Berbagai Sentimen Negatif Turut Membebani Harga Minyak
JAKARTA, investor.id - Tim Research and Development ICDX mengatakan, pergerakan Harga minyak mentah menurun pada perdagangan pagi ini ke level US$ 87,4 per barel. Hal ini karena beberapa sentiment negative turut membebani pergerakan harga minyak.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan sentiment negative tersebut mulai dari The American Petroleum Institute (API) melaporkan tingkat inventori stok minyak mentah yang meningkat sebesar 6.035M dari sebelumnya 3.645M. Selain itu, di Tiongkok, pembatasan ketat Covid-19 yang sedang berlangsung, Komisi Kesehatan Nasional mengatakan Tiongkok melaporkan 1.062 kasus baru Covid-19 pada 13 September, di mana 237 bergejala dan 825 tanpa gejala, angka ini lebih tinggi dibanding hari sebelumnya.
Baca Juga:
Minyak Turun Hampir 1%“Hal ini turut menekan permintaan minyak mentah menginat Tiongkok merupakan importir minyak terbesar dunia,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Rabu (14/9/2022).
Tim Research and Development ICDX menambahkan, turut membebani harga minyak lebih lanjut laporan inflasi AS yang lebih panas dari perkiraan pada hari Selasa sebesar 8,3% untuk bulan Agustus pada year on year (yoy). Kenaikan angka ini menghancurkan harapan bahwa The Fed dapat mengurangi pengetatan kebijakan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang sehingga dapat menjadi dukungan bagi sebagian pelaku pasar pada kebijakan The Fed terhadap nada hawkish-nya untuk kebijakan suku bunga pada pertemuan September.
Menurut wakil presiden senior BOK Financial, The Fed mungkin menaikkan suku lebih cepat dari yang diharapkan yang dapat menyebabkan sentimen 'risk back off' pada minyak mentah dan penguatan lebih lanjut terhadap dolar, minyak umumnya dihargai dalam dolar AS, sehingga greenback yang lebih kuat membuat komoditas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Meskipun demikian, Tim Research and Development ICDX menambahkan, dalam berita yang beredar Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada hari Selasa mengulangi perkiraan untuk pertumbuhan permintaan minyak global pada tahun 2022 dan 2023, mengutip tanda-tanda bahwa ekonomi utama bernasib lebih baik dari yang diharapkan meskipun ada hambatan seperti lonjakan inflasi.
Dalam rilisan laporan bulanan OPEC mengatakan permintaan minyak diperkirakan akan meningkat sebesar 3,1 juta barel per hari (bph) pada tahun 2022 dan sebesar 2,7 juta barel per hari pada tahun 2023. Selain itu, terdapat laporan bahwa pemerintahan Biden AS sedang mempertimbangkan untuk mengisi kembali cadangan minyak strategisnya, serta ekspektasi pasar yang lebih rendah untuk kebangkitan kembali kesepakatan nuklir 2015 antara Barat dengan Iran.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 84 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 90 ribu per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






