Minyak Tertekan Dibayangi Penurunan Aktifitas Perjalanan Tiongkok
JAKARTA, investor.id - Tim Research and Development ICDX mengatakan, pergerakan harga minyak pagi ini terpantau masih dibayangi oleh sentimen negatif dari pembatasan serta penguncian di Tiongkok yang dipicu oleh penyebaran infeksi Covid. Meski demikian, merosotnya stok di cadangan darurat negara AS serta sinyal hambatan atas negosiasi nuklir Iran membatasi penurunan harga lebih lanjut.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, aktifitas perjalanan yang dilakukan selama 3 hari festival pertengahan Musim Gugur Tiongkok mengalami penurunan lebih dari sepertiga dibandingkan dengan tahun lalu, ungkap laporan media pemerintah pada hari Senin. Untuk jumlah perjalanan melalui darat, laut dan udara masing-masing mengalami penurunan sebesar 37%, 15% dan 60% dibanding periode liburan yang sama tahun lalu.
“Pemerintah setempat juga telah mendesak penduduk untuk menahan diri dari perjalanan yang tidak penting menjelang liburan Hari Nasional selama seminggu pada awal Oktober dan Kongres Partai Komunis pada pertengahan Oktober,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Selasa (13/9/2022).
Tim Research and Development ICDX menambahkan, dari Eropa dilaporkan bahwa pasokan gas alam dari Rusia ke Eropa di sepanjang rute utama masih stabil. Gazprom Rusia pada hari Senin menyatakan akan memasok 42.4 juta meter kubik gas alam ke Eropa, volume tersebut tidak berubah dari hari sebelumnya. Untuk pasokan melalui jalur pipa Nord Stream 1 masih tetap ditutup hingga saat ini.
Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menambahkan, stok minyak mentah di cadangan darurat negara dilaporkan turun 8.4 juta barel pekan lalu menjadi 434.1 juta barel, yang sekaligus merupakan level terendah sejak Oktober 1984, ungkap laporan yang dirilis oleh Departemen Energi AS pada hari Senin.
Dari laporan tersebut mengindikasikan kemungkinan kecil bagi pemerintahan Biden untuk merilis minyak lebih lanjut setelah bulan Oktober. Seorang juru bicara Departemen Energi AS mengatakan bahwa pihaknya telah mengusulkan untuk segera mengisi kembali cadangan darurat negara.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, turut mendukung pergerakan harga minyak, Kanselir Jerman Olaf Scholz, pada hari Senin menyatakan keprihatinan terkait negosiasi nuklir Iran yang belum mencapai kesepakatan dan Iran tidak menanggapi seara positif atas usulan proposal yang diajukan oleh Uni Eropa (UE). Pernyataan tersebut mengisyaratkan prospek suram bagi kesepakatan nuklir untuk segera tercapai, yang sekaligus mengindikasikan tertundanya barel Iran untuk kembali ke pasar minyak global.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 93 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 83 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






