Siap Dirikan KEK Keuangan, Airlangga: Agar Investasi Global Tak Cuma Dinikmati Negara Tetangga
JAKARTA, investor.id – Pemerintah tengah mematangkan pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Keuangan untuk memperkuat daya saing investasi Indonesia di kancah global. Langkah ini bertujuan agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton saat aliran modal global mencari tempat aman di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa Indonesia harus segera menghadirkan alternatif pusat keuangan (financial center) berskala internasional, menyusul kesuksesan kawasan serupa di Uni Emirat Arab, Singapura, dan Hong Kong.
“Dengan adanya ketidakpastian di Timur Tengah maka terbuka opsi bagi negara lain. Tentu kalau kita tidak disiapkan maka yang menjadi penikmatnya adalah negara tetangga kita. Indonesia tentu mempersiapkan alternatif terhadap investasi dari family office ataupun financial center. Sekarang kita sedang merinci kebutuhannya,” urai Airlangga dalam Investor Daily Roundtable di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Pemerintah saat ini sedang mengkaji sejumlah instrumen krusial yang dibutuhkan investor global, meliputi sistem pengelola aset (trustee), badan hukum pengelolaan kekayaan (foundation), hingga mekanisme penyelesaian sengketa (dispute settlement) yang setara dengan standar hukum internasional (common law).
“Jadi ini semua sedang dipersiapkan dan untuk daerahnya juga sedang kita monitor,” imbuh Airlangga.
Selain sektor keuangan, fokus pengembangan KEK juga diarahkan pada pusat data (data center) seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Airlangga melihat peluang besar setelah Singapura melakukan moratorium pembangunan data center. Indonesia telah menangkap peluang ini melalui KEK Batam dengan masuknya investasi dari perusahaan raksasa seperti Equinix (AS) dan GDS (China).
“Saya melihat bahwa pembangunan data center sangat berkaitan dengan jumlah penduduk yang besar. Karena itu, investasi di sektor ini menjadi salah satu yang paling diminati di BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal),” kata Airlangga.
Dari sisi skala, Indonesia unggul jauh dibandingkan Singapura. Jika Singapura hanya merencanakan kapasitas sekitar 200 megawatt, satu perusahaan di kawasan Bekasi–Karawang saja mampu membangun hingga 300 megawatt. Keunggulan ini didukung oleh infrastruktur kabel internet bawah laut (landing point fiber optic) di Batam yang terhubung ke Asia Timur, serta Bitung yang terhubung langsung ke Amerika Serikat melalui Guam.
“Di dua lokasi ini kebutuhan akan data center-nya akan meningkat. Memang hampir semua negara memerlukan data center di negara masing-masing, karena untuk memproses lebih cepat dan lebih aman. Jadi kami tidak khawatir mengenai hal itu,” jelas Airlangga.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






