Sabtu, 4 April 2026

Narada Prediksi Saham ZINC Berpotensi Capai Rp 1.300

Penulis : Mashud Toarik
31 Jul 2019 | 11:48 WIB
BAGIKAN
Para pekerja PT Kapuas Prima Coal Tbk di Desa Bintang Mengalih, Kec, Belantikan Raya, Kab. lamandau, Kalimantan Tengah. Foto: KPC
Para pekerja PT Kapuas Prima Coal Tbk di Desa Bintang Mengalih, Kec, Belantikan Raya, Kab. lamandau, Kalimantan Tengah. Foto: KPC

Jakarta, investor.id – PT Narada Asset Management memprediksi, saham PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) berpotensi mencapai target Rp 1.300 per lembar saham dalam tempo 12 bulan ke depan. Artinya ada potensi penguatan sekitar 134% dari harga saham saat ini di level Rp 560 per lembar.

"Dengan asumsi pertumbuhan EPS sebesar 55% dengan EPS di tahun 2019 sebesar 4 dan PE tertinggi 22x. Maka harga wajar di tahun 2020 setelah stock split adalah Rp1.300,” ujar Kiswoyo Adi Joe, Kepala Riset PT Narada Asset Management dalam riset yang diterima Majalah Investor, Rabu (31/7/2019).

Sejumlah faktor dipaparkan Kiswoyo menjadi katalis bagi pertumbuhan earning per share ZINC tahun ini.

Salah satunya yaitu keberhasilan ZINC mendapatkan izin untuk memperluas wilayah eksplorasi hingga 1.500 Hektare (ha) sejak tahun 2018, dari sebelumnya hanya seluas 390 ha. Perseroan optimis bahwa dari hasil eksplorasi ini akan menambah cadangan logam dasar seperti timbal (lead), zinc (seng), bijih besi, perak, emas dan tembaga.

Faktor lain yang cukup penting adalah pabrik flotasi kedua Perseroan akan rampung pada kuartal III-2019. Kendati begitu menurut Kiswoyo, flotasi kedua ini baru dapat digunakan sekitar 33,3% dari total.

Dengan begitu kapasitas produksi flotasi kedua diproyeksi mencapai 119.880 per ton tahun,dengan total estimasi kapasitas produksi untuk kedua flotasi adalah sekitar 480.000 tonore.

Sementara untuk pembangunan smelter timbal (Pb) saat ini masih dalam tahap finalisasi. Perseroan menargetkan dapat mulai mengoperasikan pabrik pemurnian konsentrat timbal ini sekitar bulan September hingga Oktober 2019.

Terkait kinerja, hingga kuartal II-2019, ZINC tercatat meraih angka penjualan sebesar Rp 432,74 miliar atau naik 16,16% jika dibandingkan dengan penjualan di periode yang sama tahun 2018. Kenaikan penjualan ini dikontribusi oleh penjualan seng yang mencapai angka Rp 252,96 miliar.

Sementara laba perseroan hingga kuartal II-2019 tercatat naik menjadi Rp 112,93 miliar dari sebelumnya Rp84,9 miliar pada kuartal II-2018.

Berpatokan pada capaian kinerja tersebut, Narada menilai kinerja pencapatan ZINC telah mencapai 37% dari proyeksi Narada hingga akhir tahun 2019, yakni mencapai Rp 1,17 triliun dengan target laba bersih Rp 171 miliar.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


International 3 menit yang lalu

Jet Tempur F-15 AS Jatuh di Iran, Operasi Penyelamatan Pilot Jadi Rebutan

Jet F-15 AS jatuh di Iran, operasi penyelamatan pilot jadi rebutan kedua pihak. Eskalasi perang kian meluas hingga ancam pasokan energi.
Business 29 menit yang lalu

Operator Transportasi Antisipasi Libur Panjang Paskah

Sejumlah operator transportasi mengantisipasi lonjakan mobilitas masyarakat pada libur panjang Hari Raya Paskah 2026.
International 32 menit yang lalu

12 RT dan 4 Ruas Jalan di Jakbar Terendam Banjir

Banjir rendam 12 RT di Jakarta Barat akibat luapan Kali Angke dan Pesanggrahan. BPBD DKI siagakan personel untuk penyedotan genangan air.
Market 41 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Sabtu 4 April 2026: Kokoh

​​​​​​​Harga emas Antam (ANTM) terpantau kokoh pada hari ini, sabtu (4/4/2026). Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 45 menit yang lalu

Masuk Saham Terkonsentrasi Tinggi, Laba Samator (AGII) Merosot

Laba bersih Samator Indo Gas (AGII) merosot 44,37% pada 2025, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
International 53 menit yang lalu

Kadin: Perang Lumpuhkan Ekonomi Timur Tengah, Biaya Kirim Melonjak 3 Kali

Kadin ungkap dampak perang Iran-AS: Biaya logistik naik 3 kali lipat & pengiriman barang molor hingga 2 bulan. Cek dampaknya bagi Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia