Jumat, 15 Mei 2026

Direksi Borong Saham Unilever (UNVR), Kode Keras?

Penulis : Ghafur Fadillah
29 Mar 2022 | 22:17 WIB
BAGIKAN
Kantor Pusat PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). (Foto: Perseroan)
Kantor Pusat PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). (Foto: Perseroan)

JAKARTA, investor.id – Direktur Utama PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) Ira Noviarti dan Direktur Beauty & Personal Care Unilever Indonesia Ainul Yaqin diketahui memborong saham perseroan. Sebelumnya, UBS menilai bahwa koreksi saham UNVR sudah kebablasan, sehingga membuat valuasinya sangat murah.

Berdasarkan keterangan tertulis kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), yang dikutip pada Selasa (29/3/2022), Ira Noviarti telah membeli 870.000 saham UNVR pada harga Rp 3.460 per saham atau senilai Rp 3,01 miliar. Sebelumnya, Ira yang sudah bekerja selama 16 tahun di Unilever Indonesia tidak memiliki saham perseroan.

Sementara itu, Ainul Yaqin telah membeli sebanyak 296.000 saham UNVR pada harga Rp 3.380 per saham atau senilai Rp 1 miliar. Alhasil, kepemilikan Ainul pada UNVR bertambah menjadi 338.200 saham dari semula 42.200 saham.

ADVERTISEMENT

Menanggapi hal itu, analis Kanaka Hita Solvera, Andhika Cipta Labora menjelaskan bahwa harga UNVR saat ini sudah murah, dengan price to earning ratio (PER) 23,06 kali, lebih murah dibandingkan posisi pada Desember 2021 yang mencapai 27,2 kali. “Jadi, memang menarik untuk dikoleksi dan berpotensi menguat,” kata dia.

Menurut Andhika, hal itu sejalan dengan kondisi pandemi yang mulai membaik dan otomatis memperbaiki daya beli masyarakat, sehingga mendorong perekonomian Indonesia tahun ini. “Kinerja keuangan UNVR juga bakal membaik,” pungkasnya.

Sebelumnya, UBS juga menyebutkan bahwa valuasi UNVR sangat murah karena koreksi tajam. Berdasarkan kalkulasi UBS, saham UNVR diperdagangkan dengan PER 2023 sebesar 20 kali, jauh di bawah rata-rata 10 tahun sebesar 40 kali.

“PER saham UNVR sebesar itu hanya terjadi saat krisis finansial global atau 13 tahun silam,” tulis UBS dalam catatan harian, belum lama ini.

Dalam setahun terakhir, saham UNVR ambruk 49,4% ke level Rp 3.400. Saking terlalu sering turun, sejumlah pelaku pasar menyarankan Unilever untuk go private.

UBS menilai, prospek bisnis Unilever tahun ini cukup menjanjikan. Sebab manajemen bertekad membalikkan keadaan untuk mencetak pertumbuhan laba bersih sekaligus profitabilitas.

Saat bertemu UBS, direksi Unilever Indonesia menuturkan, perseroan menargetkan pendapatan tahun ini setara dengan industri barang konsumsi cepat habis (fast moving consumer goods/FMCG) berkisar 5-6%. Perseroan menyiapkan sejumlah strategi utuk mencegah penurunan pendapatan dan laba bersih.

Perseroan akan berinvestasi memperkuat merek di segmen yang kuat, yakni kecantikan dan produk perawatan pribadi. Perseroan juga akan fokus di segmen premium yang mencetak pertumbuhan tinggi, memperkuat penjualan di pasar tradisional, serta memperkuat infrastruktur distribusi.

“Dengan strategi ini, kami pikir Unilever bisa mencetak pertumbuhan pendapatan dan laba bersih lagi tahun ini,” tulis UBS.

Perseroan, tulis UBS, juga akan melindungi profitabilitas di tengah lonjakan harga komoditas yang berkepanjangan. Saat ini, minyak mentah dan minyak sawit mentah (CPO) berkontribusi sebesar 15% terhadap beban pokok penjualan Unilever. Adapun total biaya bahan baku mencapai 38% terhadap penjualan.

Sebagai respons atas terbangnya harga komoditas, perseroan sudah menaikkan harga jual 6%, melanjutkan hal serupa pada kuartal IV-2021, dengan level sama.

UBS menilai, rendahnya ekspektasi pasar terhadap Unilever bisa menghasilkan kejutan. Apalagi, pasar sudah memasukkan perhitungan kehilangan pangsa pasar dan margin rendah ke harga saham UNVR saat ini.

Harga saham UNVR sekarang mencerminkan proyeksi pertumbuhan pendapatan 2% per tahun dibandingkan proyeksi UBS 4% dan pertumbuhan bisnis FMCG berkisar 5-6%. Pasar juga melihat kompresi margin Unilever sebesar 300 basis poin sudah tidak bisa diselamatkan.

UBS menaikkan rekomendasi saham UNVR dari netral menjadi buy, dengan target harga Rp 4.200. Katalis penguatan saham UNVR adalah strategi jelas perseroan untuk membalikkan keadaan.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 18 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 29 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 33 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia