Jumat, 15 Mei 2026

Harga CPO Rontok

Penulis : Indah Handayani
15 Nov 2022 | 05:00 WIB
BAGIKAN
Panenan sawit. Foto ilustrasi: Gora Kunjana
Panenan sawit. Foto ilustrasi: Gora Kunjana

JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives rontok pada perdagangan Senin (14/11/2022).  

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Senin (14/11/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman November 2022 turun 200 Ringgit Malaysia menjadi 3.987 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Desember 2022 merosot 200 Ringgit Malaysia menjadi 3.993 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak pengiriman Januari 2023 rontok 175 Ringgit Malaysia menjadi 4.112 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Februari 2023 kehilangan 162 Ringgit Malaysia menjadi 4.162 Ringgit Malaysia per ton.

ADVERTISEMENT

Serta, kontrak pengiriman Maret 2023 menurun 154 Ringgit Malaysia menjadi 4.176 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman April 2023 jatuh 157 Ringgit Malaysia menjadi 4.153 Ringgit Malaysia per ton.

Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan,  pekan ini harga CPO bakal bergantung pada rilisnya sejumlah data indikator di pasar, khususnya pada 15 November nanti. Untuk indikator yang dipantau antara lain rilisnya data ekspor CPO Malaysia untuk paruh pertama November, kebijakan ekspor CPO Indonesia khususnya terkait pajak ekspor dan kelanjutan program biodiesel.

“Ditambah lagi, perkembangan Covid-19 di Tiongkok, serta situasi di pasar minyak nabati,” ungkapnya kepada Investor Daily, belum lama ini.

Pekan ini, Yoga memprediksi harga CPO akan bergerak pada resistance di kisaran harga 4.500 – 4.750 Ringgit Malaysia per ton, dan support di kisaran harga 4.000 – 3.750 Ringgit Malaysia per ton.

Yoga menambahkan, lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di Tiongkok saat ini, tentu ada kekhawatiran di pasar akan turut berdampak pada penurunan permintaan tidak hanya untuk CPO namun juga minyak nabati. Hal ini dikarenakan posisi Tiongkok sebagai importir utama untuk CPO dan minyak nabati.

Sedangkan untuk pergerakan harga minyak kedelai, Yoga memprediksi berpotensi bertahan stabil cenderung bullish. Indikator yang mempengaruhi antara lain kelanjutan ekspor via Laut Hitam, ancaman La Nina di negara produsen minyak kedelai, perkembangan Covid-19 di Tiongkok, dan situasi di pasar CPO.

“Harga minyak kedelai diperkirakan akan bergerak pada resistance di kisaran harga US$ 77,5 per pound, dan level support di kisaran harga US$ 72,50 – 70 per pound,” tambah Yoga.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 20 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 52 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 1 jam yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia