diselaraskan dengan tren pajak minimum global sebesar 15% sesuai kesepakatan OECD dan G20.

Sejalan dengan analisis tersebut, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menyatakan pemerintah kini memprioritaskan insentif fiskal bagi investasi yang masuk berdasarkan serapan tenaga kerja, bukan sekadar besarnya nilai modal.

Sebagai contoh, proyek pengolahan kelapa yang nilainya relatif kecil senilai US$ 100 juta (sekitar Rp 1,72 triliun) di Morowali diproyeksikan mampu menyerap 10.000 tenaga kerja. Artinya, setiap investasi senilai Rp 172 juta itu dapat membuka 1 lapangan kerja.

Angka itu terlihat timpang jika dibandingkan dengan realisasi investasi triwulan I-2026 Rp 498,79 triliun yang menyerap 706.569 tenaga kerja baru. Maka dapat pula diketahui 1 lapangan kerja baru tercipta dari nilai investasi sebesar Rp 706 juta.

“(Ke depan) parameter kita tidak semata-mata insentif diberikan karena investasi besar, tetapi kami melihat juga penyerapan tenaga kerjanya,” pungkas Rosan.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 5 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 5 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 5 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
International 6 jam yang lalu

Proyek Ambisius AI Kuras Kas, Investor Pantau Pasar Obligasi

Pembangunan pusat data AI kuras kas perusahaan teknologi. Investor kini wajib pantau suku bunga The Fed dan pasar obligasi global.
Business 6 jam yang lalu

Red Hat Dukung Pengembangan Agentic AI

Red Hat, penyedia solusi open source , baru-baru ini mengumumkan langkah inovatif yang signifikan pada portofolio  Red Hat AI untuk membantu menjembatani kesenjangan antara eksperimen AI dan kendali operasional di tingkat produksi.
International 6 jam yang lalu

Serangan Israel Tewaskan 16 di Lebanon, Dialog AS-Iran di Ujung Tanduk

Gencatan senjata rapuh, serangan Israel tewaskan 16 orang di Lebanon. Masa depan dialog damai nuklir AS-Iran kini kian terancam.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia