Penghentian Pasokan Gas Rusia Dimulai, Harga Minyak Kembali Melambung
JAKARTA, investor.id – Tim riset ICDX menyebut, harga minyak pagi ini terpantau bergerak bullish didukung oleh sinyal dimulainya penghentian pasokan gas Rusia ke Eropa yang memicu kekhawatiran akan terjadinya gangguan pasokan energi. Selain itu, komitmen dari bank sentral Tiongkok serta data positif penerbangan global memberikan dukungan lebih lanjut terhadap pergerakan harga minyak.
Perusahaan energi milik negara Rusia Gazprom pada hari Selasa mengumumkan akan menghentikan pasokan gas ke Polandia dan Bulgaria mulai Rabu pagi. Pengumuman tersebut sekaligus menandai dimulainya pemutusan pasokan gas ke pembeli Eropa. Selain itu, Gazprom juga menambahkan bahwa Polandia diharuskan untuk mulai melakukan pembayaran dengan reubel mulai hari Selasa, yang merupakan balasan menyusul tindakan Polandia yang pada hari Selasa menjatuhkan sanksi pembekuan aset terhadap 50 oligarki dan perusahaan Rusia, termasuk Gazprom.
Turut mendukung pergerakan harga minyak, Tim riset ICDX menambahkan bank sentral Tiongkok pada hari Selasa mengatakan akan meningkatkan dukungan kebijakan moneter untuk ekonominya termasuk memastikan likuiditas yang cukup dan membantu sektor-sektor yang terpukul oleh pandemi, bahkan ketika pengujian virus diperluas di Beijing. “Jaminan dari bank sentral tersebut meredakan kekhawatiran akan dampak dari putaran baru penguncian, sekaligus memberikan harapan peningkatan permintaan minyak yang didorong oleh setiap stimulus yang diberikan,” tulis tim riset ICDX dalam risetnya.
Dari sektor penerbangan dilaporkan bahwa kapasitas maskapai penerbangan global telah melonjak sebesar 2.5 juta kursi dalam sepekan hingga Senin atau level tertinggi pada 2022, dimana hampir setengah dari kapasitas tersebut berada di Tiongkok, ungkap perusahaan data perjalanan global Official Airline Guide (OAG) pada hari Selasa. OAG juga menambahkan total kapasitas maskapai penerbangan domestik dan internasional global meningkat sebesar 3.3% minggu ini menjadi 88.6 juta kursi, namun masih sekitar 20% lebih rendah dari tahun 2019.
Sementara itu, persediaan minyak mentah AS dalam sepekan melonjak naik sebesar 4.78 juta barel, ungkap laporan dari grup industri American Petroleum Institute (API) untuk pekan yang berakhir 22 April. Untuk angka resmi versi pemerintah akan dirilis malam nanti oleh badan statistik pemerintah AS, Energy Information Administration (EIA).
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$110 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$95 per barel,” tambah tim riset ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






