Harga CPO Merosot, Akhiri Kenaikan Tiga Hari
JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives merosot pada perdagangan Rabu (14/9/2022). Akhiri kenaikan yang telah terjadi dalam tiga hari perdagangan berturut-turut.
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Rabu (14/9/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman September 2022 turun 59 Ringgit Malaysia menjadi 3.700 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Oktober 2022 merosot 61 Ringgit Malaysia menjadi 3.775 Ringgit Malaysia per ton.
Sementara itu, kontrak pengiriman November 2022 terkoreksi 42 Ringgit Malaysia menjadi 3.856 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Desember 2022 terkikis 23 Ringgit Malaysia menjadi 3.917 Ringgit Malaysia per ton.
Serta, kontrak pengiriman Januari 2023 turun 16 Ringgit Malaysia menjadi 3.964 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Februari 2023 merugi 20 Ringgit Malaysia menjadi 4.005 Ringgit Malaysia per ton.
Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, jika dibandingkan dengan periode terkait konflik Ukraina, dapat dikatakan bahwa harga CPO sudah kembali normal, karena harganya telah berada di level sebelum terjadinya invasi Rusia ke Ukraina.
“Sedangkan untuk minggu ini, harga berpotensi bergerak pada level resistance di kisaran harga 4.250 – 4.500 Ringgit Malaysia per ton, dan apabila menemui katalis negatif, maka harga berpotensi turun menuju level support di kisaran harga 3.250 – 3.000 Ringgit Malaysia per ton,” ungkapnya kepada Investor Daily, belum lama ini.
Baca Juga:
Reformasi Sawit NasionalYoga menambahkan, untuk potensi pergerakan harga minyak nabati, kemungkinan masih akan bergerak tertekan, karena indikator yang ada saat ini di pasar masih memberikan sinyal bearish terhadap harga minyak nabati. Untuk sentimen yang dipantau antara lain perkembangan situasi Covid-19 di Tiongkok, terlebih pasca libur panjang pada akhir pekan ini dalam rangka perayaan musim gugur.
Selain itu, lanjut dia, perkembangan situasi di India juga akan menjadi fokus. Sebab, India dan Tiongkok merupakan dua negara konsumen utama dunia untuk minyak nabati. “Untuk potensi level resistance minyak kedelai berada di kisaran harga US$ 64 - 65 per bushel, dan untuk potensi level support di kisaran harga US$ 62 - 61 per bushel,” tutup Yoga.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






