Harga Emas Catat Penurunan Bulanan Terpanjang dalam 4 Tahun
JAKARTA, investor.id - Harga emas melemah pada Rabu (31/8/2022) dan membukukan penurunan bulanan terpanjang sejak 2018, karena bank sentral utama di seluruh dunia menaikkan suku bunga agresif.
Harga emas dipasar spot melemah 0,6% menjadi US$ 1.712,56 per ons. Harga emas telah kehilangan sekitar 3% pada bulan Agustus, penurunan bulan kelima berturut-turut.
"Semakin jelas bahwa bank sentral akan agresif dengan melakukan pengetatan moneter karena tekanan inflasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, ini tidak bagus untuk emas," kata analis Oanda, Edward Moya.
Loretta Mester dari Federal Reserve AS, The Fed mengatakan bank sentral perlu menaikkan suku bunga sedikit di atas 4% pada awal tahun depan.
Sementara inflasi zona Euro melonjak ke rekor tertinggi dan segera memasuki wilayah dua digit, menandai serangkaian kenaikan suku bunga.
Emas dikenal sebagai investasi yang aman selama krisis ekonomi dan geopolitik. Namun lingkungan suku bunga tinggi membuat aset yang tidak memberikan imbal hasil kurang menarik bagi investor.
"Reaksi emas saat mendekati level kunci US$ 1.700 akan menunjukkan jumlah dukungan yang tersisa di tengah kekhawatiran resesi global dan perang Ukraina," analis Kinesis Money Rupert Rowling dalam sebuah catatan.
Investor juga mencermati data yang menunjukkan gaji swasta AS meningkat 132.000 pekerjaan pada Agustus setelah naik 270.000 pada Juli.
Sementara harga perak di pasar spot turun 2,6% menjadi US $18,00 per ons. Sepanjang Agutus melemah, perak ambles 11% dan berada jalur penurunan bulanan terbesar sejak September 2020. Adapun harga platinum turun 0,6% menjadi US$ 842,30. Palladium turun tipis 0,7% menjadi US$ 2,072,53.
Sementara itu, harga emas bergerak melemah di zona US$ 1.705.53 per troy ons. Pada Kamis (1/9/2022) pagi hari ini harga emas masih bergerak tertekan dipicu makin menguatnya indeks dolar dan yield obligasi AS (Amerika Serikat) pasca menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Emas masih belum pulih sejak awal pekan ini seiring dengan menguatnya indeks dolar yang masih bergerak di level tertingginya di zona 108.75. Indeks dolar makin terapresiasi pasca menguatnya sinyal pengetatan kebijakan dari bank sentral AS oleh Gubernur Fed Jerome Powell pada simposium perbankan global di Jackson Hole pekan lalu yang semakin membawa emas ke level terendah. Beragam pernyataan yang datang dari beberapa pejabat The Fed makin menguatkan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan yang mungkin berlangsung hingga awal tahun depan sampai inflasi dinilai berada di level rendah.
Berdasarkan riset ICDX, Kamis (1/9/2022) harga emas melemah dengan support saat ini beralih ke areal US$ 1.696,12 dan resistance terdekatnya berada di areal US$ 1.716,93. Support terjauhnya berada di areal US$ 1.690,17 hingga ke areal US$ 1.684,65, sementara untuk resistance terjauhnya berada di areal US$ 1.722,02 hingga ke areal US$ 1.727,54.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






