Sejumlah Negara Mulai Wajibkan Tes Covid, Minyak Kembali Meredup
JAKARTA, investor.id - Harga minyak pagi ini terpantau bergerak tertekan pada Kamis (29/12/2022). Dipicu oleh semakin bertambahnya negara yang memberlakukan kewajiban tes Covid bagi turis dari Tiongkok, dan sinyal peningkatan tensi antara Tiongkok dan AS. Meski demikian, laporan stok minyak AS memberikan dukungan yang membatasi penurunan lebih lanjut.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, di tengah upaya pemerintah Tiongkok untuk melakukan perubahan besar-besaran terkait kebijakan Covid, beberapa negara justru memberlakukan aturan perjalanan baru bagi turis dari Tiongkok. Pada hari Rabu, AS resmi menjadi negara kelima setelah India, Italia, Jepang, dan Taiwan yang memberlakukan tes Covid wajib bagi turis dari Tiongkok.
Pejabat kesehatan AS pada Rabu (28/12/2022) mengatakan, untuk kebijakan baru itu akan mulai diterapkan pada 5 Januari nanti. Di samping itu, Inggris juga mengisyaratkan untuk mengambil kebijakan serupa dan akan mengumumkannya pada hari Kamis. “Berita tersebut menjadi katalis negatif yang membebani upaya pemulihan ekonomi Tiongkok, termasuk permintaan minyak di negara konsumen terbesar kedua dunia itu,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Kamis (29/12/2022).
Tim Research and Development ICDX menambahkan, turut membebani pergerakan harga minyak, Departemen Luar Negeri AS pada hari Rabu menyatakan telah menyetujui kemungkinan penjualan sistem anti-tank ke Taiwan dengan harga sekitar US$180 juta. Berita tersebut berpotensi memicu eskalasi tensi antara Tiongkok dengan AS yang telah meningkat baru-baru ini yang dipicu oleh kegiatan militer yang dilakukan oleh Tiongkok di dekat Taiwan pada awal pekan.
Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menjelaskan, stok minyak di Cadangan Minyak Strategis dilaporkan telah merosot turun menjadi 375 juta pada pekan lalu, yang sekaligus merupakan level terendah sejak 1983, ungkap laporan yang dirilis hari Rabu oleh Departemen Energi AS. Di hari yang sama, anggota parlemen dari partai Republik memperingatkan pentingnya untuk tetap menjaga tingkat cadangan minyak darurat agar tetap tinggi guna memastikan keamanan energi dan nasional AS.
“Berita tersebut memicu harapan akan mendongkrak permintaan minyak di negara konsumen terbesar pertama dunia itu, dalam upaya mengisi kembali stok di cadangan darurat,” tambah Tim Research and Development ICDX.
Selain itu, persediaan minyak mentah AS dalam sepekan turun sebesar 1.30 juta barel, ungkap laporan terbaru yang dirilis oleh grup industri American Petroleum Institute (API) untuk pekan yang berakhir 23 Desember. Laporan tersebut mengindikasikan permintaan yang kuat di pasar energi AS. Meski demikian, pasar masih menantikan angka versi pemerintah yang akan dirilis malam nanti oleh badan statistik pemerintah AS, Energy Information Administration (EIA).
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 82 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$75 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






