Harga Minyak Menguat Terdorong Rencana Pembukaan Wilayah Tiongkok
JAKARTA, investor.id - Harga minyak Jumat pagi (30/12/2022) terpantau bergerak menguat ditopang oleh pencabutan pembatasan Covid-19 di Tiongkok dan persediaan minyak mentah AS naik secara tak terduga minggu lalu karena impor naik dan ekspor turun, Administrasi Informasi Energi (EIA) mengatakan pada hari Kamis.
Tim Research and Development ICDX mengatakan, Rumah sakit dan rumah duka Tiongkok berada di bawah tekanan kuat pada Rabu karena gelombang Covid-19 yang melonjak menguras sumber daya. Sementara skala wabah dan keraguan atas data resmi mendorong beberapa negara untuk memberlakukan undang-undang baru. aturan perjalanan pada pengunjung Tiongkok.
Dalam perubahan kebijakan yang tiba-tiba, Tiongkok bulan ini mulai membongkar Covid yang paling ketat di dunia dengan melakukan rencana pembukaan wilayah untuk mendukung ekonominya yang terpukul di jalur untuk dibuka kembali sepenuhnya tahun depan. “Proyeksi meningkatnya kembali permintaan secara keseluruhan di Tiongkok setelah langkah-langkah pembukaan kembali mendukung harga minyak,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Jumat (30/12/2022).
Namun, Tim Research and Development ICDX mengatakan, adanya pencabutan pembatasan, menyusul protes yang meluas, membuat Covid menyebar sebagian besar tidak terkendali dan kemungkinan menginfeksi jutaan orang setiap hari, menurut beberapa pakar kesehatan internasional. Amerika Serikat menjadi negara kelima setelah India, Italia, Jepang, dan Taiwan yang mengatakan akan mewajibkan tes Covid untuk pelancong dari Tiongkok.
Sementara itu penggerak positif lainnya muncul dari persediaan minyak mentah AS naik tak terduga pekan lalu karena impor naik dan ekspor turun, Administrasi Informasi Energi (EIA) mengatakan pada Kamis. Stok minyak mentah AS naik 0,718M barel dalam pekan yang berakhir 23 Desember dibandingkan dengan ekspektasi pasar sebesar merosot 1,5M juta barel dan sebelumnya turun 5,894M. laporan ini sendiri bersifat ‘positif’ dan menunjukkan ‘rebound yang kuat’ dalam permintaan minyak tersirat, mengakibatkan penarikan besar produk olahan.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 80 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 76 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






