Permintaan Tiongkok Berpotensi Merosot, Harga Minyak Ikut Goyah
JAKARTA, investor.id - Tim Research and Development ICDX mengatakan, mengawali pembukaan pekan pagi ini, harga minyak terpantau bergerak bearish. Dibebani oleh proyeksi akan menurunnya permintaan minyak di Tiongkok selaku konsumen energi terbesar dunia tersebut.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, kebijakan ‘zero Covid’ yang diterapkan oleh pemerintah Tiongkok saat ini berpotensi membuat permintaan minyak merosot sebesar 380 ribu bph menjadi 8.09 juta bph pada tahun ini, menandai kontraksi pertama kalinya dalam dua dekade, ungkap laporan outlook terbaru yang dirilis oleh Energy Aspects.
Dalam pengumuman terbaru, ratusan juta penduduk Tiongkok yang biasanya melakukan aktifitas perjalanan selama Festival Pertengahan Musim Gugur - jatuh pada 10 September tahun ini - dan liburan Minggu Emas awal Oktober dihimbau untuk tetap tinggal di rumah.
“Mengutip data survei dari ForwardKeys, pemesanan untuk perjalanan udara domestik selama liburan lebih rendah 38,5% dibanding tahun lalu, dan perjalanan untuk Golden Week diproyeksikan turun 23.8% dari tahun lalu,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Senin (12/9/2022).
Dari Timur Tengah¸ Tim Research and Development ICDX mengatakan, dilaporkan bahwa pasukan revolusioner elit Iran telah menyita kapal asing di wilayah Teluk karena diduga menyeludupkan 757 ribu liter diesel, ungkap kantor berita resmi negara Iran, IRNA, pada hari Sabtu. “Berita tersebut memicu kekhawatiran akan gangguan pada jalur pelayaran di wilayah tersebut,” tambah Tim Research and Development ICDX.
Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menjelaskan, AS berpotensi mengalami lonjakan harga gas di musim dingin saat Uni Eropa (UE) secara signifikan mengurangi pembelian minyak Rusia dengan berlakunya pembatasan harga terhadap minyak Rusia, ujar Menteri Keuangan AS Janet Yellen pada hari Minggu (11/9/2022).
Turut mendukung pergerakan harga minyak, kesepakatan nuklir Iran dengan kekuatan dunia diperkirakan tidak akan mengalami perubahan sebelum memasuki masa pemilu pada bulan November, ungkap seorang pejabat Israel pada hari Minggu. Pernyataan tersebut mengindikasikan terhambatnya minyak Iran untuk kembali ke pasar minyak global dalam waktu dekat.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 90 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 80 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






