RMK Energy (RMKE), Awalnya Bangun Pabrik Makanan, Lalu Terjun ke Bisnis Batu Bara
JAKARTA, investor.id - Direktur Utama PT RMK Energy Tbk (RMKE) Tony Saputra mengawali bisnis dengan membangun pabrik makanan dan minuman, sebelum memasuki sektor infrastruktur energi. Emiten yang saat ini dikenal sebagai perusahaan penyedia layanan logistik batu bara terintegrasi tersebut, awalnya mengembangkan perusahaan yang mendesain, membangun, serta melayani pabrik makanan dan minuman.
Perseroan mulai merambah bisnis batu bara, saat salah satu entitas PT Astra International Tbk (ASII) yakni PT United Tractors Tbk (UNTR) mencari kontraktor lokal untuk menggarap proyek yang berkaitan bisnis komoditas. Bermodal pengalaman membangun pabrik Daihatsu, RMKE mulai memasuki sektor batu bara, hingga akhirnya membangun Balikpapan Coal Terminal milik PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebagai subkontraktor.
"Jadi mulai cerita papah saya tidur di pabrik, kami develop ini dari rawa-rawa itu kami mengalami. Jadi kalau bicara ini ya memang hati kami passion kami di sini. Jadi kami tau," tutur Direktur Keuangan RMK Energy Vincent Saputra dalam media visit ke B-Universe, Rabu (30/11/2022).
Saat ini RMKE menyediakan layanan logistik batu bara di Sumatera Selatan yang memiliki cadangan batu bara cukup besar. "Daerah dengan cadangan terbesar di seluruh indonesia. Cuma problem-nya, akses dan infrastrukturnya terbatas. Kami mikir, apa alternatif untuk keluar (distribusi batu bara) yang kami lihat paling jangka panjang yaitu kereta api," jelas Vincent.
Saat membangun perusahaan ini, manajemen meyakini, sinergi yang dibentuk dapat menjadi satu-satunya solusi logistik berupa angkutan kereta. Infrastruktur dan layanan yang disajikan perseroan diklaim lebih menguntungkan.
Dalam jangka panjang, ketika harga komoditas turun atau tidak setinggi tahun ini, infrastruktur dari RMKE diyakini akan lebih diminati karena efektif dan efisien. Sehingga menjanjikan bisnis yang berkelanjutan (sustainable).
"Jadi tarif kami dua kali lebih rendah dari angkutan lain. Volume yang diangkut juga lebih banyak," tegas Vincent.
Dalam perkembangannya, perseroan telah membukukan pendapatan usaha Rp 1,90 triliun pada periode Januari-September 2022, melejit 121,66% secara yoy. Pertumbuhan pendapatan tersebut tercermin dari torehan laba bersih usaha perseroan yang meningkat 153,90% yoy menjadi Rp 296,37 miliar.
Pertumbuhan kinerja keuangan perseroan sepanjang kuartal III-2022 tidak lepas dari meningkatnya kinerja operasional perseroan. Dari segmen penjualan batubara misalnya, emiten bersandi RMKE ini mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 1,52 triliun, atau meningkat 160,02% secara yoy.
Kenaikan pendapatan penjualan batu bara ini didukung kenaikan volume penjualan batu bara sebesar 38,36% secara yoy menjadi 1,62 juta ton sampai September 2022. Pendapatan tersebut berkontribusi sebesar 79,53% terhadap total pendapatan RMKE.
Kemudian, laba kotor disumbang dari segmen penjualan batu bara sebesar Rp 324,17 atau meningkat 188,87% secara yoy dan berkontribusi sebesar 74,37% terhadap total laba kotor perusahaan.
Sementara dari segmen jasa batu bara, RMKE mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 389,94 miliar, tumbuh 40,91% secara yoy. Meningkatnya pendapatan penjualan batu bara didukung oleh kenaikan volume jasa batu bara sebesar 44,54% secara yoy pada kuartal III-2022.
Sampai September 2022, volume jasa batu bara mencapai 5,46 juta ton atau meningkat sebesar 21,08% secara yoy. Pendapatan tersebut berkontribusi sebesar 20,47% terhadap total pendapatan perseroan.
Adapun dari sisi laba kotor yang dihasilkan dari segmen jasa batu bara, perseroan membukukan sebesar Rp 111,72 miliar atau naik sebesar 39,51% secara yoy dan menyumbang sebesar 25,63% terhadap total laba kotor perseroan.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






