Bank IBK (AGRS) Tawarkan Harga Rights Issue Rp 110 Per Saham
JAKARTA, investor.id - Rencana penguatan modal yang dilakukan PT Bank IBK Indonesia Tbk (AGRS) melalui hak memesan efek terlebih dahulu yang akan dilakukan dalam penawaran umum terbatas ke IV (PUT IV) atau rights issue diharapkan bisa rampung pada Juli atau Agustus tahun ini.
”Berkaitan dengan rights issue saat ini masih dalam proses yang diperkirakan pada bulan Juli atau Agustus tahun ini,” kata Direktur Kepatuhan Bank IBK Indonesia Alexander Frans Rori dalam paparan publik, Jumat (3/6/2022).
Sebelumnya, aksi korporasi tersebut telah mendapat persetujuan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) 11 Februari lalu.
Bank IBK Indonesia untuk informasi akan menerbitkan sebanyak 10,93 miliar saham melalui penambahan modal dengan rights issue. Berdasarkan prospektus yang diterbitkan Bank IBK Indonesia, manajemen menjelaskan bahwa dalam aksi tersebut, setiap saham yang ditawarkan dengan harga pelaksanaan sebesar Rp 110 per saham, sehingga jumlah dana yang diperoleh seluruhnya berjumlah Rp 1,2 triliun.
Nantinya, setiap pemegang 499 saham lama yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham (DPS) pada 12 Juli 2022 pukul 16.00 WIB berhak atas 309 HMETD.
“Dana yang diperoleh dari PMHMETD IV, setelah dikurangi biaya-biaya emisi saham, akan digunakan seluruhnya untuk penambahan modal dalam rangka modal kerja bank, di mana seluruhnya untuk penyaluran kredit,” jelasnya.
Hingga Desember 2021, AGRS ini telah memiliki modal inti sebesar Rp 2,9 triliun. Modal inti yang dimiliki perseroan tumbuh 55% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari periode yang sama tahun 2020 sebesar Rp 1,86 triliun.
Untuk jadwal pelaksanaan, rights issue Bank IBK Indonesia dapat diperdagangkan selama 10 hari kerja, mulai 14 Juli-27 Juli 2022. Selanjutnya, pencatatan saham hasil pelaksanaan HMETD akan dilakukan di BEI dimulai pada 14 Juli 2022.
Sementara itu, tanggal terakhir pelaksanaan HMETD jatuh pada 27 Juli 2022. Dengan demikian, HMETD yang tidak dilaksanakan sampai dengan tanggal tersebut tidak akan berlaku. Adapun, Industrial Bank of Korea (IBK) selaku pemegang saham utama menyatakan akan melaksanakan sebagian haknya untuk membeli saham baru yang ditawarkan sebesar Rp 999,9 miliar saham.
Apabila setelah alokasi pemesanan saham tambahan, masih terdapat sisa saham, maka pembeli siaga akan membeli sisa saham tersebut hingga sebanyak-banyaknya Rp 22 miliar atau sebanyak-banyaknya 200 juta saham,” sambungnya.
Di sisi lain, terkait kinerja tahun 2022, Alexander menyebutkan, aset diharapkan bisa tumbuh Rp 2,9 triliun menjadi Rp 17,2 triliun di akhir tahun ini. Sementara, kredit bisa tumbuh Rp 2 triliun menjadi Rp 8,07 triliun di mana segmen kredit industri pengolahan menjadi kontribusi terbesarnya. DPK tumbuh Rp 1,5 triliun. Kemudian, laba melonjak menjadi Rp 50 miliar dari Rp 12,73 miliar pada tahun 2021 dengan NPL terjaga di 2,50%.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

