Yah, Harga CPO Rontok
JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives rontok pada perdagangan Kamis (13/10/2022).
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Kamis (13/10/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Oktober 2022 naik 7 Ringgit Malaysia menjadi 3.523 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman November 2022 turun 65 Ringgit Malaysia menjadi 3.618 Ringgit Malaysia per ton.
Sementara itu, kontrak pengiriman Desember 2022 rontok 71 Ringgit Malaysia menjadi 3.665 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Januari 2023 terkoreksi 75 Ringgit Malaysia menjadi 3.701 Ringgit Malaysia per ton.
Serta, kontrak pengiriman Februari 2023 menurun 76 Ringgit Malaysia menjadi 3.739 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Maret 2023 merugi 80 Ringgit Malaysia menjadi 3.768 Ringgit Malaysia per ton.
Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, pergerakan harga CPO masih berpotensi bergerak menguat melihat dari situasi tingginya curah hujan yang berpotensi mengganggu produksi di negara produsen CPO seperti Malaysia dan Indonesia, meski demikian pergerakan harga minyak nabati yang sedang lesu berpotensi membatasi pergerakan harga lebih lanjut.
Yoga menambahkan, sentimen penggeraknya antara lain ancaman gangguan produksi CPO Malaysia akibat musim penghujan di bulan Oktober, data persediaan CPO Malaysia yang akan dirilis oleh Dewan Minyak Sawit Malaysia pada pekan ini, data ekspor CPO Malaysia periode paruh pertama Oktober, dan perkembangan kebijakan terkait ekspor CPO di Indonesia
“Untuk potensi level resistance berada di kisaran harga 4.000 – 4.250 Ringgit Malaysia per Ton. Apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi menuju level support di kisaran harga 3.600 – 3.450 Ringgit Malaysia per ton,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, belum lama ini.
Yoga menambahkan, meski dibayangi ancaman resesi global, harga CPO pada kuartal akhir tahun ini berpotensi mendapat dukungan dari situasi krisis energi global, terlebih memasuki bulan Desember nanti saat dimulainya embargo minyak Rusia oleh Uni Eropa. Permintaan akan CPO dalam bentuk biodiesel berpotensi naik karena proses peralihan sumber energi bahan bakar pengganti, khususnya di pasar Eropa.
Sedangkan sentimen yang perlu diwaspadai, Yoga menyebut mulai dari program biodiesel Indonesia, rencana India membuka perkebunan sawit, perkembangan kasus Covid-19 di Tiongkok, kondisi pasokan di pasar minyak nabati dan perkembangan krisis energi global.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






