Asing Pasti Kembali ke Saham, Cek Tanggal Mainnya
JAKARTA, Investor.id - Pemodal asing diprediksi kembali gencar masuk pasar saham domestik kuartal II-2023, didorong keluarnya laporan keuangan emiten besar kuartal I tahun ini, pembagian dividen tahun buku 2022, dan tren suku bunga acuan global dan lokal. Hal ini akan menopang pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG), yang selama ini dimotori saham blue chip dengan market cap di atas Rp 10 triliun.
Sejak 28 November 2022 hingga penutupan perdagangan tahun lalu, asing terus melepas saham. Pada periode itu, merujuk data Bursa Efek Indonesia (BE), jual bersih (net sell) investor asing di saham mencapai Rp 18,8 triliun. Namun, sepanjang 2022, asing masih mencetak beli bersih (net buy) di pasar saham domestik, yakni sebesar Rp 60,6 triliun.
Tren ini masih berlanjut pada perdagangan saham perdana tahun ini, Senin (2/1/2023). Kemarin, asing masih net sell saham sebesar Rp 299 miliar.
Sebaliknya, asing gencar masuk pasar surat berharga negara (SBN) sejak akhir Oktober 2022 hingga tutup tahun. Pada periode itu, pemodal asing mencetak net buy di SBN. Akan tetapi, sepanjang tahun lalu, asing masih net sell di SBN sebesar Rp 129 triliun, akibat aksi jual masif awal Februari 2022.
Keluarnya dana asing dari pasar saham menekan harga saham blue chip dan indeks LQ45. Kemarin, indeks LQ45 yang dihuni saham-saham blue chip terpangkas 0,22% ke level 935. Salah satu saham LQ45 yang turun tajam adalah PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), sebesar 6,75% ke level Rp 3.590, setelah cum dividen interim berlalu, yakni 30 Desember 2022. Adaro akan membagikan dividen interim sebesar total US$ 500 juta pada 13 Januari 2023.
Sebaliknya, saham lapis dua dan tiga dengan kapitalisasi pasar di bawah Rp 10 triliun malah berkibar. Mereka menguasai papan top gainers.
Berdasarkan data BEI, saham PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) menjadi saham dengan kenaikan harga tertinggi, sebesar 24,8% ke level Rp 332. Market cap ALKA mencapai Rp 168 miliar, merujuk data RTI.
Selanjutnya, saham PT Trust Finance Indonesia Tbk (TRUS) berada di peringkat kedua dengan kenaikan 22,8% ke level Rp 430, lalu PT Singaraja Putra Tbk (SINI) 21,2% menjadi Rp 1.340, PT Wulandari Bangun Laksana Tbk (BSBK) 14,7% menjadi Rp 171, PT Batavia Prosperindo Trans Tbk (BPTR) 13,9% ke level Rp 220.
Kemudian, saham PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) naik 13,7% menjadi Rp 116, PT Gaya Abadi Sempurna Tbk (SLIS) 11,9% menjadi Rp 282, PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) 11,5% menjadi Rp 308, PT Segar Kumala Indonesia Tbk (BUAH) 10,1% menjadi Rp 960, dan PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) 10% menjadi Rp 88.
Akan tetapi, di tengah tekanan ke saham blue chip, indeks harga saham gabungan (IHSG) mampu menguat tipis, sebesar 0,01% ke level 6.850, setelah tertekan sebelum penutupan perdagangan. Namun, nilai transaksi saham hanya Rp 5,5 triliun, jauh di bawah rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) 2022 hingga 29 Desember sebesar Rp 14,7 triliun.
Cermati Tren Global
Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Roger MM menilai, saat ini, investor masih mengamati perkembangan pasar global dan data-data ekonomi baru keluar pada awal Januari 2023. Itu sebabnya, terjadi anomali di pasar saham, terlihat pada menggeliatnya saham lapis dua dan tiga, sedangkan blue chip terkapar.
Di level global, Roger menuturkan, ketegangan di Eropa yang belum kunjung surut telah menimbulkan memicu inflasi dan ancaman resesi global, sebagai efek dari kenaikan suku bunga acuan secara agresif di beberapa negara. Ini membuat investor lebih wait n see dalam mengambil keputusan investasi.
Selain itu, penurunan nilai transaksi harian yang belakangan ini terlihat menandakan kurang bergairahnya pasar saham domestik. "Fenomena ini yang membuat saham saham third liner ‘manggung’. Selain itu, sentimen positif di market minim, sehingga sebagian investor melirik saham lapis tiga," kata Roger kepada Investor Daily.
Namun, memasuki kuartal II-2022, Roger memperkirakan, saham-saham blue chip papan atas kembali bergairah, seiring dengan datangnya earning season dan musim pembagian dividen yang diprediksi terjadi pada kuartal II.
Bersamaan dengan itu, Roger melihat, investor asing akan mulai kembali masuk pasar saham pada kuartal II-2023. Ini berkaitan dengan beberapa agenda strategis emiten, seperti lapporan kinerja keuangan kuartal I-2023 dan dividen tahun buku 2022.
Tapi di luar itu, dia menilai, kembalinya asing ke pasar saham domestik akan berhubungan erat dengan kondusivitas pasar dan kenaikan suku bunga acuan. Apalagi, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed diprediksi masih bisa menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps. Ini bisa memicu kaburnya modal asing (capital outflow) dari pasar keuangan domestik, bisa saham dan obligasi.
Di sisi lain, dia menuturkan, Bank Indonesia (BI) berencana mengimbangi kenaikan suku bunga The Fed dengan menaikkan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) untuk mencegah pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan meminimalisir dampak capital outflow. Saat ini, BI7DRR mencapai 5,5%.
"Jika kenaikan bunga The Fed sudah sesuai target dan kondisi market kondusif, asing akan bertahap kembali ke pasar saham Indonesia. Tentu, ini perlu didukung dengan data perekonomian Indonesia yang kuat," tutup Roger.
Sebelumnya, Direktur Equator Swarna Capital Hans Kwee menuturkan, pada awal tahun 2022, asing sempat keluar dari pasar SBN dan mencatatkan inflow pasar saham berkisar Rp 70-80 triliun. Adapun outflow di pasar SBN cukup besar, yang menyebabkan rupiah melemah.
Dia menambahkan, penurunan rupiah tidak menyebabkan yield SBN melemah banyak, lantaran kepemilikan asing di SBN tidak terlalu signifikan. Ini memicu investor asing beralih membeli SBN dari sebelumnya saham.
Editor: Harso Kurniawan
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now


