Jumat, 15 Mei 2026

BNI (BBNI) Akan Naikkan Rasio Dividen Jadi 40%

Penulis : Nida Sahara
13 Sep 2022 | 21:03 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi BNI. (Foto: Dok. BNI)
Ilustrasi BNI. (Foto: Dok. BNI)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mempertimbangkan untuk meningkatkan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) menjadi sekitar 30-40% dari perolehan laba tahun ini. Untuk pencapaian laba 2021, bank bersandi saham BBNI ini membagikan dividen dengan rasio 25% dari laba kepada pemegang saham.

“Kebijakan dividen kami akan progresif, ada rencana kami menaikkan dividend payout ratio dari tahun lalu 25%. Kami review naik tergantung kondisi modal dan profitabilitas, sekitar 30% sampai dengan 40%,” ujar Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini dalam Public Expose Live 2022, Selasa (13/9/2022).

Novita memaparkan bahwa strategi pertumbuhan perseroan dalam tiga tahun ke depan akan fokus pada tiga hal. Pertama, pertumbuhan kredit BNI di segmen korporasi akan fokus pada nasabah blue chip dengan kualitas dan outlook kinerja usaha yang baik dan secara historis telah terbukti resilient dalam menghadapi gejolak perekonomian.

ADVERTISEMENT

Kedua, pertumbuhan segmen UMKM yang mana BNI akan memperkuat pertumbuhan bisnis UMKM berorientasi ekspor, serta diaspora yang berada di luar negeri melalui program BNI Xpora dan pengembangan ekosistem dan solusi digital yang tepat bagi UMKM. Ketiga pertumbuhan bisnis segmen konsumer yang akan datang dari strategi cross selling dengan nasabah segmen korporasi dan UMKM.

“BNI akan fokus mengoptimalkan peluang bisnis seperti kredit kepemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor (KKB), dan kredit tanpa agunan (KTA) dari pemilik bisnis maupun pegawai nasabah wholesale banking,” jelas Novita.

Melalui strategi tersebut, BNI pada tahun 2025 menargetkan CAGR kredit 10%. Selain itu, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang stabil. Kemudian, pengembalian ekuitas atau return on equity (ROE) BNI akan berada di atas 18% dengan biaya kredit (cost of credit) 1%, rasio kredit macet (non performing loan/NPL) di bawah 1,5%, serta cost to income ratio (CIR) di bawah 42%.

Menurut Novita, target ROE 18% pada 2025 bisa dicapai apabila biaya kredit 1%. Selain itu, BNI juga konsisten menurunkan portofolio kredit yang berisiko tinggi ke risiko rendah, serta mengakuisisi top tier sebagai sumber pertumbuhan penyaluran kredit ke depan. “Dengan cross selling, transactional banking dan ini akan drive ke fee based kami yang akan didorong transaksi seperti sindikasi, investment memanfaatkan jaringan di luar negeri. Dengan strategi itu, target ROE 18% profitabilitas BNI jadi lebih besar,” jelas Novita.

Novita menekankan, BNI berkomitmen untuk memastikan target ROE ini dapat dicapai mulai dengan tahun ini. Terlebih, kinerja perseroan hingga semester II-2022 masih on track untuk merealisasikan pencapaian laba tertinggi dalam sejarah perseroan. “Kami melihat ada korelasi yang kuat antara tingkat ROE dengan valuasi saham dari parameter Price-to-Book Value (PBV). Maka, harapannya valuasi saham BNI ke depan akan terus meningkat dan memberikan return yang optimal bagi pemegang saham,” imbuh dia.

Novita menyampaikan, harga saham BBNI pada 30 Juni 2022 ini ditutup pada harga Rp 7.850 atau meningkat 69,5% dibanding setahun sebelumnya, jauh di atas indeks blue chip LQ45 yang tumbuh hanya sebesar 17,4% (yoy). PBV berhasil naik menjadi 1,16 kali di akhir Juni 2022. Meskipun demikian, jika dibandingkan dengan peers yang rata-rata PBV telah berada di 1,8 kali, maka posisi ini sangat atraktif untuk investasi.

Kapitalisasi pasar BNI pun meningkat menjadi Rp 146,4 triliun dibandingkan akhir Juni tahun lalu yang sebesar Rp 86,3 triliun. Posisi hingga pertengahan paruh kedua tahun ini juga masih sangat menarik. Per akhir Agustus harga BBNI ditutup Rp 8.525, atau meningkat 60,5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Kami berharap, apresiasi ini masih tetap berlanjut hingga akhir tahun seiring dengan kinerja kami yang terus tumbuh solid yang akan terus mampu memberi banyak nilai pertumbuhan yang baik bagi investor,” pungkas Novita. 

Editor: Nida Sahara

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 2 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 40 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 44 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 3 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia