Meski Laba Turun, Analis Masih Berpandangan Positif terhadap Indofood (INDF)
JAKARTA, Investor.id - Meski laba bersih PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mengalami penurunan hingga semester I-2022, sejumlah analis ini masih mempertahankan rekomendasi beli sahamnya. Sedangkan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor utama penekan kinerja perseroan.
Berdasarkan data, laba bersih Indofood melemah 15,5% dari Rp 3,43 triliun menjadi Rp 2,90 triliun sepanjang semester I-2022. Sedangkan pendapatan perseroan meningkat 11,6% dari Rp 47,29 triliun menjadi Rp 52,78 triliun.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto mengatakan, penurunan tersebut dipengaruhi peningkatan beban keuangan setelah terjadi depresiasi mata uang. Berdasarkan data rugi mata uang melesat menjadi Rp 1,4 triliun pada semester I-2022, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 674 miliar.
“Kami memilih untuk merevisi turun target kinerja keaungan perseroan tahun ini. Revisi dipengaruhi atas harga jual CPO yang lebih rendah dan penurunan tingkat pertumbuhan volume penjualan. Hal ini akan membuat margin keuntungan perseroan turun,” tulisnya dalam riset terbaru.
BRI Danareksa Sekuritas merevisi turun target laba bersih Indofood menjadi Rp 7,16 triliun tahun ini, dibandingkan perkiraan semula Rp 8,81 triliun. Proyeksi pendapatan perseroan juga dipangkas dari Rp 119,11 triliun menjadi Rp 111,41 triliun pada 2022.
Revisi turun target kinerja keuangan mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi turun target harga saham INDF dari Rp 8.300 menjadi Rp 7.600 dengan rekomendasi dipertahankan beli.
Sementara itu, tim riset RHB Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham INDF dengan target harga Rp 9.700. Target tersebut tetap dipertahankan, meski realisasi laba bersih perseroan hingga Juni 2022 masih di bawah target RHB Sekuritas. Raihan laba tersebut hanya mencerminkan 36% dari target RHB Sekuritas dan masih di bawah konsensus analis.
Penurunan laba bersih perseroan, terang RHB Sekuritas, dipengaruhi atas pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Hal ini memicu kenaikan beban bunga yang harus dikeluarkan.
“Kami memperkirakan peningkatan beban bunga akan berlanjut hingga kuartal III-2022 yang berpotensi menaikkan rugi kurs perseroan,” tulis tim riset RHB Sekuritas.
Meski demikian, menurut RHB Sekuritas, kenaikan harga jual beberapa produk Indofood dalam beberapa bulan terakhir diharapkan mengimbangi kenaikan biaya produksi. Penurunan harga bahan baku juga diprediksi berlanjut seiring dengan memasuki musim panen pada paruh kedua tahun ini.
Hal ini mendorong RHB Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham INDF dengan target harga Rp 9.700. Target tersebut juga memperkirakan peningkatan laba bersih perseroan dari Rp 7,76 triliun menjadi Rp 8,37 triliun tahun ini. Sedangkan pendapatan diprediksi naik dari Rp 99,34 triliun menjadi Rp 114,20 triliun.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





