Dibayangi Pesimisme Proyeksi Harga, Minyak Bergerak Bearish
JAKARTA, investor.id - Harga minyak Rabu pagi (11/1/2023) terpantau bergerak bearish. Dibebani oleh sentimen dari proyeksi harga minyak yang bernada pesimis dari EIA dan Barclays. Selain itu, lonjakan drastis stok minyak AS juga turut membebani pergerakan harga lebih lanjut.
Tim Research and Development menjelaskan, dalam laporan Prospek Energi Jangka Pendek untuk bulan Januari 2023 yang dirilis hari Selasa, Energy Information Administration (EIA) memperkirakan rata-rata harga minyak mentah Brent pada tahun 2023 akan mencapai US$ 83 per barel, turun 18% dari US$100.94 per barel pada tahun 2022, dan akan terus turun ke level US$ 78 per barel pada tahun 2024.
Dalam laporan yang dirilis bulan lalu, EIA sempat merilis proyeksi harga Brent untuk 2023 yang diperkirakan akan mencapai level US$ 92,30 per barel. EIA mengatakan alasan untuk merevisi turun proyeksi harga tersebut dipicu oleh pasokan minyak global yang diperkirakan akan mencapai rata-rata 102.8 juta bph pada 2023.
“Sehingga memberikan tekanan ke bawah pada harga minyak mentah,” tulis Tim Research and Development dalam risetnya, Rabu (11/1/2023).
Tim Research and Development menambahkan, turut membebani pergerakan harga minyak, Barclays pada hari Selasa memperingatkan risiko penurunan harga minyak mentah global sebesar US$ 15 - 25 per barel dari perkiraan harga saat ini yang mencapai US$ 98 per barel.
Barclays mengaitkan risiko penurunan tersebut dengan kemungkinan berlanjutnya perlambatan dalam aktivitas manufaktur global yang akan memburuk serupa dengan kondisi pada tahun 2008 - 2009, yang berpotensi mengurangi permintaan minyak hingga sekitar 1 - 2 juta bph.
Meski menyoroti soal potensi risiko penurunan, Barclays juga tidak menghapus potensi peningkatan permintaan dari pembukaan kembali Tiongkok, yang diperkirakan akan mendorong permintaan minyak Tiongkok meningkat sebesar 1.1 juta bph pada tahun ini.
Tim Research and Development menjelaskan, dari sisi pasokan, grup industri American Petroleum Institute (API) melaporkan persediaan minyak mentah AS dalam sepekan melonjak drastis sebesar 14.87 juta barel atau melonjak empat kali lipat dari pekan sebelumnya. Selain itu, dalam laporan untuk pekan yang berakhir 6 Januari itu, stok bensin juga dilaporkan naik sebesar 1.83 juta barel.
“Laporan API tersebut mengindikasikan permintaan yang sedang lesu di pasar energi AS. Meski demikian, pasar masih menantikan laporan resmi versi pemerintah yang akan dirilis malam nanti oleh EIA,” tambah Tim Research and Development.
Sementara itu, Tim Research and Development menagtakan, negara anggota G7 berencana menetapkan dua batasan harga untuk produk turunan minyak Rusia yang akan mulai diberlakukan pada 5 Februari, batas pertama akan diberlakukan untuk solar dan minyak tanah, dan batas kedua untuk jenis produk yang lebih murah, seperti bahan bakar minyak. Meskipun tarif spesifik masih dinegosiasikan, namun beberapa pejabat Eropa mewaspadai pembatasan itu akan memicu kelangkaan solar.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 77 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 72 per barel,” tutup Tim Research and Development.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






