Minyak Kembali Bullish Seiring Melonjaknya Aktifitas Perjalanan Tiongkok
JAKARTA, investor.id - Mengawali pembukaan pekan pagi ini, harga minyak terpantau kembali bullish di dukung oleh sentimen dari melonjaknya aktifitas perjalanan di Tiongkok menyusul pembukaan kembali perbatasan, yang ikut meningkatkan prospek permintaan bahan bakar di negara konsumen minyak terbesar kedua dunia tersebut.
Tim Research and Development menjelaskan, Tiongkok pada hari Minggu kembali mengeluarkan paspor dan visa perjalanan untuk penduduk daratan, dan visa biasa dan izin tinggal untuk orang asing, menyusul pembukaan perbatasan secara resmi pada hari Sabtu, bersamaan dengan dimulainya ‘Chun Yun - 春运’.
Sebelum pandemi, ‘Chun Yun’ merupakan aktifitas perjalanan tahunan terbesar di dunia, yang dimulai pada 15 hari sebelum Tahun Baru Imlek dan berlangsung selama 40 hari (biasanya dari pertengahan Januari hingga akhir Februari). “Diperkirakan sekitar 2 miliar perjalanan akan terjadi pada musim ini, atau hampir dua kali lipat dari tahun lalu, dan pulih hingga 70% dari level 2019, ungkap pernyataan resmi pemerintah,” tulis Tim Research and Development dalam risetnya, Senin (9/1/2023).
Tim Research and Development menambahkan, turut mendukung pergerakan harga lebih lanjut, Departemen Keuangan AS pada hari Jumat menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran yang menargetkan enam eksekutif dan anggota dewan Industri Penerbangan Qods Iran (QAI), juga dikenal sebagai Industri Desain dan Manufaktur Pesawat Ringan. Sanksi terbaru dari AS tersebut memberikan tekanan lebih lanjut terhadap perekonomian Iran yang saat ini masih dibayangi oleh sanksi sebelumnya dari AS, yang sekaligus berpotensi membuat pasar energi Iran ikut terbebani.
Sementara itu, Tim Research and Development menjelaskan, Departemen Energi AS dilaporkan telah menolak usulan untuk mengisi kembali stok di Cadangan Minyak Strategis, yang rencananya untuk gelombang pertama pengisian akan dilakukan pada bulan Februari, ungkap juru bicara Departemen Energi pada akhir pekan lalu.
Padahal, Presiden Joe Biden mengatakan akan membeli kembali minyak untuk mengisi kembali stok saat harga minyak mencapai sekitar US$ 70 per barel. Berita tersebut meredupkan harapan akan peningkatan permintaan AS dalam waktu dekat, namun di saat yang sama juga memicu kekhawatiran akan keamanan stok minyak di cadangan darurat yang saat ini telah menyentuh level terendah sejak 1984.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 78 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 71 per barel,” tutup Tim Research and Development.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






