Ada Tiga Aksi Korporasi BUMN pada 2023, Apa Itu?
JAKARTA, investor.id – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan, terdapat tiga aksi korporasi BUMN pada 2023. Aksi tersebut akan dilakukan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), PT Perkebunan Nusantara (PTPN) atau PalmCo, dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR).
Pertama, aksi korporasi PGE. Menurut Erick, hal itu dilatarbelakangi potensi geotermal di Tanah Air yang mencapai 24 gigawatt (GW) bila dikonversi menjadi listrik. Sementara, saat ini pemanfaatan geotermal untuk listrik baru di kisaran 2,4 GW oleh swasta maupun BUMN.
Dukungan terhadap pengolahan panas bumi oleh PGE ini juga bertujuan menciptakan listrik ramah lingkungan dengan harga kompetitif. Sebagai energi baru terbarukan (EBT) yang bisa menjadi suplai pembangkit beban puncak (base load), keberadaan geotermal diharapkan tidak akan menambah beban subsidi pemerintah untuk biaya produksi listrik.
“Jadi apa yang kita dorong? Dorongan dari negara-negara asing, oke kita komit 2060 net zero emission, tetapi sesuai maunya kita. Bukan maunya mereka. Kita percayalah, jangan underestimate Indonesia, kita pasti jaga lingkungan. Ini yang kita dorong, tetapi geotermalnya kita dorong juga,” papar Erick dalam media update bertema ‘BUMN 2023, Tumbuh dan Kuat Untuk Indonesia’ di Jakarta, Senin (2/1/2023).
Baca Juga:
IFG dan 8 BUMN Pendiri Dana Pensiun Teken MoU Kerja Sama Pengelolaan Dana Investasi BersamaKedua, aksi korporasi dari PalmCo. Erick menjelaskan bahwa pemerintah berniat menaikkan jumlah perkebunan kelapa sawit milik BUMN menjadi 10-15% dari total nasional. Saat ini, perkebunan kelapa sawit PalmCo hanya mencakup 3-4% jumlah nasional. Perlu diketahui, PalmCo merupakan konsolidasi perusahaan perkebunan sawit di bawah holding PTPN III.
Belajar dari kasus minyak goreng sebelumnya, Erick menilai bahwa kerja BUMN cukup berat saat harus menyeimbangkan pasar karena total perkebunan kelapa sawit yang dimiliki hanya 3%.
Namun, dia menegaskan, BUMN tak bermaksud memonopoli pasar dan pemerintah masih akan mendorong perusahaan swasta untuk berkembang. BUMN menjadi penyeimbang market yang tidak seimbang.
Ketiga, aksi korporasi Jasa Marga. “Jasa Marga harus nambah jalan tol. Karena yang namanya investasi ya semuanya,” ujar Erick.
Restrukturisasi Waskita
Kementerian BUMN memiliki rencana restrukturisasi PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Berdasarkan data, restrukturisasi Waskita yang telah berjalan sejak dua tahun lalu. Pada kuartal III-2021, emiten pelat merah ini telah menyelesaikan restrukturisasi utang senilai Rp 29,2 triliun dengan 21 bank.
Berkat hal tersebut, suku bunga pinjaman turun dari 8,75-9% menjadi 5,5% per tahun. Selain itu, jatuh tempo diperpanjang hingga 2026. Erick mengatakan, WSKT direstrukturisasi karena selain memperbaiki portofolio, juga terkait penugasan untuk pembangunan infrastruktur.
“Aksi korporasi Waskita, restrukturisasi itu bisa penyuntikan dana baru, bisa juga aset Waskita dibeli INA. Waskita seperti itu, apakah ada penyehatan, restrukturisasi plus aksi korporasi apakah itu PMN, apa dari market atau juga aset ya yang diambil oleh INA,” pungkas Erick.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






