Minyak Meredup Dipicu Sinyal Positif Negosiasi Nuklir
JAKARTA, investor.id - Tim Research and Development ICDX mengatakan, mengawali pembukaan pekan pagi ini, harga minyak terpantau bergerak datar dibebani oleh sinyal positif negosiasi nuklir Iran serta isyarat pelemahan ekonomi Tiongkok. Meski demikian, ancaman gangguan pasokan di Timur Tengah serta Eropa membatasi penurunan harga lebih lanjut.
Tim Research and Development ICDX menyebut, para pemimpin AS, Inggris, Prancis dan Jerman dilaporkan sedang membahas masalah negosiasi yang sedang berlangsung terkait program nuklir Iran, ungkap pernyataan dari Gedung Putih pada hari Minggu. Situs berita Al Jazeera pada akhir pekan juga melaporkan bahwa kesepakatan nuklir Iran sudah semakin dekat. Dalam laporan lain juga dikatakan bahwa Iran siap untuk menarik tuntutan untuk menghapus Korps Pengawal Revolusi Iran dari Daftar Organisasi Teroris AS.
“Perkembangan situasi tersebut mengisyaratkan optimisme akan segera tercapainya kesepakatan nuklir Iran yang sekaligus berpotensi memberikan tambahan pasokan minyak dari Iran sebesar lebih dari 1 juta bph ke pasar global,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Senin (22/8/2022).
Baca Juga:
Harga Minyak Turun 1,5% pada Pekan IniTim Research and Development ICDX menambahkan, potensi penurunan permintaan energi dari Tiongkok akibat sinyal pelemahan ekonomi juga turut membebani pergerakan harga minyak lebih lanjut. Pemerintah Tiongkok berencana untuk memangkas suku bunga pinjaman acuan dan menurunkan referensi hipotek dengan margin yang lebih besar mulai hari Senin, dalam upaya untuk menghidupkan kembali ekonomi yang tersendat akibat krisis properti dan kebangkitan kembali kasus Covid-19.
Selain itu, Tim Research and Development ICDX menjelaskan, provinsi Sichuan di barat daya Tiongkok juga tengah dilanda krisis listrik parah akibat gelombang panas dan kekeringan ekstrem, yang memaksa pemerintah untuk melakukan penjatahan pasokan listrik. Dikhawatirkan jika gelombang panas terus berlanjut, maka krisis listrik dapat meluas ke provinsi lain seperti Zhejiang dan Jiangsu yang sebagian mengandalkan pembelian listrik dari Sichuan. Hal tersebut dapat membuat upaya Tiongkok untuk menghidupkan kembali ekonomi semakin terbebani,” tambah Tim Research and Development ICDX.
Sementara itu, Tim Research and Development ICDX mengaakan, pasukan Yaman yang didukung oleh Uni Emirat Arab pada hari Sabtu dilaporkan telah berhasil mengambil alih kantor di sektor minyak 4 di Ayaz di provinsi Shabwa selatan dan stasiun pipa dan menahan beberapa pasukan mereka. “Memanasnya situasi di Timur Tengah tersebut memberikan dukungan pada harga minyak karena berpotensi menghambat pasokan energi dari wilayah tersebut,” jelas Tim Research and Development ICDX.
Lebih lanjut Tim Research and Development ICDX mengatakan, dukungan pada harga minyak juga datang dari berita penangguhan pemuatan minyak dari jaringan pipa Caspian Pipeline Consortium (CPC) sebanyak dua dari tiga jalur di terminal Laut Hitam Yuzhnaya Ozereyevka untuk inspeksi sejak 17 Agustus, ungkap dua sumber yang mengetahui masalah tersebut pada hari Sabtu.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$95 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 85 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






